Oleh : Fauzan Azima*
Di kampung kami, ada satu tokoh yang terkenal lebih cepat menemukan jalan keluar daripada mencari jalan masuk. Namanya Awan Prado.
Kalau orang lain berpikir sepuluh kali sebelum bicara, Awan Prado cukup sekali. Anehnya, justru yang sekali itulah sering membuat orang berpikir sepuluh hari.
Suatu sore, ketika kopi mulai mengepul dan daun pinus menggesek ditiup angin, seseorang bertanya kepada Awan Prado.
“Bang, apa ciri pemimpin yang mulai kehilangan arah?”
Awan Prado tersenyum.
“Bukan yang tidak punya ilmu. Ilmu masih bisa dicari. Yang bahaya itu kalau kemarahan lebih cepat keluar daripada akal.”
Semua yang duduk di warung kopi terdiam.
Awan Prado melanjutkan.
“Dalam hidup ini, orang cerdas marahnya mahal. Orang yang kurang bijaksana, marahnya murah.”
Lalu ia menyebut sebuah ungkapan yang langsung membuat seluruh warung kopi tertawa.
“Jema ogah murah bengis.”
Artinya kurang lebih, orang yang miskin kebijaksanaan sering kali murah mengeluarkan amarah.
Ungkapan itu bukan untuk menghina siapa pun. Itu adalah peringatan agar setiap orang menjaga akal sehat sebelum membiarkan emosi mengambil alih.
Dalam falsafah Gayo, seorang reje bukan sekadar orang yang duduk di kursi kekuasaan. Ia adalah tempat rakyat menitipkan ketenangan. Kalau pemimpin mudah tersinggung, bawahan akan bekerja dengan rasa takut. Kalau pemimpin mudah marah, yang berkembang bukan kreativitas, melainkan budaya mencari muka.
Orang yang setiap hari sibuk menjaga perasaan atasannya, akhirnya lupa menjaga kepentingan masyarakat.
Di sinilah orang tua Gayo mengingatkan dengan istilah yang sangat dalam:
“Reje muremok umahni menteri.”
Maknanya, seorang pemimpin jangan sampai merobohkan rumah para pembantunya sendiri. Bukan rumah dalam arti bangunan, melainkan kepercayaan, harga diri, semangat bekerja, dan hubungan yang seharusnya dijaga.
Karena seorang pemimpin tidak mungkin bekerja sendirian.
Kalau setiap bawahan diperlakukan sebagai lawan, siapa lagi yang akan menjadi kawan?
Kalau setiap kritik dianggap permusuhan, siapa lagi yang berani menyampaikan kenyataan?
Kalau setiap perbedaan pendapat dibalas dengan kemarahan, yang tersisa hanyalah orang-orang yang pandai mengangguk.
Padahal, pemerintahan tidak pernah maju karena banyak orang mengangguk.
Pemerintahan maju karena ada orang yang berani mengingatkan ketika arah mulai melenceng.
Awan Prado kemudian mengaduk kopinya perlahan.
“Kalau reje setiap hari marah, yang capek bukan rakyat saja. Menteri-menterinya juga mulai sibuk menebak suasana hati daripada menyelesaikan pekerjaan.”
Warung kopi kembali pecah oleh tawa. Namun tawa itu menyimpan kegelisahan. Sebab sejarah mengajarkan, banyak kekuasaan runtuh bukan karena musuh terlalu kuat, tetapi karena pemimpinnya sendiri sibuk merusak orang-orang yang selama ini berdiri di sisinya.
Pemimpin yang matang tidak diukur dari seberapa keras suaranya. Ia diukur dari seberapa tenang ketika menghadapi perbedaan.
Ia tidak merasa kecil karena dikritik. Ia justru membesar karena mampu mendengarkan. Barangkali, inilah pelajaran yang ingin disampaikan Awan Prado.
Bahwa marah memang manusiawi. Tetapi menjadikan kemarahan sebagai cara memimpin adalah tanda bahwa kebijaksanaan sedang meninggalkan singgasananya.
Dan ketika kebijaksanaan pergi, jabatan hanyalah kursi. Sedangkan kepemimpinan sejati tetap tinggal di hati rakyat.
Bersambung ke bagian 5…
(Mendale, Juli 17, 2026)





