Bagi Hasil dan Penayah (Upah) dalam Pemeliharaan Ternak

oleh

Oleh: Dr. Jamhuri Ungel, MA*

Membaca sejarah perkembangan masyarakat Gayo dari awal, maka kita dapatkan bahwa masyarakat Gayo hidup sebagai petani, utamanya adalah petani sawah.

Hal ini bisa kita lihat dari bukti-bukti yang ada, bahwa perkampungan awal yang ada dalam masyarakat Gayo dikelilingi sawah-sawah seperti halnya kita lihat Kampung Kebayakan yang merupakan kampung pertama dalam sejarah di seputaran Danau Laut Tawar, di mana kampung tersebut dikelilingi oleh sawah, sehingga sampai pada masa modern orang Gayo masih mengenal dengan istilah oros Kebayakan.

Di samping mereka tinggal di daerah Kebayakan, mereka memperluas usaha mereka sebagai petani sawah ke seputaran Danau Laut Tawar, seperti halnya di daerah Bintang, kemudian daerah Toweren, dan lain-lain. Ini sebagai bukti bahwa ketika awal masuk ke daerah seputaran Danau Laut Tawar, mereka adalah sebagai petani sawah.

Selanjutnya, ketika mereka membuka perkampungan baru ke wilayah Telong, yakni Bener Meriah sekarang, kampung yang awal ditemukan adalah Kampung Telong atau Redelong, di mana letak kampung tersebut juga dikelilingi oleh sawah-sawah dan sungai sebagai sumber air untuk sawah-sawah tersebut.

Kemudian juga demikian halnya dengan Kampung Gunung Teriti yang di sekitarnya juga terdiri dari sawah-sawah masyarakat. Kemudian satu kampung lagi adalah Kampung Tingkem yang juga di sekitarnya terdiri dari sawah-sawah. Ini adalah bukti nyata yang bisa kita lihat bahwa kehidupan masyarakat Gayo diawali dengan bertani sawah.

Sebagai alat pendukung untuk bertani sawah, masyarakat Gayo memelihara ternak. Ternak yang paling dominan dan utama dipelihara oleh masyarakat Gayo adalah kerbau.

Banyak kerbau yang dipelihara oleh masyarakat Gayo, sehingga orang-orang awal dari masyarakat Gayo ketika melaksanakan ibadah, umpamanya berangkat haji, mereka menjual kerbau.

Di antaranya juga adalah ketika mereka membeli kebun atau juga sawah, banyak di antara mereka menjual ternak kerbau yang mereka pelihara.

Sedangkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lain mereka jarang menjual ternak, sehingga dengan berjalannya waktu ternak mereka semakin hari semakin banyak. Bahkan ada di antara mereka yang mempunyai ternak sampai kepada ratusan ekor.

Sistem Bagi Hasil

Ada sebagian dari masyarakat Gayo yang memiliki ternak kerbau, namun mereka tidak sempat untuk memeliharanya.
Karena itu, ternak kerbau tersebut diserahkan kepada orang lain untuk dipelihara.

Namun, ketika pemilik kerbau tersebut membutuhkan tenaga dari kerbau yang dia miliki, maka orang yang memelihara mempekerjakan kerbau tersebut di sawah pemilik kerbau dengan tidak diberi upah.

Kemudian, apabila si pemilik kerbau tidak memiliki sawah, maka pemelihara kerbau itu merawat kerbau tersebut sebagaimana kerbau dia sendiri.

Artinya, ketika harus dibawa ke kampung untuk membajak sawah, maka kerbau itu diambil dari tempat peternakannya untuk mengerjakan sawah milik pemelihara kerbau.

Apabila selesai bersawah, maka kerbau tersebut diantar kembali ke tempat pemeliharaan yang dalam bahasa Gayo disebut dengan peruweren.

Untuk hal ini ada sebuah tradisi atau kesepakatan di dalam masyarakat Gayo bahwa antara pemilik kerbau dan pemelihara kerbau ada sebuah perjanjian dalam pembagian ternak tersebut.

Pembagian ternak tersebut tidak dilaksanakan berdasarkan lamanya waktu, apakah pembagiannya harus satu tahun, dua tahun, atau yang lainnya, tetapi pembagian itu biasanya dibagi dari jumlah yang dihasilkan dari kerbau tersebut.

Umpamanya, ketika pembagiannya dibagi dua, maka anak yang pertama untuk pemilik kerbau dan anak yang kedua untuk pemelihara kerbau.

Tata cara pembagian hasil dari pemeliharaan kerbau ini, apabila pembagiannya dibagi tiga, maka anak pertama tetap untuk pemilik kerbau, sedangkan anak yang kedua untuk pemelihara kerbau dan yang ketiga kembali untuk pemilik kerbau.

Ini adalah sistem yang dianut dalam pembagian hasil ketika pemeliharaan kerbau itu dilakukan oleh masyarakat. Pembagian ini boleh jadi berubah dalam perkembangan masanya, karena ketika kerbau itu semakin banyak jumlahnya, maka pembagian itu boleh jadi berubah dari bagi dua atau bagi tiga, bahkan boleh jadi bagi empat, dan seterusnya.
Penayah

Selanjutnya adalah tentang penayah (upah). Banyak dari masyarakat Gayo yang memiliki kerbau, beliau juga sebagaimana yang disebutkan di atas sebagai petani sawah, di mana sawah-sawah mereka dikerjakan atau dibajak dengan menggunakan kerbau.

Sehingga pada saat musim bersawah, kerbau harus diambil dari penggembalaan atau peruweren, kemudian membajak sawah dalam waktu yang boleh jadi seminggu, dua minggu, sampai satu bulan.

Sesudah itu, kerbau-kerbau tersebut diantar kembali ke penggembalaannya. Jadi, waktu di tempat penggembalaan jauh lebih lama daripada waktu untuk membajak sawah. Karena itu diperlukan ada orang yang menjaga kerbau tersebut di daerah peruweren.

Untuk mereka yang menjaga kerbau di daerah peruweren, tidak dilakukan pembagian seperti halnya pemelihara kerbau, tetapi pemilik kerbau memberi penayah (upah) kepada penjaga kerbau dengan beras atau boleh jadi dengan uang.

Namun, karena pada saat itu masyarakat Gayo sebagai petani, maka upah yang paling sering dan paling banyak diberikan adalah berupa beras. Jumlah upah yang diberikan kepada pekerja itu sangat tergantung kepada kesepakatan di antara pemilik kerbau dengan penjaga kerbau.

Boleh jadi diberikan dalam waktu bulanan, tiga bulanan, bahkan ada yang sampai pembagiannya ketika sawah itu panen. Inilah kejadian atau realita yang terlihat dalam masyarakat Gayo tentang pengupahan dalam penjagaan kerbau.

Mereka yang menjaga kerbau biasanya tinggal di daerah peruweren itu sepanjang tahun, kecuali ketika kerbau diantar atau dibawa pulang ke kampung. Mereka tinggal bersama keluarga di tempat peruweren tersebut.

Boleh jadi yang tinggal tersebut adalah orang yang belum punya anak atau orang-orang yang sudah mempunyai anak, namun anak-anak mereka sudah besar sehingga mereka bisa meninggalkan keluarga di kampung. Mereka menjaga kerbau orang lain untuk mendapatkan upah sebagai biaya hidup mereka sehari-hari.

Sejarah lain bisa kami tambahkan dalam tulisan ini, yaitu mereka-mereka yang tinggal di daerah peruweren inilah atau yang menjaga kerbau inilah pertama membuat kampung-kampung atau lahan pertanian di daerah peruweren, sehingga lama-kelamaan daerah peruweren itu didapatkan adanya sawah-sawah di sekitarnya atau sebagian dari daerah peruran itu menjadi sawah atau kebun masyarakat. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.