Oleh : Wien Khakleri, M.Pd (Mahasiswa Doktoral UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Belakangan ini, ruang publik digital kita disuguhi oleh sebuah fenomena sosial yang amat menggetarkan hati sekaligus membuat kita terheran-heran. Di tengah riuhnya linimasa media social mulai dari Facebook, WhatsApp, hingga Instagram sosok Sahrial Abadi hadir menjadi perbincangan hangat.
Beliau adalah inisiator di balik pembukaan kembali jalur Tajuk Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah yang sempat terhenti akibat bencana.
Meskipun pengerjaan jalan baru selesai beberapa persen dan belum rampung sepenuhnya, jalur darurat ini sudah langsung memberikan manfaat yang teramat besar.
Di tengah proses pengerjaan yang sedang berlangsung, akses tersebut telah mulai dilintasi oleh rombongan kepulangan jemaah haji Aceh Tengah serta menjadi jalur penyelamat bagi mobil ambulans yang membawa orang-orang sakit menuju rumah sakit rujukan.
Menyaksikan kemanfaatan instan yang langsung dirasakan oleh jemaah haji dan taruhan nyawa di dalam ambulans tersebut, inilah alasan mendalam yang begitu menyentuh hati bersama.
Menariknya, viralnya gerakan swadaya ini berhasil mengumpulkan donasi masyarakat hingga menembus angka yang fantastis: lebih dari Rp 1 miliar.
Sebuah capaian yang membuat siapa pun berdecak kagum, mengingat dana raksasa ini murni lahir dari patungan sukarela masyarakat, bukan dari anggaran pemerintah ataupun sponsor korporat.
Pancaran empati dan ketulusan luar biasa inilah yang berhasil menggerakkan hati nurani publik. Di era egoisme modern saat ini, Sahrial Abadi muncul dengan prinsip yang kian langka: memikirkan kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi.
Tanpa terjebak dalam narasi saling menyalahkan, beliau mengambil langkah konkret. Bahkan, demi memastikan alat berat bisa terus bekerja membuka akses hajat hidup orang banyak, beliau rela mengorbankan harta pribadinya, termasuk menjual tanah kebunnya sendiri.
Fenomena kebaikan massal ini seakan menjadi manifesto nyata dari firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 261, bahwa harta yang diinfakkan di jalan kebaikan tidak akan pernah berkurang, melainkan tumbuh berlipat ganda laksana sebutir benih yang menumbuhkan ratusan buah keberkahan. Ketulusan niat yang murni inilah yang pada akhirnya mengetuk pintu langit dan menggerakkan seisi bumi.
Jika kita bedah secara mendalam, gerakan swadaya ini berhasil menggugah kebaikan masyarakat secara massal karena faktor-faktor inti berikut:
Pertama, Gelombang Keikhlasan dan Solidaritas Lintas Batas. Keikhlasan Sahrial Abadi terbukti menjadi magnet solidaritas yang luar biasa kuat dan meluas. Di lokasi, kita menyaksikan pemandangan yang amat mengharukan: dukungan mengalir tanpa sekat dari seluruh lapisan masyarakat Gayo dan Aceh, mulai dari pengurus masjid, Wakil Rakyat, ibu-ibu Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), tokoh masyarakat, perwakilan pemuda, hingga kelompok ibu pengajian.
Namun, riak kebaikan ini tidak berhenti di batas wilayah. Daya ketuk gerakan ini nyatanya meluas secara nasional. Kita melihat bagaimana para pengunjung dan pelintas jalan yang lewat spontan berhenti untuk ikut menyumbang, disusul oleh mengalirnya donasi dari para dermawan di luar Aceh, serta berbagai forum komunitas luar daerah yang ikut bergerak menggalang dana demi Tajuk Enang-Enang.
Suasana di lapangan dan di ruang digital berubah menjadi altar silaturahmi akbar kemanusiaan di mana orang-orang lintas daerah bersatu mengirimkan harta terbaik mereka demi mendukung sang inisiator.
Kedua, Detik-Detik Sakral Sebelum Pemotongan Pita. Puncak dari seluruh getaran spiritual dan budaya ini terjadi sesaat sebelum tali pita peresmian dibuka.
Suasana mendadak larut dalam keharuan yang mendalam ketika warga yang hadir bersatu menghibur dan menguatkan perjuangan Sahrial Abadi lewat senandung hiburan rakyat, lantunan syair-syair Gayo, dan gemuruh Didong Gayo yang sarat makna perjuangan, disusul gema shalawat yang menggetarkan udara Enang-Enang.
Di tengah gemuruh doa dan seni tutur itu, air mata sang ibu tumpah karena haru melihat perjuangan sang anak. Restu dan air mata seorang ibu, yang diperkuat oleh gema shalawat, menjadi magnet terbesar bagi ketukan pintu langit.
Terlebih lagi, Allah SWT menggerakkan hati ulama kharismatik Aceh yang dijuluki “Bapak Anak Yatim”, yaitu Abiya Jeunieb, untuk hadir langsung memberikan doa, tausiyah, dan dukungan di lokasi. Kehadiran sosok ulama pengayom anak yatim ini laksana stempel “restu langit” yang menegaskan bahwa gerakan pembukaan jalan ini adalah sebuah jihad sosial yang dipenuhi keberkahan dan membawa maslahat dunia-akhirat bagi umat.
Ketiga, Peran Sentral Tim Kreator dan Media Sosial. Angka lebih dari Rp 1 miliar ini tidak akan pernah tercapai tanpa adanya peran tim kreator di balik layar. Merekalah yang dengan cerdas, jujur, dan konsisten mendokumentasikan setiap jengkal keringat, tetesan air mata, dan kebersamaan di lapangan.
Melalui video, foto, dan narasi yang mereka unggah, publik disuguhkan transparansi nyata sekaligus larutan emosi yang kuat. Tim kreator ini berhasil mengubah fungsi media sosial dari ruang debat kusir menjadi infrastruktur kebaikan lintas provinsi dan jembatan amal jariyah massal yang melintasi batas geografis.
Seperti kalam bijak Imam Hasan al-Bashri: “Apa yang keluar murni dari hati yang tulus, akan langsung menancap ke dalam hati manusia lainnya.” Jalur Tajuk Enang-Enang kini memang telah kembali terbuka untuk dilewati kendaraan.
Namun jauh di luar itu, ada jalan lain yang jauh lebih besar yang telah dibuka: yaitu jalan hidayah yang menggugah kembali benih-benih kebaikan, kebersamaan, dan sifat kedermawanan di dalam hati kita semua.
Sahrial Abadi dengan ketulusannya adalah pemantiknya; masyarakat luas bahkan hingga luar daerah dengan untaian donasi, didong, syair, dan shalawatnya adalah penguatnya; tim kreator adalah penyambung lidahnya; kehadiran Abiya Jeunieb sang “Bapak Anak Yatim” adalah payung keberkahannya; namun Allah-lah Sang Maha Penggerak hati umat sehingga gerakan yang awalnya dinilai berat itu kini menjadi nyata di Tanoh Gayo. []





