Oleh: Wien Khakleri, M.Pd (Mahasiswa Doktoral UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Di bawah kepungan kabut tebal yang menyelimuti dataran tinggi Gayo, ada sebuah rutinitas yang berjalan dengan kepasrahan yang purna.
Di pondok-pondok kayu kecil yang berdiri di antara rimbunnya tanaman kopi, bentangan daun tembakau, serta hijaunya pohon alpukat, hari selalu dimulai lebih awal.
Ketika dinginnya embun pagi masih menusuk hingga ke tulang dan suara jangkrik perlahan memudar digantikan kokok ayam, riuh rendah suara cangkir beradu dan kepulan asap dari dapur tungku menjadi latar belakang dari sebuah dialog domestik yang sakral.
Di pondok kebun itulah, esensi terdalam dari sebuah perjuangan hidup dirumuskan. Di balik dinding papan yang bersahaja, tersimpan sebuah rahasia besar: masyarakat agraris Gayo menaruh harapan yang teramat luas pada institusi pendidikan.
Bagi mereka, menyekolahkan anak hingga ke tingkat tertinggi bukanlah sekadar tren sosial atau pelarian dari realitas, melainkan sebuah ikhtiar spiritual dan kultural yang mendalam.
Bagi masyarakat luar, pondok kebun mungkin hanya dilihat sebagai tempat transit sementara untuk melepas lelah selepas memanen atau memupuk.
Namun, bagi orang Gayo, pondok tersebut adalah saksi bui dari jutaan helaan napas, kalkulasi keuangan yang rumit, dan untaian doa yang dilambungkan ke langit.
Di sinilah para orang tua, dengan jemari yang mengeras oleh parang, baju yang bernoda getah alpukat, dan aroma khas daun tembakau yang dijemur, melipat tangan mereka setiap malam di tengah kesunyian alam gunung.
Doa-doa yang lahir di pondok kebun memiliki getaran yang berbeda. Mereka tidak meminta kekayaan yang berlimpah untuk diri mereka sendiri.
Doa mereka sangat spesifik: agar musim ini berpihak, agar hasil jerih payah mereka mengumpulkan hasil bumi cukup untuk membayar biaya semesteran anak.
Maka, setiap pekan, mereka mengikat erat sekeranjang terong belanda yang ranum, mengumpulkan ikatan demi ikatan pucuk labu siam (pucuk jepang) yang segar, serta memanen daun sop dan daun bawang dari sela-sela bedengan tanah untuk dibawa ke pasar-pasar lokal.
Dari hasil jualan eceran rempah dan sayur berdampingan dengan panen cabai caplak, alpukat, serta kopi itulah, pundi-pundi rupiah dikumpulkan dengan sabar. Pondok kebun bertransformasi menjadi altar perjuangan, tempat di mana setiap jengkal tanah dikonversi menjadi harapan, dan harapan dirajut menjadi keyakinan bahwa masa depan anak-anak mereka harus berbeda.
Kesadaran mendalam orang tua di pedalaman Gayo ini sejalan secara paripurna dengan untaian hikmah berharga dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. yang menegaskan:
“Tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal, tiada keadaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan, dan tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan.”
Mutiara hikmah ini merangkum seluruh filosofi hidup yang sedang dipraktikkan di atas tanah Gayo. Para petani di sana mungkin hidup dalam kesederhanaan materi, namun mereka menolak membiarkan anak-anak mereka miskin secara intelektual.
Mereka tahu betul bahwa melimpahnya harta bendawi, fluktuasi harga komoditas di pasar, dan luasnya lahan bisa sirna dalam sekejap, tetapi akal yang diasah melalui pendidikan adalah kekayaan sejati yang akan menjaga arah hidup sang anak.
Bagi orang Gayo, membiarkan generasi pelanjut terjebak dalam kebodohan adalah “keadaan paling menyedihkan” yang harus dilawan dengan segala daya.
Oleh karena itu, alih-alih mewariskan konflik perebutan tanah atau tanaman perkebunan di masa depan, mereka memilih menitipkan warisan terbaik yang tidak akan pernah menyusut: ilmu pengetahuan dan adab yang didapat dari bangku sekolah hingga ke perguruan tinggi.
Keteguhan orang Gayo dalam menyekolahkan anak adalah sebuah tesis nyata tentang heroisme lokal. Jalur pendidikan hari ini, dengan segala dinamika birokrasi dan biayanya yang terus meningkat, sering kali menjadi tantangan yang mengerikan bagi masyarakat pedalaman.
Namun, ada satu prinsip yang dipegang teguh oleh para orang tua di sana: “Biarlah punggung ini yang patah menahan beban di kebun, asal anak-anak tidak patah arang di dalam kelas.”
Keteguhan ini tercermin ketika masa-masa krusial tiba seperti pendaftaran sekolah baru atau pembayaran uang kuliah tunggal. Ketika tabungan tidak mencukupi, lantai pondok kebun berubah menjadi ruang sidang domestik yang penuh keikhlasan.
Mereka rela melepas aset yang paling berharga, meminjam, atau menguras sisa-sisa hasil penjualan sayur dan hasil panen di pasar demi memastikan sang anak tetap bisa duduk tenang mendengarkan penjelasan dosen atau guru. Bagi mereka, ketidakmampuan membiayai pendidikan anak adalah sebuah kegagalan yang melukai martabat hidup.
Mengapa harapan itu begitu besar? Jawabannya terletak pada cara pandang kebudayaan Gayo melihat ilmu pengetahuan. Dalam tatanan sosial masyarakat Gayo, seseorang yang memiliki ilmu mendapatkan tempat yang sangat terhormat.
Pendidikan tinggi dianggap sebagai sarana mobilitas vertikal yang paling elegan dan bermartabat. Gelar akademik yang diraih anak bukan untuk ajang pamer kekayaan, melainkan sebuah pembuktian bahwa keterbatasan geografis dan ekonomi tidak mampu mengurung potensi intelektual anak-anak gunung.
Lebih dari itu, pendidikan adalah alat bagi orang Gayo untuk menjaga harkat dan martabat keluarganya. Mereka sadar bahwa dunia sedang berubah dengan sangat cepat.
Untuk melindungi tanah leluhur, mengelola potensi daerah, dan agar tidak mudah diperdaya oleh perubahan zaman, mereka membutuhkan generasi baru yang menguasai hukum, teknologi, ekonomi, dan sains. Oleh karena itu, menyekolahkan anak adalah proyek peradaban jangka panjang masyarakat Gayo.
Ketika sang anak akhirnya berhasil melangkah jauh duduk di ruang-ruang kuliah perguruan tinggi—terjadilah sebuah dialektika yang luar biasa. Sang anak membawa pulang teori-teori modern, metodologi, dan cara pandang baru ke dalam pondok kebun. Sementara itu, orang tua tetap konsisten memberikan bekal berupa kearifan lokal, ketulusan, dan pengingat tentang dari mana mereka berasal.
Ruang kelas dan ruang kebun tidak boleh saling mengasingkan. Justru dari doa-doa di pondok kebun itulah, bangunan keilmuan sang anak mendapatkan jiwanya.
Ilmu pengetahuan yang diraih di bangku kuliah tidak boleh membuat seorang anak merasa terlalu “bersih” untuk kembali menginjak tanah tempat tembakau, caplak, alpukat, terong belanda, hingga hamparan kopi itu tumbuh.
Keberhasilan pendidikan yang sejati adalah ketika seorang sarjana baru mampu memandang pondok kebunnya bukan dengan rasa malu, melainkan dengan rasa takzim yang tak berkesudahan.
Pada akhirnya, selembar ijazah atau toga yang dikenakan sang anak pada hari kelulusan adalah milik orang-orang yang berada di pondok kebun.
Gelar yang melekat di depan atau belakang nama adalah buah manis dari bait-bait doa yang dipanjatkan di tengah keheningan malam dataran tinggi Gayo, di antara wangi tanah perkebunan dan sisa ikatan sayur-mayur yang menghidupi mereka.
Keteguhan orang Gayo dalam menyekolahkan anak adalah pengingat berharga bagi kita semua bahwa pendidikan sejati dirawat oleh keikhlasan yang tanpa batas.
Selama pondok-pondok kebun di Tanoh Gayo masih menggandeng doa dan kerja keras demi menitipkan warisan terbaik berupa ilmu, maka dari sanalah fajar peradaban dan sarjana-sarjana humanis akan terus lahir, membawa harumnya nama daerah melampaui tingginya puncak-puncak gunung yang memagarinya. []





