Minggu pagi, 21 Juni 2026, menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan keluarga Amri di Kampung Paya Tumpi, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah. Saat sebagian orang menikmati akhir pekan bersama keluarga, mereka justru menyaksikan kobaran api menghanguskan rumah beserta hampir seluruh isi kehidupan yang selama ini dibangun dengan susah payah.
Amri (47), pegawai paruh waktu di Dinas Perhubungan, bersama istrinya, Diah Setia Waty (43), hanya mampu menyelamatkan diri dan ketiga anak mereka, Sherin Puspita Putri Yoga (18), Aqil Aisy Abyan (13), serta Mya Qalesya (8). Dalam waktu singkat, pakaian, perlengkapan rumah tangga, hingga bakal seragam sekolah yang telah dipersiapkan menjelang tahun ajaran baru berubah menjadi abu.
Kerugian yang dialami keluarga ini diperkirakan mencapai Rp35 juta. Selain pakaian dan bahan seragam sekolah senilai sekitar Rp25 juta, kain pesanan pelanggan yang belum sempat dijahit dengan nilai sekitar Rp10 juta juga ikut musnah dilalap api. Kehilangan itu bukan sekadar angka, tetapi juga hilangnya harapan dan sumber penghasilan yang selama ini membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Di tengah duka tersebut, secercah harapan hadir dari kepedulian masyarakat. Warga berdatangan membawa bantuan sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang menyerahkan kebutuhan pokok, pakaian layak pakai, hingga memberikan dukungan moral agar keluarga Amri tetap tabah menghadapi cobaan.
Di antara mereka, Novita Sari, pemilik Vini Salon, turut menunjukkan empatinya dengan memberikan bantuan kepada keluarga korban. Hal yang sama juga dilakukan Cici Barupi, pemilik Bakso Barupi Mercon, yang datang menyampaikan simpati sekaligus menyerahkan bantuan sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan. Bagi keduanya, musibah yang menimpa satu keluarga adalah duka yang patut dirasakan bersama.
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa nilai gotong royong masih tumbuh kuat di tengah masyarakat Aceh Tengah. Ketika ada keluarga yang kehilangan hampir seluruh harta bendanya, selalu ada tangan-tangan yang rela membantu tanpa diminta. Kepedulian itu menjadi penguat bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar sendirian saat menghadapi musibah.
Kini keluarga Amri masih berusaha menata kembali kehidupan mereka dari titik nol. Perjalanan untuk bangkit tentu tidak mudah. Namun, perhatian dan bantuan dari masyarakat menjadi pengingat bahwa harapan tidak ikut terbakar bersama rumah mereka.
Dari abu yang tersisa, semangat untuk memulai kembali perlahan tumbuh, disangga oleh kepedulian banyak orang yang percaya bahwa seberat apa pun cobaan, selalu ada jalan untuk bangkit ketika kemanusiaan tetap menyala.
[Fauzan Azima]





