Oleh : Wien Khakleri, M.Pd (Mahasiswa Doktoral PAI UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Sore itu, di salah satu sudut kedai kopi di Dataran Tinggi Gayo, sayup-sayup terdengar gelak tawa sekumpulan anak muda. Narasi yang mereka bangun begitu hidup, namun ada sesuatu yang mengganjal di telinga: tak ada satu pun kosakata Gayo yang keluar dari lisan mereka.
Bahasa daerah yang kaya akan estetika itu kini digantikan oleh dialek populer perkotaan.
Ironi ini kian lengkap ketika pandangan beralih pada gaya berbusana yang mereka kenakan tren berpakaian yang menabrak batas kesopanan, seolah mengasingkan diri dari tanah tempat mereka berpijak.
Realitas ini memicu sebuah tanya besar yang menggelitik sanubari: untuk apa kita bangga menyebut diri sebagai urang Gayo, jika pada saat yang sama kita malu berbahasa daerah dan enggan berpakaian sesuai adat?
Modernitas sering kali disalahpahami sebagai proses penyeragaman global. Ada stigma keliru yang merayap di kepala generasi muda kita, seolah-olah menggunakan bahasa Gayo dalam pergaulan sehari-hari akan memberi cap “kuno” atau “kurang pergaulan.”
Begitu pula dengan urusan berbusana; pakaian yang longgar dan menutup aurat dianggap membatasi ekspresi, lalu digantikan oleh gaya berpakaian modern yang minim nilai kesopanan. Ketakutan akan dianggap tidak keren ini membuat kita gagap budaya.
Kita menjadi generasi yang latah mengejar pengakuan luar, namun secara sukarela mengubur warisan indatu sendiri. Malu terhadap identitas lokal adalah bentuk nyata dari inferioritas mental yang seharusnya tidak punya tempat di bumi Tanoh Gayo.
Padahal, jati diri Gayo bukan sekadar urusan garis keturunan atau letak geografis, melainkan apa yang terpancar dari tutur dan rupa. Bahasa Gayo bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah wadah yang mengalirkan nilai peri mestike, sastra didong, dan rasa hormat antarsubjek.
Ketika lisan kita kaku mengecap bahasa ibu, kita sedang memutuskan rantai sejarah dan memori kolektif bangsa Gayo. Di sisi lain, cara kita berbusana dan berbahasa adalah panggung utama dari Edet Mukemel.
Bagi urang Gayo, mukemel bukanlah sekadar harga diri, melainkan ruh dan mahkota eksistensi hidup; sebuah prinsip luhur di mana kehilangan kehormatan jauh lebih menakutkan daripada kehilangan nyawa.
Nilai mahatinggi ini tidak berdiri di ruang hampa, ia dimanifestasikan secara presisi lewat pagar Sumang Opat yang menjaga interaksi sosial: sumang kununulen (cara duduk), sumang perceraken (cara berbicara), sumang perlangkahen (cara berjalan), hingga sumang penengonen (cara melihat).
Ketika seorang anak muda memilih berbahasa yang santun dan berpakaian yang sopan, ia sedang menegakkan tiang Edet Mukemel-nya. Sebaliknya, pakaian yang mengumbar aurat dan lisan yang abai pada tata krama secara langsung meruntuhkan sumang perlangkahen dan perceraken.
Menanggalkan kesopanan demi tren sesaat berarti dengan sengaja menelanjangi diri dari pakaian kebesaran Edet Mukemel, mereduksi manusia Gayo yang mulia menjadi generasi yang kehilangan kompas moral dan harga diri di tanah leluhurnya sendiri.
Menjadi modern sama sekali tidak mengharuskan kita menjadi orang lain. Kita bisa menggenggam teknologi, menempuh pendidikan setinggi langit, dan berpikiran global, tanpa harus melepaskan edet dan tutur Gayo dari raga kita.
Justru di era modern inilah, keunikan budaya kita adalah modal sosial yang tak ternilai harganya. Tantangan terbesar hari ini ada di tangan generasi muda untuk membalikkan narasi: mari kita buat berbahasa Gayo itu keren di media sosial, dan tunjukkan bahwa berpakaian sopan serta menutup aurat sesuai syariat dan adat adalah cerminan dari estetika berkelas yang bernilai tinggi.
Keluarga juga harus kembali menjadi madrasah pertama yang membiasakan tutur lokal ini sejak dini.
Pada akhirnya, perubahan zaman adalah keniscayaan, tetapi menjaga akar budaya adalah pilihan hidup. Sungguh naif jika keindahan alam Gayo yang dikagumi dunia tidak berbanding lurus dengan keluhuran budi pekerti masyarakatnya.
Kita harus berani menggugat diri sendiri sebelum kebudayaan ini benar-benar menjadi artefak mati di museum sejarah. Untuk apa kita bangga mengaku sebagai urang Gayo jika lidah kita asing dari bahasanya, dan tubuh kita tak lagi mengenal kesopanannya? Mari pakai identitas Gayo kita dengan kepala tegak, karena di sanalah letak kemuliaan kita yang sesungguhnya. []





