Lepas 60 Santri Tahfidz MTsS Al-Azzam, Bupati Haili Yoga dan Kakankemenag Tekankan Integrasi Adat dan Akhlak

oleh

TAKENGON-LintasGAYO.co : MTsS Al-Azzam sukses menggelar kegiatan Pelepasan dan Wisuda Tahfidz Generasi Keempat, Kamis 18 Juni 2026. Bertempat di Ballroom Hotel Grand Bayu Hill, Bebesen, agenda sakral yang meluluskan 60 santriwan/santriwati ini dipadukan dengan prosesi adat Gayo “Bemunge” melalui tradisi “I Ulaken Buah Hati Jantung Rasa Ku Tenumpit ni Ama Ine” (pengembalian anak didik kepada orang tua).

Acara bersejarah ini dihadiri langsung oleh Bupati Aceh Tengah, Drs. Haili Yoga, M.Si., Ketua TP-PKK, Kakan Kemenag Aceh Tengah H. Wahdi MS, MA, Ketua MAG, Kadis Syariat Islam, Direktur MTs Al-Azzam Ade Mulia, M.Pd, Pengawas H. Dan, M.Pd, Ketua Komite Syukri M.Pd, serta seluruh orang tua/wali wisudawan.

Pada kelulusan tahun ini, pencapaian luar biasa berhasil ditorehkan para santri, di mana capaian hafalan tertinggi untuk santriwati (akhwat) mencapai 7 juz dan santriwan (ikhwan) berhasil mengkhatamkan hingga 10 juz.

Suasana haru menyelimuti ruangan saat Kepala MTsS Al-Azzam, Rahmawati, M.Pd, memberikan sambutannya. Ia menyampaikan bahwa Haflah Takhrij (perayaan kelulusan) ini bukanlah akhir dari perjalanan seorang penghafal Al-Qur’an.

“Hafalan Qur’an itu bagai unta yang terlepas. Jika tidak diikat dengan murajaah (mengulang hafalan), maka ia akan hilang. Kami menyaksikan sendiri perjuangan kalian selama 3 tahun ini. Kadang kita bercanda, tapi tidak sedikit air mata yang mengucur demi menghafal kalam Allah,” kenang Rahmawati emosional.

Ia berharap para alumni tumbuh menjadi generasi emas yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia.

Senada dengan hal itu, perwakilan wali santri, Salimayah, M.Pd, mengakui besarnya manfaat menyekolahkan anak di MTsS Al-Azzam. “Strategi menghafal yang diajarkan di sini sangat baik, bahkan kami sebagai orang tua pun ikut termotivasi untuk ikut menghafal,” ujarnya.

Apresiasi tinggi datang dari Kakankemenag Aceh Tengah, H. Wahdi MS, MA. Menurutnya, kemampuan menghafal Al-Qur’an merupakan nilai tawar yang luar biasa dan sangat diminati oleh orang tua zaman sekarang.

Guna mendukung keberlanjutan pendidikan para kader qur’ani ini, Wahdi menyatakan kesiapan jajarannya untuk mempermudah jalur pendidikan ke tingkat selanjutnya.

“Jika program tahfidz ini dilanjutkan ke jenjang Aliyah, kami dari Kemenag akan siap membantu memfasilitasi izin operasionalnya agar cita-cita anak-anak kita terus berlanjut,” tegas Wahdi.

Ia juga menambahkan bahwa Aceh Tengah sangat membutuhkan generasi muda yang berwawasan luas, adaptif, namun kokoh secara agama agar bisa menjadi pemimpin yang berintegritas dan berdaya saing di masa depan.

Bupati Aceh Tengah, Drs. Haili Yoga, M.Si., memberikan arahan yang cukup unik dengan melakukan metode interaksi psikologis langsung. Ia memanggil beberapa santri yang istiqamah mengamalkan puasa sunah Senin-Kamis serta menguji langsung sejauh mana rasa bakti dan hormat santri terhadap gurunya sebelum memberikan hadiah berupa amplop penghargaan.

“Kandungan isi 30 juz Al-Qur’an bermuara pada satu hal utama, yaitu akhlakul karimah. Menghafal Al-Qur’an menjadi tidak berkah jika santri kehilangan perilaku menghormati dan memuliakan dewan gurunya,” ungkap Bupati dengan tegas.

Bupati Haili Yoga juga memuji pancaran wajah teduh para wisudawan. “Kami membahas bersama Bapak Kemenag, inilah wajah Al-Qur’an. Ganteng dan cantiknya indah karena Al-Qur’an. Maka, investasi terbaik bagi orang tua adalah membiayai anak-anaknya mempelajari Al-Qur’an,” tambahnya.

Di hadapan pimpinan Kemenag dan MAG, Bupati memberikan catatan khusus mengenai tradisi Bemunge. Ia menegaskan prosesi adat Bemunge harus terus dikawal oleh Majelis Adat Gayo (MAG) agar nilai budaya dan syariat Islam selalu sinkron berjalan beriringan di Aceh Tengah.

Menutup arahannya, Haili Yoga menyelipkan pesan personal yang menyentuh mengenai komitmen kepemimpinan dan ibadah. “Jangan halangi saya menjadi bupati, dan (jangan halangi saya) tetap menjadi muadzin. Jangan sampai ketika menjabat, saya justru tidak mendengar azan. Kita harus menjadi pemimpin yang selalu mengajak pada kebaikan,” pungkasnya.

Acara pelepasan yang haru dan tertib ini ditutup dengan penyerahan apresiasi kepada santri serta dewan guru, dilanjutkan dengan doa bersama untuk keberkahan ilmu para alumni MTsS Al-Azzam. [I.Firaz]

Comments

comments