Kita dan Generasi Kita

oleh

Oleh: Akbar Aman Haura*

Pagi di dataran tinggi Gayo, hampir selalu datang dengan cara yang tenang, disertai kabut turun perlahan dari punggung bukit, embun menggantung di daun-daun kopi, sementara angin dingin menyelinap masuk melalui celah dinding rumah-rumah kayu di perkampungan.

Dari kejauhan, suara ayam jantan bersahutan seakan mengingatkan mereka yang masih terlelap dibawah selimut untuk segera menyambut suara lantunan adzan subuh yang memantul di antara perbukitan.

Alam seolah sedang berbicara kepada manusia bahwa saatnya bergerak kembali untuk menjalankan aktivitas kehidupan, hidup yang bermanfaat bukan saja untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain.

Namun manusia modern jarang mau mendengarkan alam atau mungkin generasi ini tidak paham dengan suara alam.

Kita bahkan hampir tidak menemukan generasi ini di meunasah perkampungan maupun dimasjid-masjid pada saat melaksanakan shalat subuh.

Di sebuah warung kopi kecil dekat pinggir jalan menuju danau, beberapa lelaki duduk melingkar. Secangkir kopi Gayo mengepul di atas meja kayu yang mulai kusam dimakan usia.

Dulu, warung kopi adalah tempat orang-orang kampung berbagi cerita tentang panen, keluarga, dan adat. Tempat anak muda belajar sopan santun dari orang tua. Tempat perdebatan berlangsung hangat tetapi tetap menjaga hormat.

Kini suasananya mulai berubah.

Orang-orang duduk berdekatan, tetapi pikirannya berjauhan. Mata lebih banyak tertunduk ke layar telepon genggam daripada menatap wajah sesama manusia. Tawa masih terdengar, tetapi sering kali terasa kosong.

Percakapan tidak lagi membahas bagaimana membantu sesama yang kesusahan, jarang bahkan tidak pernah membicarakan tentang adat, melainkan tentang kemewahan dan tentang hal-hal yang dapat menjerumuskan diri kedalam dosa.

Di tanah Gayo yang dahulu terkenal dengan kesederhanaan, perlahan tumbuh kegelisahan yang tidak terlihat oleh mata.

Seorang lelaki tua pernah berkata kepada cucunya, “Dulu orang miskin malu meminta-minta, sekarang orang kaya malu hidup sederhana.” Kalimat itu terdengar seperti angin lalu. Namun sesungguhnya ia adalah cermin zaman.

Masyarakat hari ini sedang berlari sangat cepat, tetapi banyak yang tidak tahu kemana tujuan hidupnya. Anak-anak muda ingin segera terlihat berhasil sebelum memahami arti perjuangan.

Banyak yang ingin dihormati, tetapi sedikit yang mau belajar menghormati. Media sosial telah mengubah ukuran kemuliaan menjadi sekadar tampilan.

Padahal dahulu, di kampung-kampung dataran tinggi Gayo, kemuliaan seseorang tidak diukur dari pakaian atau kendaraan. Orang dihormati karena akhlaknya. Karena kata-katanya dijaga. Karena ia ringan tangan membantu tetangga. Karena ia tidak meninggikan suara kepada orang tua.

Di masa lalu, seorang petani kopi bisa menjadi tokoh yang disegani walaupun bajunya sederhana dan tangannya kasar oleh tanah. Hari ini, sebagian orang justru merasa rendah jika tidak terlihat mewah.

Ironisnya, di tengah kemajuan zaman, banyak hati justru semakin kesepian.

Rumah-rumah menjadi lebih besar, tetapi ruang berbicara antar anggota keluarga semakin sempit. Anak-anak makan sambil menatap layar. Ayah sibuk bekerja hingga lupa bercengkerama. Ibu lelah memikirkan kebutuhan hidup yang terus naik.

Semua orang tinggal serumah, tetapi tidak benar-benar hadir untuk satu sama lain, dan yang paling menyedihkan, perlahan kita mulai kehilangan kehangatan yang dahulu menjadi kekuatan masyarakat kampung.

Padahal orang Gayo sejak dulu hidup dengan falsafah persaudaraan. Ketika ada tetangga sedang kesulitan, warga datang membantu dengan ikhlas. Ketika ada keluarga berduka, masyarakat hadir membawa tenaga dan doa.

Ketika panen kopi tiba, kebersamaan terasa lebih berharga daripada hasil yang diperoleh. Kini semangat itu mulai memudar sedikit demi sedikit. Bukan karena masyarakat tidak baik, tetapi karena zaman mengajarkan manusia untuk lebih sibuk mengejar diri sendiri.

Murip i kanung edet, Mate i kanung bumi (Hidup harus punya adab dan Adat)

Di sisi lain, alam Gayo tetap setia mengajarkan kesederhanaan. Danau tetap tenang walaupun manusia gaduh. Gunung tetap kokoh walaupun manusia mudah goyah oleh pujian. Pohon kopi tetap berbuah walaupun petaninya sering mengeluh tentang harga yang tidak menentu.

Alam seakan sedang mengingatkan manusia bahwa hidup bukan hanya tentang menjadi besar, tetapi juga tentang menjadi bermanfaat.

Seorang ibu penjual kopi pernah berkata dengan mata berkaca-kaca,

“Yang saya takutkan bukan anak saya miskin, tapi kalau dia kehilangan sopan santun.”

Kalimat sederhana itu sesungguhnya lebih mahal daripada banyak pidato. Karena sesungguhnya sebuah daerah tidak hancur ketika jalan-jalannya rusak. Sebuah daerah mulai hancur ketika manusianya kehilangan rasa malu, kehilangan empati, dan kehilangan penghormatan kepada nilai-nilai kebaikan.

Kita tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan pejabat. Tidak kekurangan hasil alam. Tetapi daerah ini akan kehilangan masa depan jika generasi mudanya tumbuh tanpa akar budaya dan akhlak.

Kemajuan memang penting. Pendidikan tinggi sangat diperlukan. Teknologi tidak bisa dihindari. Namun semua itu harus berjalan bersama hati nurani. Sebab ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan manusia yang pandai mencari keuntungan, tetapi miskin kebijaksanaan.

Mungkin karena itulah udara dingin Gayo terasa berbeda akhir-akhir ini. Bukan karena suhu alamnya berubah, tetapi karena kehangatan antar manusia mulai sulit ditemukan.

Dan barangkali, yang paling dibutuhkan masyarakat hari ini bukan hanya pembangunan gedung, jalan, atau jembatan, melainkan kembalinya cahaya berupa rasa peduli, kembalinya adab, kembalinya manusia yang tahu cara menghormati sesama manusia.

Sebab di tanah dingin seperti Gayo, manusia sebenarnya tidak terlalu membutuhkan kemewahan, mereka hanya ingin hidup di tengah masyarakat yang masih memiliki hati.

Tuah berpapah, Bahgie betona (yang kuat jadilah Panglima, yang banyak ilmu jadilah pengemuka)

Selama masih ada orang tua yang mengajarkan adab kepada anaknya, selama masih ada guru yang mendidik dengan hati, dan selama masih ada pemimpin yang mau mendengar suara rakyat kecil, maka cahaya itu tetap akan menyala walaupun redup diterpa zaman.

Para tokoh masyarakat, ulama, cerdik pandai, dan orang-orang yang dituakan di kampung-kampung. Mereka adalah akar yang menjaga pohon budaya tetap berdiri kokoh. Jika akar itu melemah, maka generasi muda akan mudah hanyut oleh arus zaman yang datang tanpa arah.

Karena sejarah telah banyak mengajarkan bahwa sebuah daerah tidak runtuh karena kurangnya kekayaan alam, tetapi karena hilangnya kejujuran dan rasa peduli di dalam hati manusianya.

Maka jika suatu hari nanti daerah kita ini ingin benar-benar maju, kemajuan itu tidak cukup hanya diukur dari megahnya bangunan atau ramainya kota. Kemajuan sejati adalah ketika masyarakatnya tetap saling menghormati, ketika pemimpinnya berlaku adil, ketika tokohnya menjaga persatuan, dan ketika generasi mudanya tumbuh dengan ilmu serta akhlak yang berjalan beriringan.

Dan semoga di tanah dingin Gayo ini, lahir kembali pemimpin-pemimpin yang tidak hanya dikenang karena kekuasaan, tetapi dikenang karena kebaikan hatinya, pemimpin yang mampu mempertahankan adat dan akhlak bagi generasi daerah ini, Pemimpin yang ketika namanya disebut, masyarakat tersenyum dengan penuh hormat, bukan berbisik dengan rasa takut.

Hari ini adalah titipan untuk kita, Esok adalah milik generasi kita, mari menjaga nilai, menanam kebaikan, dan mewariskan masa depan yang lebih baik untuk anak cucu kita ditanah Gayo.

Penulis: Orang tua dari Lima anak generasi Gayo

 

 

 

 

 

 

 

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.