Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, MA*
Sekitar tahun 2000 saya pernah mengajar di Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry dengan mata kuliah Dirasah Islamiyah. Mahasiswa yang saya ajar pada saat itu mahasiswa jurusan Aqidah Filsafat dan juga mahasiswa dari jurusan Tafsir Hadis.
Mereka yang saya ajar pada saat itu adalah orang-orang yang dalam hitungan sebagai mahasiswa yang sangat cerdas, sering bertanya, sering menjawab, dan keadaan kelas sangat hidup.
Pada satu hari, tibalah materi belajar pada bagian dari mata kuliah dirasah ini pada subbab filsafat. Saya merasa materi itu sangat berat untuk saya ajarkan kepada mahasiswa jurusan Aqidah Filsafat, sehingga sebelum saya mengajar pada minggu berikutnya saya memberitahu kepada dosen pengasuh mata kuliah, karena posisi saya sebagai asisten.
Lalu saya katakan, saya tidak mampu untuk mengajar bagian filsafat kepada jurusan Aqidah Filsafat.
Dosen pengasuh mata kuliah tidak menjawab apa yang saya laporkan. Beliau terdiam dan hanya mengatakan “ya”. Setelah dua hari dari saya melaporkan kepada beliau bahwa saya tidak sanggup untuk mengajar materi tersebut, beliau datang ke meja kerja saya dengan menenteng dua buah buku yang berkaitan dengan materi aqidah dan filsafat. Buku itu saya simpan sampai saat ini, masih ada di lemari buku saya.
Kemudian beliau mengatakan kepada saya, “Ini ada materi tentang filsafat, coba dipelajari,” dan selanjutnya saya mengajar materi filsafat kepada mahasiswa jurusan Aqidah Filsafat. Tentu materi yang saya ajarkan tersebut tidak memuaskan diri saya sebagai pengajar.
Kendati proses pembelajaran saya lakukan dan saya selesaikan tanpa ada hambatan dan hampir tidak ada pertanyaan yang tidak bisa saya jawab.
Saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh dosen pengasuh mata kuliah kepada saya pada saat itu: pelajarilah materi filsafat yang bagus dan mendalam, karena nanti suatu saat kamu akan melihat berapa banyak ilmuwan yang ada di kampus ini.
Di antara mereka kamu akan tahu siapa yang mempunyai ilmu filsafat yang kuat dan siapa yang tidak mempunyai ilmu filsafat yang kuat. Mereka yang mempunyai ilmu filsafat yang kuat, merekalah yang tetap bertahan dengan keilmuannya, dan mereka yang tidak mempunyai filsafat yang kuat maka mereka akan kehilangan keilmuan mereka.
Saya juga pernah mendengar sebuah pernyataan dari almarhum Profesor Doktor Safwan Idris, MA, yang pada saat itu sebagai Rektor IAIN Ar-Raniry, dalam ceramahnya di masjid.
Beliau mengatakan bahwa seorang doktor akan kehilangan ilmunya kalau mereka tidak belajar, dan orang yang belajar sangat boleh jadi menjadi ilmuwan walaupun dia tidak harus doktor.
Dari situlah saya mulai membaca buku-buku yang berisikan tentang pemikiran atau filsafat. Saya memulai membaca buku dari yang ditulis oleh Profesor H.R. Rasyidi tentang Empat Pokok Kuliah Agama, kemudian buku yang dikarang oleh Profesor Doktor Harun Nasution yaitu Islam citinjau dari Berbagai Aspeknya, kemudian buku Akal dan Wahyu dan buku-buku yang lain.
Kemudian saya teringat betul ketika saya sedang pendidikan di SPU (Studi Purna Ulama). Pada saat itu program pascasarjana untuk S2 baru dibuka dan baru ada angkatan pertama atau kedua atau ketiga.
Pada saat itu mahasiswa pascasarjana diwajibkan membaca buku yang dikarang oleh Fazlur Rahman, yaitu buku yang berjudul Islam, kemudian buku Pintu Ijtihad Sebelum Tertutup yang ditulis oleh Ahmad Hasan, dan buku-buku tentang pembaruan pemikiran di dalam Islam.
Buku-buku itu dan buku-buku lain yang berkaitan terus juga saya baca sampai saya sendiri masuk menjadi mahasiswa program pascasarjana dan mengikuti kuliah sebagaimana mahasiswa-mahasiswa yang lain.
Setelah itu, selesai dengan pemikiran ulama-ulama kontemporer yang diajarkan oleh dosen-dosen semenjak dari kuliah di S1 sampai di bangku kuliah S2, selanjutnya pada saat saya kuliah di bangku S3, salah seorang dosen yang mengajarkan adalah orang yang rajin, bahkan paling rajin membeli buku.
Buku yang dibeli dibagikan kepada kami dengan harga ditambah ongkos kirim. Buku itu saya beli, bahkan sampai uang untuk membeli buku sekitar 500.000 per bulan. Buku itu saya beli dan semuanya saya baca.
Seolah pada saat saya kuliah di S3 saya berlomba dan bertanding dalam membaca dengan dosen-dosen pengasuh mata kuliah dalam hal membaca buku-buku yang kami beli bersama.
Di antara buku-buku yang dibeli saya masih teringat yaitu buku-buku yang ditulis oleh Hasan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zaid, Muhammad Abed Al-Jabiri, Arkoun, Muhammad An-Na’im, dan buku-buku yang lain yang saya simpulkan mereka adalah orang-orang yang berpikiran modern tentang Islam.
Semenjak itulah saya tahu apa sebenarnya perbedaan ketika saya membaca buku-buku filsafat, dilanjutkan dengan buku-buku tentang pemikiran, dan selanjutnya bentuk pemikiran ulama kontemporer, dan terakhir saya membaca buku-buku yang bernuansa pemikiran modern.
Sekitar bulan Januari atau akhir dari tahun 2023 saya terkena musibah. Saya tidak bisa lagi melihat huruf bagaimana menjadi kata, bagaimana kata tersusun menjadi kalimat, dan bagaimana kalimat terurai menjadi paragraf. Saya merasa sangat sedih dan sangat susah, karena kebiasaan yang saya lakukan tidak dapat lagi saya jalani sebagaimana biasa.
Akhirnya sampai pada bulan keempat dari ketidakmampuan saya melihat apa yang orang-orang lihat, alhamdulillah saya bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat.
Pada saat itu saya kembali mengadu kepada guru saya dan saya mengatakan bahwa saya sangat sedih ketika saya tidak bisa lagi membaca, yang merupakan hobi dan kebiasaan yang saya lakukan selama ini.
Namun guru saya mengatakan, “Untuk apa lagi membaca? Sekarang ini buku-buku juga sudah tidak ada lagi. Toko buku yang dulu banyak menjual buku seperti di Jogja dan di Jakarta, kini yang dulu tiga pintu menjadi satu pintu. Yang dua pintu ada yang tutup dan ada yang hanya menjual sisa-sisa buku yang dulu pernah ada.”
Saya bersyukur dengan dorongan dan motivasi yang diberikan oleh sang guru. Saya merasa ridha dengan apa yang saya alami.
Namun kemudian kecanggihan teknologi membuat saya keluar dari kesedihan dan kesulitan yang saya alami. Saya tidak mampu lagi melihat huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, tema, dan seterusnya. Saya tidak bisa melihat lagi dan saya tidak bisa membaca itu semua. Tetapi saya berpindah dari kebiasaan membaca menjadi kebiasaan mendengar.
Pada bulan keempat atau kelima dari musibah yang saya alami, saya bangkit kembali dengan mendengar apa-apa yang sudah pernah saya baca dengan menggunakan teknologi yang disebut dengan audiobook.
Anak saya yang bungsu memfoto semua buku satu per satu yang ada di lemari yang pernah saya baca, kemudian dimasukkan ke dalam audiobook, lalu dimasukkan ke laptop, kemudian saya mendengarkannya.
Alhamdulillah saya mampu mendengarkannya dalam hitungan sekitar 30 halaman per hari. Itulah yang saya lakukan sekarang. Mungkin kalau dihitung dari jumlah halaman sudah sangat banyak, dan kalau juga dihitung dari jumlah buku juga cukup lumayan.
Namun semenjak saya tidak bisa melihat, saya tidak pernah lagi pergi ke toko buku untuk membeli buku, padahal sebelumnya saya sering membeli buku untuk dibaca. Saya teringat hanya satu buku yang saya beli melalui online yang bercerita tentang kebudayaan.
Itulah aktivitas yang saya lakukan dalam keseharian untuk mengisi kekosongan karena banyak pekerjaan-pekerjaan yang dahulu bisa saya kerjakan sendiri kini tidak bisa lagi saya lakukan kecuali melalui bantuan atau pendampingan dari keluarga namun yang saya syukuri sampai hari ini saya masih bisa menuliskan apa yang pernah saya baca. []





