Hikmah Al Jalil di Balik Kisah Al Khalil

oleh

Oleh : Tgk. Azhari, S.H, Gr*

Kita semua sering membaca dan mendengar kisah yang terjadi antara Nabi Ibrahim  AS dan putranya Nabi Ismail AS, lebih-lebih lagi kisah ini sering diceritakan dalam momen Idul Adha.

Yakni kisah tentang perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya yakni Nabi Ismail AS yang saat itu masih berusia sangat muda. Dalam satu riwayat disebutkan usianya 7 tahun dan dalam riwayat yang lain 13 tahun, sebagaimana tertulis dalam kitab Tafsir Jalalain.

Namun, yang ingin penulis ulas adalah hikmah besar yang terkandung di balik  kisah tersebut.

Segala Sesuatu di Alam Terjadi karena Qudrah dan Iradah Allah SWT

Ketika peristiwa penyembelihan itu terjadi, Nabi Ibrahim betul-betul menyembelih Nabi Ismail dengan pedang yang sangat tajam. Akan tetapi jangankan putus, terluka pun tidak. Setelah beberapa kali menyembelih tetap tidak bisa, Nabi Ibrahim  memukulkan pedang tersebut ke batu sebanyak dua atau tiga kali sehingga batu tersebut pecah.

Nabi Ibrahim  berkata kepada pedang: “engkau bisa membelah batu tapi tidak bisa memotong daging yang lembut”.

Takdir Allah pedang itu menjawab: “engkau menginginkan aku memotongnya, sementara tuhanku melarangnya, bagaimana mungkin aku mematuhi perintahmu dan melanggar perintah tuhanku”.

Peristiwa ini menjadi bukti yang tak terbantahkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah karena Qudrah dan Iradah Allah. Jika Allah menghendaki maka terjadi, jika Allah tidak menghendaki maka tidak akan terjadi.

Sama persis seperti kejadian yang menimpa Nabi Ibrahim  ketika beliau dibakar oleh raja Namruz dan bala tentaranya karena beliau pada akhirnya diketahui telah menghancurkan patung-patung berhala mereka.

Nabi Ibrahim  dibakar dalam kobaran api besar selama lima puluh hari, akan tetapi setelah api padam di hari ke lima puluh, Nabi Ibrahim  keluar dari tumpukan debu pembakaran dalam keadaan sehat tanpa terluka sedikitpun. Allah SWT tidak mengizinkan api membakar tubuh kekasih-Nya. Lagi-lagi, kisah ini menjadi dalil kekuasaan Allah swt.

Syeikh Ibrahim al-Laqqany dalam kitab Jauharah Tauhid menulis satu bait yang artinya: “menurut pendapat ahlu sunnah waljama’ah, bagi setiap hamba dibebankan usaha untuk menggapai apa yang ia inginkan, akan tetapi usahanya tidak memberi bekas apapun (tanpa Qudrah dan Iradah Allah)”.

Untuk mencapai apa yang kita inginkan kita memang harus berusaha, akan tetapi kita harus yakin bahwa usaha kita tidak akan membuahkan hasil jika tidak diizinkan oleh Allah.

Kalaulah hasil dari usaha kita murni karena usaha, sungguh tidak akan ada yang namanya kegagalan. Faktanya, banyak orang yang gagal setelah berusaha maksimal. Ini membuktikan bahwa hasil dari usaha kita ditentukan oleh Allah.

Jika kita memahami konsep ikhtiar dan tawakkal ini dengan baik, insya Allah kita tidak akan kesusahan dalam menjalani hidup di dunia ini.

Kiat Mendidik Generasi Shalih dan Shalihah

Ketika Nabi Ismail disembelih, usia beliau baru tujuh tahun atau tiga belas tahun dalam satu riwayat. Ketika beliau ditanya oleh ayahnya bagaimana pendapatnya tentang mimpi ayahnya, Nabi Ismail menjawab: “Wahai ayah, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah saya termasuk dalam orang-orang yang sabar”.

Bagaimana mungkin jawaban seikhlas dan sepasrah itu bisa keluar dari mulut seorang anak yang masih berusia tujuh atau tiga belas tahun? Ini menunjukkan betapa shalih dan berbaktinya Nabi Ismail kepada orang tuanya.

Hal ini tentu tidak terlepas dari pendidikan akhlaq yang beliau terima dari kedua orang tua beliau, dan juga tidak terlepas dari do’a Nabi Ibrahim  yang beliau panjatkan ketika memohon kepada Allah agar diberikan keturunan: “Ya Allah, karuniakanlah bagiku anak yang shalih”. Sehingga Allah qabulkan do’a Nabi Ibrahim  dengan memberikan anak shalih baginya.

Setiap orang tua pasti mendambakan anak-anak yang shalih dan shalihah. Namun, apa yang harus dilakukan oleh orang tua agar mendapatkan anak yang  shalih dan shalihah?

Pertama, bagi laki-laki dan perempuan yang belum menikah, perbaiki diri sedini mungkin. Allah berfirman dalam surah AN-Nur: 26 “dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”.

Kemudian ketika tiba waktunya menikah carilah calon istri yang baik pemahaman agamanya. Nabi berpesan dalam hadits “ wanita itu dinikahi karena empat hal; kecantikannya, hartanya, keturunannya dan agamanya. Maka carilah yang bagus pemahaman agamanya, maka kamu akan bahagia”.

Mengapa laki-laki perlu mencari calon istri yang baik pemahaman agamanya? Karena ia akan menjadi ibu sekaligus pendidik bagi anak-anak mereka nantinya.

Mengapa ibu, bukan ayah? Karena kebanyakan ayah berangkat pagi hari untuk mencari nafkah, pulangnya sore hari bahkan ada yang pulang malam hari, berangkat ketika anak sedang tidur, pulang ketika anak sudah tidur. Maka yang mendidik anak adalah ibunya. Jika ibunya shalihah, insya Allah ia akan mendidik anaknya menjadi shalih dan shalihah. K.H Maimoen Zubair (Allahummaghfirlahu) pernah berkata: “shalih tidaknya seorang anak sangat tergantung pada ibunya”.

Kedua, setelah menikah maka hendaknya suami istri memperbanyak membaca do’a sebagaimana yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim  AS “Rabbi habli minasshalihiin (Ya Allah, karuniakanlah bagiku anak-anak yang shalih)”. Juga dengan menjaga adab-adab dalam berhubungan suami-istri sebagaimana yang telah diatur dalam islam.

Ketiga, setelah anak lahir didiklah mereka dengan akhlaq dan keteladanan. Setiap beramal kebaikan, hendaknya orang tua selalu berdo’a semoga kebaikan orang tua tersebut menjadi wasilah agar Allah jadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah.

Orang tua harus memiliki integritas, kesuaian antara perkataan dan perbuatan, sebagaimana akhlaqnya baginda Nabi Muhammad SAW.

Keempat, jika ingin memiliki anak yang shalih, maka orang tua harus berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan dirinya shalih dan shalihah terlebih dahulu, karena anak shalih dan shalihah hanya akan lahir dari orang tua yang shalih dan shalihah. Sebagaimana yang berlaku pada imam syafi’i, beliau merupakan salah seorang mujtahid, ulama besar pendiri mazhab syafi’I, beliau shalih dan cerdasnya luar biasa.

Usia tujuh tahun sudah hafal tiga puluh juz Al-Qur`an, usia sepuluh tahun sudah hafal kitab Al-Muwattha (karya Imam Malik), usia lima belas tahun sudah menjadi Qadhi. Ternyata dibalik keshalihan dan kecerdasan beliau, beliau memiliki ayah dan ibu yang sangat shalih dan shalihah. Salah satu contoh keshalihan mereka adalah mereka sangat menjaga makanan yang halal.

Maka, setiap orang tua harus betul-betul memperhatikan hal ini. Jangan sampai para orang tua memberikan makanan syubhat bahkan haram kepada anak-anaknya.

Karena ketika makanan haram sudah mendarah daging dalam tubuh anak-anak mereka, maka akan sangat sulit mendidik mereka menjadi anak shalih dan shalihah, karena makanan haram akan mengotori hati mereka. Ketika hati kotor, akan sangat sulit mereka menerima kebaikan.

Menyembelih Keterikatan Hati Terhadap Perkara Dunia

Nabi Ibrahim merupakan khalilullah (kekasih Allah). Hakikat seorang kekasih adalah kasihnya tidak terbagi dengan yang lain, hanya untuk Allah semata. Nabi Ibrahim  pernah memohon kepada Allah agar diberikan keturunan, ketika Allah beri, terbagilah kasih sayang Nabi Ibrahim kepada anaknya.

Maka Allah menguji Nabi Ibrahim untuk membuktikan bahwa beliau betul-betul khalilullah. Dan alhamdulillah beliau mampu melewati ujian yang diberikan oleh Allah. Ketika beliau dengan ikhlas menyembelih anaknya, Allah ganti dengan seekor kibas yang besar yang Allah turunkan dari syurga.

Dari kejadian ini bisa disimpulkan bahwa seorang hamba bukan dilarang sama sekali mencari dunia, tapi hendaknya perkara dunia itu hanya di genggamannya saja, jangan sampai masuk ke dalam hatinya.

Jangan sampai seorang hamba karena sibuknya dengan perkara dunia, membuat ia lupa kepada Allah, sang pemberi dunia itu sendiri. Dan yakinlah, ketika seorang hamba dengan ikhlas berkorban untuk Allah, maka Allah akan ganti dengan yang lebih baik.

Semoga Allah memberikan kita taufiq untuk meneladani akhlaq Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam. Semoga Allah menjadikan generasi kita semua, menjadi generasi yang shalih dan shalihah, Amin ya Rabbal ‘alamin.

*Penulis adalah Guru Fikih MTsN 6 Aceh Tengah

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.