[Puisi] Mencium Aroma Pagi di Mendale

oleh

[Puisi] Mencium Aroma Pagi di Mendale

Zulkifli Abdy

Debu-debu berbaur bulir embun pagi
Puing-puing kayu kalang bersilang
Balok dan ranting balada hening
Tiada yang tersisa kecuali asa
Penghuni dari kampung Mendale
Menangisi pagi menjelang senja
Kami mencium aroma pagi di sini
Bait-bait doa dari surau usang
Fuaduna, garin tinggal seorang
Agar banjir bandang tak berulang
Oh, musafir enggan hendak pulang.[SY]

Mendale, Mei 2026

Zulkifli Abdy, Lahir di Jambi 01 Januari 1959, latar belakang pendidikan Sarjana Ilmu Komunikasi. Sejak tahun 1970 hingga saat ini berdomisili di kota Banda Aceh. Berkiprah di bidang kepenulisan secara otodidak sejak remaja, telah menulis berbagai artikel dan puisi, di antaranya; Artikel: Rona Politik dan Demokrasi Kita, Pesona Politik dan Korupsi, Transformasi dan Prasangka Baik, Catatan Rakyat di Pergantian Tahun, Demokrasi Ibarat Pompa, Kodrat dan Prasangka Baik, Refleksi Ulang Tahun Kemerdekaan, Percikan Renungan Tentang Pandemi dll. Puisi: Broadway, Surat Dari Langit, Lanskap Alam, Telah Merdekakah Kita, Dialog Imajiner Di Kutub Malam, Membelah Langit Malam, Catatan Harian, Sajara Dilamun Senja, Duka Cianjur Duka Kita, Sebiji Zarrah, Bulan Tanpa Purnama, Linang Airmata Di Tamiang, Lara, Mata Hati Mati, Meminang Subuh, Kala Kurma Berputik, Siklus Waktu, Dusta Nista Dan Jujur Mujur, Rindu di Daun Randu, Sarinah, Gerimis Menangis, Senja di Pulau Penyengat, Wabah Dan Berkah, Doa di Kepundan Langit, Ikhtiar dan Doa Di Balik Takdir dll.

Comments

comments