Catatan Mahbub Fauzie*
Saat saya skrol di media sosial, ada terbaca sebuah kalimat yang sederhana, tetapi sarat makna: “Jatuh cinta itu pakai perasaan, tetapi memeliharanya pakai penghasilan.” Meski terdengar sebagai gurauan, kalimat tersebut sesungguhnya menjadi pengingat bagi para pemuda dan pemudi yang sedang merencanakan pernikahan.
Dipikir-pikir, benar juga kalimat sederhana yang terkesan jenaka itu. Lucu dan membuat kita ketawa. Tapi, jika direnungkan cukup menghunjam dalam. Mengusik hati untuk lebih serius meresapi.
Bahwasanya jatuh cinta memang berawal dari hati. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan, Islam mengakui bahwa cinta adalah fitrah yang Allah tanamkan dalam diri manusia. Namun, kehidupan setelah akad nikah bukan lagi sekadar soal rasa. Pernikahan adalah awal dari sebuah amanah besar yang menuntut kesiapan lahir dan batin.
Banyak orang mengira bahwa tantangan terbesar adalah menemukan pasangan yang tepat. Padahal, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah ijab kabul terucap. Menjadi suami berarti siap memimpin, melindungi, dan menafkahi keluarga. Menjadi istri berarti siap menjadi pendamping, penyejuk hati, sekaligus mitra dalam membangun rumah tangga. Keduanya dituntut saling memahami, saling menguatkan, dan saling berkorban.
Allah SWT berfirman:
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’: 34).
Ayat ini menegaskan bahwa kepemimpinan dalam keluarga bukanlah hak istimewa, melainkan amanah yang disertai tanggung jawab. Nafkah menjadi salah satu kewajiban yang harus dipenuhi dengan cara yang halal dan penuh kesungguhan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu, maka menikahlah…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kemampuan yang dimaksud para ulama tidak hanya berkaitan dengan kesiapan biologis, tetapi juga kemampuan memikul tanggung jawab, memberikan nafkah, serta menjaga kehormatan diri dan keluarga.
Realitas hari ini menunjukkan bahwa tidak sedikit rumah tangga yang diuji oleh persoalan ekonomi. Bukan berarti kebahagiaan hanya bisa dibeli dengan uang, tetapi kebutuhan hidup tetap memerlukan ikhtiar. Penghasilan mungkin tidak menjamin kebahagiaan, namun ketiadaan tanggung jawab dalam mencari nafkah sering kali menjadi pemicu konflik yang berkepanjangan.
Karena itu, menikah tidak cukup hanya bermodal cinta. Cinta dapat menghangatkan hubungan, tetapi tanggung jawablah yang menjaganya tetap hidup. Romantisme akan memudar jika tidak dibarengi kerja keras, kejujuran, komunikasi yang baik, dan kesediaan untuk saling memaafkan.
Bagi para pemuda, persiapkan diri sebelum mempersunting seseorang. Milikilah pekerjaan atau keterampilan yang dapat menjadi sumber nafkah yang halal. Bangun karakter sebagai pribadi yang disiplin, amanah, dan bertanggung jawab. Jangan hanya sibuk menyiapkan pesta pernikahan, tetapi lalai menyiapkan kehidupan setelah pesta usai.
Bagi para pemudi, jangan hanya terpikat oleh penampilan atau kata-kata manis. Pilihlah calon suami yang memiliki akhlak, komitmen, dan etos kerja. Ketampanan akan memudar dimakan usia, tetapi tanggung jawab akan menjadi fondasi kokohnya sebuah keluarga.
Pernikahan bukan perlombaan siapa yang paling cepat menikah atau paling mewah pesta pernikahannya. Pernikahan adalah perjalanan panjang menuju ridha Allah SWT. Akan ada hari-hari yang penuh kebahagiaan, tetapi juga akan ada masa-masa sulit yang menguji kesabaran dan kesetiaan.
Karena itu, jangan bertanya, “Kapan saya menikah?” Lebih penting lagi bertanya, “Apakah saya sudah siap memelihara pernikahan?”
Sungguh, menikah itu mudah. Yang sulit adalah menjaga cinta tetap hidup, mempertahankan komitmen, memikul tanggung jawab, dan terus memilih pasangan yang sama setiap hari hingga akhir hayat. Di situlah letak kemuliaan sebuah pernikahan, bukan pada megahnya resepsi, tetapi pada kesungguhan dua insan dalam merawat ikatan suci yang telah mereka janjikan di hadapan Allah SWT.[]
Paya Dedep, 19 Juli 2026





