(Harapan untuk KNPI Aceh Tengah di Bawah Kepemimpinan Feriyanto Dkk)
Oleh: Mahbub Fauzie (Pemerhati Sosial Keagamaan dan Generasi Muda)
Sabtu, 18 Juli 2026 menjadi momentum penting bagi organisasi kepemudaan di Kabupaten Aceh Tengah. Pada hari itu, Feriyanto resmi dilantik sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) II Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Aceh Tengah periode 2025–2028. Pelantikan ini bukan sekadar seremoni pergantian kepemimpinan, tetapi menjadi awal lahirnya harapan baru agar KNPI tampil sebagai organisasi yang melahirkan kader, menghadirkan inovasi, serta menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun Tanoh Gayo.
Ucapan selamat dan apresiasi layak disampaikan kepada Feriyanto beserta seluruh jajaran pengurus yang baru. Amanah yang kini diemban bukanlah tugas ringan. KNPI bukan sekadar organisasi kepemudaan, melainkan rumah besar yang diharapkan mampu menyatukan berbagai potensi generasi muda untuk kemajuan daerah.
Pernyataan Feriyanto mengenai pentingnya kaderisasi dan kekhawatirannya terhadap krisis regenerasi kepemimpinan di wilayah tengah Aceh patut diapresiasi. Kesadaran itu menunjukkan bahwa tantangan terbesar hari ini bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi membangun manusia. Daerah akan kehilangan masa depannya apabila gagal menyiapkan generasi penerus yang berintegritas, berilmu, dan memiliki kepedulian terhadap Tanoh Gayo.
Namun, apresiasi saja tidak cukup. Kepengurusan baru KNPI harus mampu membuktikan bahwa organisasi ini benar-benar menjadi pelopor, bukan pengekor. Menjadi organisasi yang kritis, tetapi kritik yang disampaikan selalu disertai solusi. Menjadi mitra strategis pemerintah, namun tetap menjaga independensi sebagai representasi suara pemuda.
Pemuda harus berani menawarkan gagasan, menyampaikan masukan, bahkan mengoreksi kebijakan apabila diperlukan. Kritik yang santun, argumentatif, dan berbasis kepentingan masyarakat merupakan bentuk kecintaan kepada daerah, bukan permusuhan terhadap pemerintah.
Di sisi lain, KNPI jangan sampai menjadi organisasi yang “menye”—meminjam istilah dalam bahasa Gayo, yakni terlalu manja, hanya menunggu bantuan, proyek, atau fasilitas pemerintah. Organisasi pemuda juga jangan menjadi benalu yang hidup bergantung pada kekuasaan. Organisasi yang besar adalah organisasi yang mandiri, kreatif, produktif, dan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Allah SWT mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan hanya akan lahir dari kerja keras, ikhtiar, dan kesungguhan. Organisasi kepemudaan harus menjadi motor perubahan itu.
Tantangan terbesar generasi muda hari ini justru berada pada krisis moral di era digital. Media sosial telah membawa banyak manfaat, tetapi juga melahirkan budaya instan, rendahnya literasi, penyebaran hoaks, perjudian daring, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, hingga lunturnya adab dan etika. Persoalan ini jauh lebih berbahaya daripada sekadar persoalan ekonomi.
Karena itu, KNPI hendaknya menjadi pelopor gerakan pembangunan karakter generasi muda. Pemuda harus dibimbing menjadi pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, memiliki integritas, serta mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.
Aceh Tengah juga memiliki modal ekonomi yang luar biasa. Daerah ini dikenal dunia melalui Kopi Arabika Gayo. Potensi tersebut jangan hanya menjadi kebanggaan, tetapi harus menjadi peluang. KNPI dapat mendorong lahirnya wirausahawan muda di sektor kopi, memperkuat UMKM, mengembangkan pemasaran digital, membangun ekowisata kopi, hingga melahirkan inovasi produk-produk unggulan yang memiliki nilai tambah.
Lebih dari itu, keberadaan unsur ulama dalam kepengurusan KNPI merupakan kekuatan yang harus dimanfaatkan. Sinergi dengan remaja masjid perlu diperkuat agar pembinaan generasi muda tidak hanya melahirkan pemimpin organisasi, tetapi juga kader ulama, imam kampung, khatib Jumat, guru mengaji, bilal, dan tokoh-tokoh agama yang kini mulai sulit ditemukan di sejumlah kampung.
Krisis imam kampung dan kader ulama adalah persoalan nyata yang perlu mendapat perhatian serius. Jika tidak dipersiapkan sejak sekarang, beberapa tahun mendatang desa-desa akan mengalami kekosongan regenerasi kepemimpinan keagamaan. KNPI dapat mengambil peran sebagai jembatan yang mempertemukan pemuda dengan masjid, ulama, dayah, dan lembaga pendidikan Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Hadis ini menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan bukanlah jabatan, melainkan sejauh mana keberadaan seseorang atau sebuah organisasi memberi manfaat bagi orang lain.
Harapan masyarakat sesungguhnya sederhana. Mereka tidak membutuhkan organisasi yang hanya ramai saat pelantikan atau sibuk memasang baliho. Yang dibutuhkan adalah organisasi yang bekerja, melahirkan gagasan, menggerakkan aksi sosial, memberdayakan pemuda, membangun ekonomi, menjaga nilai-nilai keislaman, serta menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun Aceh Tengah.
Selamat kepada Feriyanto dan seluruh jajaran DPD II KNPI Aceh Tengah. Jadikan amanah ini sebagai ladang pengabdian, bukan sekadar batu loncatan menuju kepentingan politik. Jadilah pelopor, bukan pengekor. Jadilah organisasi yang kritis, inovatif, mandiri, solutif, dan berintegritas. Sebab masa depan Aceh Tengah sangat bergantung pada kualitas pemudanya hari ini. []





