Oleh : Zulfikar Ahmad Aman Dio*
Pada tahun 1292, Marcopolo bertemu dengan Dragoian di Ferlec (Perlak). Salah satu hal yang menarik Marcopolo melihat unicorn (kuda bercula) yang dibawa oleh Dragoian (menurut G.E Gerini (1909) Dragoian adalah Drag = rang (urang); Goian = Gayu ; baca https://web.facebook.com/share/p/1FJ9vrBRYV/.
Marcopolo belum pernah melihat badak yang di sebutnya unicorn, apa yang dilihat oleh Marcopolo di konfirmasi oleh Von H.J.V Sodi (1959) berkebangsaan Jerman yang ditulis dalam laporan penelitian berjudul “Das Javanische Nashorn Rhinoceros Sondaicus”, Von menemukan alat penangkan Badak dan Gajah yang digunakan oleh orang Gayo yang disebut “Gedabuhen”. Gedabuhen dikonfirmasi pula oleh Hazeu (1907) yang definisinya dapat diihat di https://github.com/Fikaramandio/korpus-bahasa-Gayo/wiki/Gedabuhen).
Apa gunanya orang Gayo membuat alat khusus untuk menangkap badak dan gajah dalam keadaan hidup? Bukankah hanya cula dan gading yang dapat dimanfaatkan? Jika kita merujuk pada M. Junus Djamil dalam buku “Gadjah Putih” (1958) sekitar tahun 1530 -1539 M, Sengeda menyerahkan gajah putih kepada Sultan Aceh dan kemudian dinobatkan sebagai kenderaan perang sekarang kita menyebutnya ALUSISTA (Alat Utama Sistem Senjata), Setelah menjadi kenderaan tempur panglima kesultanan Aceh Gajah Putih diberinama “Biram Sattany”
Alutsista kesultanan Aceh, Biram Sattany ternyata menarik minat kerajaan-kerajan lain di Asia, salah satunya adalah Kekaisaran Mugal – Pendiri Tajmahal – Menurut Ito Takeshi (1984) dalam Thesisnya “The World of the Adat Aceh : A Historical Study of the Sultanate of Aceh” menemukan bahwa pada 1641 (± 100 tahun setelah Sengeda mengantarkan Biram Sattany kepada Sultan Aceh) Kesultanan Aceh mulai mengekspor Alutsista berupa kederaan perang (gajah) sebanyak 8 ‘unit’ pesanan alutsista ini berlanjut hampir setiap tahun sejak 1641 sampai 1663.
Bukan hanya Muggal Empire yang memanfaatkan Alutsista ini, sejumlah kerajaan lain di Asia juga memesan Alutsista Asal Aceh ini seperti Benggal, Orissa dan Commandel, sepanjang 1641 – 1663 (22 tahun) setidaknya kesultanan Aceh mengekspor lebih dari 244 Alutsista yang “pabriknya” ada di Gayo dengan alat utama disebut “Gedabuhen”.
Teknologi militer Gayo tidak berhenti sampai di “kenderaan tempur” saja, persenjataan juga pernah diproduksi di Gayo, yang paling sederhana disebut Amanremu (https://github.com/Fikaramandio/korpus-bahasa-Gayo/wiki/Amanremu) pada saat kamus Gayo – Belanda disusun (1907) menurut Aman Ratus sudah hampir punah. Dari kata yang ditemukan pada tahun 1907 ini, ditemukan sejumlah istilah dalam bahasa Gayo yang berhubungan dengan persenjataan “busur” misalnya, dalam bahasa indonesia “busur” adalah alat yang berhubungan dengan panah, namaun dalam bahasa Gayo makna busur sama sekali berbeda dengan bahasa indonesia (https://github.com/Fikaramandio/korpus-bahasa-Gayo/wiki/Busur), definisi busur dalam bahasa Gayo adalah pegas pemukul, ini artinya senjata yang diproduksi di Gayo memiliki teknologi yang berbeda dengan persenjataan yang diproduksi di tempat lain, coba perhatikan bagian-bagian senjata dalam bahasa Gayo berikut :
busur: pegas pemicu (pelatuk).
tangké labu: grendel senapan.
gamit: pelatuk.
kunci: mekanisme pengunci atau pemicu tembakan.
kertuh: peluru atau kartrid.
tapak: popor senapan.
klah: pelindung pelatuk.
rarah: laras senapan.
lusung: penutup belakang laras.
lintah: pegas pengikat laras.
patòk: han (pemicu eksternal pada senapan kuno).
pusòk: lubang sumbu (zundgat).
sĕgĕdur: tongkat penekan peluru (ramrod).
sarung: bagian tempat peluru dimasukkan.
tumbak: bayonet.
tali: tali pengikat senapan.
awah / ujung: ujung laras senapan.
(lihat: https://github.com/Fikaramandio/korpus-bahasa-Gayo/wiki/Bedil atau sumber asli, Hazeu di halaman 76).
Untuk mesiunya dibuat berbahan dasar Cempege (https://github.com/Fikaramandio/korpus-bahasa-Gayo/wiki/Cempege)
STRUKTUR MILITER
Pemimpin militer tertinggi di Gayo disebut Panglime (https://github.com/Fikaramandio/korpus-bahasa-Gayo/wiki/Panglime), Panglime diangkat oleh Reje berdasarkan usulan dari Sudere, diutamakan kerabat terdekat Reje.
Panglime bertugas menyusun strategi dan bertanggung jawab terhadap seluruh operasional perang sebagai penganti reje di medan laga, untuk itu Panglime memperoleh hak yang sama dengan yang didapat oleh Reje.
Panglime tidak selalu berada di garis tempur terdepan, pemimpin pasukan paling depan disebut Pemetar (Pemeter) – https://github.com/Fikaramandio/korpus-bahasa-Gayo/wiki/Pemetar
Pemeter dipilih oleh Tue (setara dengan DPR dalam struktur pemerintah saat ini), Pemeter memimpin pelaksanaan lapangan dalam peperangan, pemeter menggunakan bedil (senjata) dalam posisi sebagai garda terdepan pemeter menanggung bebean tempur paling besar, setelah Pemeter diikuiti oleh barisan senjata tradisional.
Panglime dan Pemeter saling bekerja sama dalam peperangan, meski di Gayo sering didengar ada sangat banyak Panglime (pang), tapi tidak semua benar-benar memimpin pasukan, kata panglime juga di gunakan untuk menyebut prajurit yang gugur di medan pertempuran (anumerta).[]





