Bupati Skin Care

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Di kampung kami, bupati bukan sekadar kepala daerah. Ia adalah ikon perawatan diri. Di tengah bencana hidrometeorologi yang membuat tanah longsor seperti kue bolu kukus gagal mengembang, bupati kami tetap tampil necis, kinclong, dan nyaris tanpa cela. Orang-orang pun sepakat memberi julukan baru: Bupati Skin Care.

Julukan ini bukan tanpa alasan. Saat jalan amblas dan jembatan putus, sehingga puluhan kampung terisolasi dan akses hidup benar-benar “offline”, bupati kami tetap hadir, tentu saja dengan pakaian rapi, wajah segar, dan aura pejabat yang tidak tersentuh lumpur.

Sementara rakyat sibuk berjibaku membangun jembatan darurat dari batang kayu dan tali seadanya, beliau tampak lebih sibuk menjaga citra agar tidak kusut seperti jalan kampung kami. Berdasarkan rumor yang beredar, tampilan necis meningkat kalau akan berurusan dengan tenaga kesehatan.

Relawan datang dengan sepatu bot, pakaian basah, dan mata panda karena kurang tidur. Masyarakat gotong royong siang malam demi satu tujuan: bisa lewat. Artinya kalau sudah ada jalan, maka ekonomi tumbuh dengan sendirinya.

Berbanding terbalik dengan bupati kami tampaknya menganut filosofi lain: slow living versi kekuasaan. Di saat rakyat lapar dan dapur umum mengepul tipis, kabarnya beliau justru rajin tidur siang. Mungkin untuk menjaga elastisitas kulit wajah. Namanya juga Skin Care.

Waktu berlalu. Rakyat, dengan segala keterbatasannya, mulai mandiri. Jembatan darurat berdiri, akses mulai terbuka, dan hidup perlahan menemukan ritmenya sendiri. Di titik inilah bupati kami mendadak aktif. Bukan turun ke lapangan dengan cangkul dan membuat kebijakan strategis, tapi naik ke meja rapat dengan map proposal.

Mulailah fase baru: bencana sebagai peluang administratif. Dinas teknik dikerahkan membuat proposal yang seolah mie instan, tinggal diseduh, langsung jadi. Puluhan proposal disiapkan, katanya demi pemulihan. Tapi rakyat paham, setiap lembar proposal punya aroma proyek yang khas.

Maklum, hutang kampanye memang perlu ditebus satu demi satu, dan tentu harus lunas. Rakyat sudah kenyang dengan lumpur, kini disuguhi tumpukan kertas. Begitulah Bupati Skin Care bekerja: saat darurat, jaga penampilan; saat rakyat sudah berjuang sendiri, baru sibuk merawat proyek.

Demi proyek, penyandang distabilitas pun diminta untuk mengemis agar dapat bantuan. Karakter agen tidak pernah benar-benar pupus meski sudah menjabat bupati.

Dan kami? Kami hanya bisa tertawa. Karena kalau tidak ditertawakan, yang tersisa hanyalah lumpur, proposal, dan wajah licin tanpa empati.

(Mendale, Januari 1, 2026)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.