Sejarah Jagong Jeget dan Kisah Merah Mege

oleh

Oleh : Makhmud Riyadhi*

Jagong Jeget sekarang ini adalah nama salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Tengah, yang bersama Atu Lintang dimekarkan dari kecamatan induknya Kecamatan Linge pada tahun 2006. Dengan camat pertamanya  Khaerussaleh, SAg sedangkan Camat Atu Lintang Adli Salim, SE.

Pemekaran Kecamatan Jagong Jeget dan Atu Lintang bersamaan dengan pemekaran Kecamatan Rusip Antara dari Kecamatan Silihnara dan Kecamatan Bies dari Kecamatan Pegasing.

Tulisan tentang Asal Usul Jagong Jeget (Sejarah Singkat) pernah ditulis di media online LintasGayo.co ini pada edisi 24 Juli 2021 oleh Mahbub Fauzie, yang kebetulan adik kandung saya. Dalam tulisan ini saya akan menambahkan dan menguatkan tentang sejarah Jagong Jeget dalam kaitannya dengan kisah Merah Mege.

Jagong adalah nama tempat (geografi) yang pada saat itu maduk wilayah Kampung Kute Keramil. Letaknya antara Gemboyah dan Alur Kulit. Sedangkan Jeget nama tempat antara Alur Kulit/Pantan Gading dan Ramung Payung/Paya Empan. Nama Jagong dan Jeget diambil untuk mewakili nama kawasan yang dijadikan nama UPT oleh Departemen Transmigrasi dengan Persetujuan Pemda Aceh Tengah/Pemda Provinsi D.I. Aceh (sekarang Pemerintah Aceh)

Jagong adalah nama tempat di sekitar eks pabrik penggilingan batu disekitar Jembatan Sungai Jagong. Penduduk Isaq/Gayo sudah sejak dari dahulu memberi nama tempat tersebut dengan nama-nama Jagong, Alur Kulit, Jeget, Gegarang, dan lain-lain.

Nama tempat yang cukup luas tersebut oleh Departemen Transmigrasi pada tahun anggaran 1981/1982 dijadikan nama Unit Pemukiman Transmigerasi (UPT) I dan II Jagong Jeget. Nama-nama tempat tersebut berdasarkan cerita atau penuturan dari orang tua di Isaq mempunyai cerita tersendiri. Misalnya nama Jagong dikaitkan dengan Cerita Gua Loyang Datu di Kute Keramil. Jagong Jeget sebelumnya masuk dalam wilayah administrasi Desa Kute Keramil, Kecamatan Linge.

Cerita singkatnya di antara 6 orang saudara/para abang Merah Mege setelah memasukkan Merah Mege ke dalam jurang/Gua Loyang Datu dan setelah ketahuan oleh orang tuanya berdasarkankan kebiasaan anjing Merah Mege yang selalu mengantar Merah Mege ke dalam Gua. Anjing mengantar makanan untuk Merah Mege . Karena ketahuan, maka saudaranya lari ke tempat di dekat Gemboyah dan menanam Jagung (bhs. Gayo, Jagong).

Orang tua Merah Mege mendengar cerita orang yang berlalu lalang dari Pesisir Barat Aceh yang bercerita bahwa di tempat dekat sungai di antara Gemboyah dan Jeget ada 6 orang pemuda yang bercocok tanam jagung.

Segera orang tua Merah Mege menjemputnya. Namun ketika diketahui ayahnya menjemput, para abang Merah Mege segera berlari, ada yang ke Pantai Barat, Pantai Utara Aceh. Mereka adalah Merah Silu, Merah Bacang, Merah Pupuk, Merah Jernang dan seterusnya. Ceritanya cukup panjang.

Intinya, Nama Jagong Jeget merujuk pada nama UPT. Selain Jagong Jeget, ada lagi pemukiman transmigrasi di wilayah itu, yaitu Gegarang dan Berawang Dewal yang penduduknya juga berasal dari Jawa yang merupakan transmigran umum serta penduduk lokal sebagai transmigran lokal. Gegarang dan Berawang Dewal juga nama tempat yang sudah lama/dari dahulu diberikan oleh penduduk tempatan.

Maka, ketika memberi nama dusun di Jagong Jeget (sekarang sudah menjadi desa/kampung), saya yang kebetulan saat itu sebagai salah satu pemuda yang sering terlibat dalam kegiatan masyarakat, selalu mengusulkan bahwa dalam pemberian nama-nama dusun hendaknya tetap merujuk sejarah. Tujuannya agar jangan mengganti nama tempat karena membuat sejarah dengan menutup sejarah.

Untuk UPT II/SP I Jagong Jeget (Atu Lintang), saya tidak terlibat dalam pemberian nama dusun. Namun untuk UPT III Batu Lintang/ Merah Mege saya ikut memberi nama agar jangan membawa nama Baru dari Jawa. Karena tempat yang didatangi oleh para transmigran dari Jawa sudah sejak zaman dahulu sudah memiliki nama tempat.

*Tenaga Fungsional Pengawas Pendidikan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah, Berasal dari Jagong Jeget

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.