Oleh : Tika Sadiva (Mahasiswa IAIN Takengon)
Di tengah banyaknya sekolah yang berlomba-lomba mengejar nilai akademik tertinggi, SMA Negeri 15 Takengon Binaan Nenggeri Antara atau yang akrab disebut Negan memilih jalan yang berbeda.
Sekolah ini percaya bahwa sebelum siswa pintar di bidang pelajaran, mereka harus terlebih dahulu menjadi manusia yang punya karakter kuat, akhlak yang baik, dan identitas budaya yang jelas.
Visi Negan sederhana tapi penuh makna: “Mewujudkan siswa-siswi yang berkarakter.”
Namun jangan salah cara mereka menjalankan visi ini jauh dari kata biasa. Setiap program, setiap mata pelajaran, bahkan cara guru tersenyum pun dirancang dengan tujuan yang jelas: membentuk generasi yang tidak hanya cerdas di kepala, tapi juga kuat di hati.
Lantas, apa saja yang membuat Negan begitu berbeda? Berikut penjelasan lengkapnya.
1. Sumang Gayo Literasi: Saat Adat Jadi Panduan Hidup di Sekolah
Masyarakat Gayo di Aceh Tengah sudah lama mengenal nilai yang disebut Sumang. Secara sederhana, Sumang adalah aturan adat tentang batasan-batasan dalam pergaulan cara bicara yang sopan, cara bersikap kepada yang lebih tua, batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan, serta tata krama dalam kehidupan sehari-hari.
Di Negan, nilai Sumang ini tidak hanya dijadikan bahan pelajaran atau pajangan di dinding kelas. Nilai ini benar-benar diterapkan sebagai pembatas dalam kehidupan nyata di sekolah dalam cara siswa berbicara kepada guru, cara bergaul dengan teman, hingga cara bersikap saat berada di lingkungan sekolah.
Inilah yang kemudian dikenal sebagai “Sumang Gayo Literasi” sebuah konsep di mana siswa tidak hanya melek budaya sendiri, tapi juga aktif menggunakannya sebagai panduan hidup. Siswa yang lulus dari Negan diharapkan adalah siswa yang modern dalam ilmu, tapi tetap Gayo dalam karakter.
Sumang Gayo Literasi juga menjadi salah satu indikator keberhasilan siswa di sekolah ini. Artinya, keberhasilan bukan hanya dilihat dari nilai ujian, tapi juga dari seberapa baik siswa menerapkan etika dan tata krama Gayo dalam kehidupan sehari-hari.
2. Kurikulum Agama yang Terstruktur: Akidah Dulu, Baru yang Lain
Negan menerapkan Kurikulum Merdeka, namun pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi sekolah sendiri tidak dipaksakan seragam dengan sekolah lain.
Yang paling menarik adalah bagaimana mereka menyusun pelajaran agama Islam secara bertahap dan terstruktur dari kelas 10 hingga kelas 12.
• Kelas 10 (Akidah dan Akhlak)
Di sinilah fondasi dibangun. Kelas 10 difokuskan pada Akidah Akhlak karena pihak sekolah percaya bahwa akidah adalah “benteng” utama seorang siswa.
Sebelum mempelajari materi agama yang lebih dalam, siswa harus terlebih dahulu punya pondasi keyakinan yang kuat. Kalau akidah sudah kokoh, apa pun tantangan yang dihadapi di kelas 11 dan 12 bahkan di luar sekolah siswa akan tetap terarah.
• Kelas 11 (Al-Qur’an Hadist dan Bahasa Arab)
Setelah akidah kuat, siswa kelas 11 mulai diajak mendalami sumber utama ajaran Islam Al-Qur’an dan Hadist. Ditambah dengan Bahasa Arab, siswa diharapkan tidak hanya membaca teks agama, tapi juga mulai memahaminya secara langsung dari sumbernya.
• Kelas 12 Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Perjalanan belajar agama di Negan ditutup dengan Sejarah Kebudayaan Islam.
Di sinilah siswa diajak melihat gambaran besar bagaimana Islam tumbuh, berkembang, dan memberi pengaruh besar bagi peradaban dunia. Ini menjadi bekal wawasan sebelum mereka melangkah ke jenjang berikutnya.
3. Program 5T
Kegiatan keagamaan di Negan bukan hanya ada saat pelajaran agama berlangsung. Sekolah ini memiliki program ekstrakurikuler yang berjalan rutin: setiap Sabtu pagi diisi dengan Tahsin, dan setiap Senin diisi dengan Tahfizh. Secara keseluruhan, program ini dikenal dengan nama 5T:
• Tahsin Program belajar membaca Al-Qur’an dengan cara yang benar dan indah. Ini bukan sekadar bisa baca, tapi bagaimana makhraj (tempat keluarnya huruf) dan tajwid (aturan baca) benar-benar dikuasai.
• Tahfizh Program menghafal Al-Qur’an. Siswa dibimbing untuk secara konsisten menambah dan menjaga hafalan mereka, sehingga Al-Qur’an benar-benar tertanam dalam ingatan.
• Tafsir Program memahami makna dan isi Al-Qur’an secara lebih mendalam. Siswa tidak hanya hafal kata-katanya, tapi juga memahami apa yang terkandung di dalam ayat-ayat tersebut.
• Taqrir Program mengulang dan mempertegas hafalan yang sudah dikuasai agar tidak mudah hilang. Taqrir sangat penting karena menghafal saja tidak cukup hafalan harus dijaga dan diulang secara rutin.
• Tahbib Program menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an dan ilmu agama. Tujuannya agar siswa tidak merasa belajar agama sebagai beban, melainkan sesuatu yang mereka cintai dan rindukan.
4. Cara Mengajar yang Menyenangkan: Tiga Prinsip Utama
Salah satu hal yang membedakan Negan dari banyak sekolah lain adalah filosofi mengajarnya. Di sini, guru tidak diperbolehkan datang hanya untuk ceramah dari awal sampai akhir jam pelajaran. Ada empat prinsip mengajar yang harus dipegang setiap guru:
• Berkesadaran / Berkebutuhan
Siswa harus belajar dengan sadar dan tahu untuk apa mereka belajar. Bukan karena takut dihukum atau sekadar menggugurkan kewajiban, tapi karena mereka memang butuh dan ingin tahu. Guru bertugas membangun kesadaran itu sejak awal.
• Bermakna
Materi yang diajarkan harus yang benar-benar penting dan relevan dengan kehidupan siswa bukan asal mengejar semua bab di buku.
Lebih baik satu materi yang dipahami dengan tuntas daripada sepuluh materi yang hanya lewat begitu saja di kepala. Guru didorong untuk memilih materi esensial dan menyampaikannya dengan cara yang nyambung dengan dunia nyata siswa.
• Menggembirakan
Kelas yang menyenangkan adalah kelas yang membuat siswa betah belajar. Di Negan, guru diwajibkan hadir dengan “Senyum Simetris” senyum yang tulus dan hangat, bukan senyum paksaan.
Selain itu, guru juga didorong untuk sesekali menggunakan “ice breaking” permainan atau aktivitas singkat yang mencairkan suasana agar siswa tidak tegang dan tetap fokus.
5. Tiga Tantangan Besar yang Harus Dihadapi
Menjalankan konsep sekolah yang berbeda seperti ini tentu tidak mudah. Pihak Negan secara terbuka mengakui ada tiga tantangan utama yang harus terus dihadapi:
• Tantangan Kepemimpinan Kepala Sekolah
Kepala sekolah adalah kunci. Kalau kepala sekolah tidak punya keberanian, visi yang jelas, dan keagresifan dalam memimpin perubahan, maka program sebaik apa pun tidak akan berjalan. Keberhasilan sebuah sekolah sangat bergantung pada seberapa kuat kepemimpinan yang ada di puncaknya.
• Tantangan dari Guru
Guru adalah ujung tombak dari semua program ini. Tapi tidak semua guru mudah berubah. Banyak yang sudah bertahun-tahun mengajar dengan cara yang sama dan merasa cara itu sudah cukup.
Di Negan, guru dituntut untuk mau mengubah mindset, memiliki inisiatif, dan terus berinovasi dalam mengajar. Guru yang sudah selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka akan membuat siswa berkembang jauh lebih optimal.
• Tantangan dari Siswa
Tidak semua siswa datang dengan semangat belajar yang tinggi. Sebagian datang dengan latar belakang yang beragam, motivasi yang berbeda-beda, dan kebiasaan belajar yang belum terbentuk. Negan harus terus mendorong siswa untuk aktif terlibat, berpikir, dan berkembang bukan sekadar duduk mendengar. []





