Oleh : Nasrah*
Pernahkah kita merasa bahwa pelajaran agama hanya sekadar teori? Kini, melalui Kurikulum Merdeka, pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dibuat lebih nyata, mudah dipahami, dan tentunya lebih menyenangkan.
SMAN 15 Takengon sebagai salah satu lembaga pendidikan tingkat menengah di Kabupaten Aceh Tengah turut melaksanakan implementasi kurikulum sesuai dengan kebijakan nasional. Dalam pelaksanaannya, sekolah ini memberikan perhatian khusus terhadap peminatan Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai upaya membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter religius, moral, dan akhlak yang baik.
Perkembangan dunia modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi, globalisasi, dan perubahan sosial yang begitu cepat menuntut dunia pendidikan untuk terus melakukan pembaruan agar mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Salah satu unsur terpenting dalam sistem pendidikan adalah kurikulum. Kurikulum menjadi pedoman utama dalam menentukan arah pembelajaran, tujuan pendidikan, metode pengajaran, serta kompetensi yang harus dimiliki peserta didik. Oleh karena itu, perubahan kurikulum menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
Sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami berbagai perubahan kurikulum dari waktu ke waktu. Sebelum diterapkannya Kurikulum Merdeka, Indonesia menggunakan Kurikulum 2013 (K-13) sebagai pedoman utama dalam proses pembelajaran. Namun, seiring perkembangan zaman dan meningkatnya tantangan pendidikan global, Kurikulum 2013 dianggap masih memiliki beberapa keterbatasan, terutama dalam hal fleksibilitas pembelajaran dan penyesuaian terhadap kemampuan peserta didik. Oleh karena itu, pemerintah menghadirkan Kurikulum Merdeka sebagai penyempurnaan sistem pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman modern.
Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada guru untuk menyesuaikan metode pembelajaran sesuai dengan kondisi peserta didik dan lingkungan sekolah. Selain itu, kurikulum ini juga memberikan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan inovasi.
Kemajuan teknologi yang tidak disertai dengan pendidikan moral dan agama yang kuat dapat mengakibatkan menurunnya nilai-nilai etika, sopan santun, serta meningkatnya perilaku negatif di kalangan remaja. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peranan penting dalam menciptakan keseimbangan antara perkembangan intelektual dan pembentukan karakter peserta didik. Pendidikan Agama Islam bukan hanya sekadar mata pelajaran di sekolah, tetapi juga menjadi pedoman hidup yang mengajarkan nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan kegiatan pembelajaran dan diskusi akademik yang terlihat dalam proses belajar di kelas, implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran PAI di SMAN 15 Takengon menunjukkan adanya keterlibatan aktif antara guru dan peserta didik. Hal ini mencerminkan upaya sekolah dalam menerapkan pembelajaran yang komunikatif, partisipatif, dan berorientasi pada penguatan nilai-nilai keislaman.
Kurikulum merupakan komponen penting dalam sistem pendidikan karena menjadi pedoman dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Kehadiran Kurikulum Merdeka membawa perubahan besar terhadap proses pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, penguatan karakter, serta pengembangan kompetensi dan kreativitas siswa.
Contohnya, pada bulan suci Ramadan biasanya terdapat materi khusus yang diajarkan secara terpisah. Namun, di SMAN 15 Takengon materi tersebut diintegrasikan dengan pelajaran lain. Dengan demikian, siswa dapat belajar agama sekaligus memahami kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Selain itu, guru juga tidak sembarangan mengambil materi dari internet atau dari sekolah lain. Misalnya, materi dari daerah Bireuen belum tentu sesuai dengan kondisi peserta didik di Takengon. Oleh karena itu, guru memilih dan menyesuaikan materi agar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Yang terpenting bukan sekadar mengikuti materi yang ada, melainkan memastikan siswa benar-benar memahami pembelajaran tersebut.
Dalam implementasinya, SMAN 15 Takengon telah menerapkan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka dengan menyesuaikan kebutuhan sekolah dan karakteristik peserta didik. Pada peminatan PAI, guru tidak hanya menggunakan metode ceramah, tetapi juga menerapkan:
- Diskusi kelompok
- Presentasi
- Pembelajaran berbasis proyek
- Kajian keagamaan
- Praktik ibadah
Pembelajaran kontekstual
Pendekatan tersebut bertujuan agar siswa lebih aktif dalam memahami nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan beberapa penelitian, implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PAI menekankan pembelajaran yang fleksibel, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan karakter siswa.
Guru Pendidikan Agama Islam juga berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan religius. Hal ini sejalan dengan tujuan Profil Pelajar Pancasila, yaitu membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia.
Dalam strategi pembelajaran PAI di SMAN 15 Takengon terdapat beberapa strategi yang digunakan, antara lain: Pembelajaran berbasis diskusi, yaitu guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat terkait materi keislaman sehingga pembelajaran menjadi lebih interaktif.
Pendekatan kontekstual, yaitu materi PAI dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari agar siswa lebih mudah memahami dan menerapkannya.
Penguatan karakter, yaitu pembelajaran tidak hanya menargetkan nilai akademik, tetapi juga pembentukan sikap religius, disiplin, tanggung jawab, dan toleransi.
Berdasarkan hasil pengamatan dan kajian teori, implementasi Kurikulum Merdeka di SMAN 15 Takengon pada peminatan PAI menunjukkan arah yang positif. Pembelajaran mulai berpusat pada siswa serta menekankan pengembangan karakter religius dan keterampilan berpikir kritis. Namun demikian, implementasi tersebut masih memerlukan penguatan, terutama dalam:
Peningkatan kompetensi guru
Pemanfaatan teknologi pembelajaran
Pengembangan media ajar
Pendampingan berkelanjutan terhadap peserta didik
Kurikulum Merdeka memberikan peluang besar bagi guru PAI untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Jika diterapkan secara optimal, pembelajaran PAI tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak dan spiritualitas yang baik.
Berdasarkan hasil pengamatan, implementasi Kurikulum Merdeka di SMAN 15 Takengon, khususnya pada peminatan PAI, telah berjalan dengan cukup baik melalui penerapan prinsip-prinsip pembelajaran yang berpusat pada siswa. Guru menggunakan berbagai metode pembelajaran aktif seperti diskusi, presentasi, dan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan pemahaman serta membentuk karakter religius siswa.
Keberhasilan implementasi tersebut didukung oleh peran guru, dukungan sekolah, serta antusiasme peserta didik. Namun, masih terdapat beberapa kendala seperti keterbatasan sarana, adaptasi kurikulum, dan kebutuhan peningkatan kompetensi guru.
Dengan evaluasi dan pengembangan yang berkelanjutan, implementasi Kurikulum Merdeka di SMAN 15 Takengon diharapkan mampu membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan berdaya saing.[]
*Mahasiswa IAIN Takengon





