Oleh: Dr. Jamhuri Ungel, MA
Ketika membaca sebuah buku tentang antropologi, saya mendapatkan sebuah definisi dari kata yang selama ini sering terdengar dan saya baca, yaitu kata sejarah. Selama ini saya mendapatkan makna sejarah sebagai peristiwa atau kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lalu atau masa yang sudah lewat.
Akan tetapi, di dalam buku antropologi yang saya baca, saya menemukan makna baru yang mungkin menurut sebagian orang definisi tersebut bukanlah suatu hal yang baru didengar, di mana kata sejarah disebutkan berasal dari kata sajaratun, atau dibaca dengan sejarah, yang artinya adalah pohon.
Penulis menjelaskan bahwa makna sejarah itu ibarat sebuah pohon, di mana mulai dari biji, kemudian tumbuh dan berkembang menjadi batang, lalu muncullah cabang, kemudian berbunga dan berbuah.
Setelah berbuah, kemudian muncul atau jadilah biji-biji yang kemudian tumbuh kembali menjadi batang. Penulis mengatakan bahwa itulah makna sejarah. Apakah itu sejarah manusia, sejarah hewan, ataupun sejarah apa pun yang ada di dunia ini.
Seperti halnya sejarah manusia yang dimulai dari seorang bayi, kemudian menjadi anak-anak, dewasa, kemudian meninggal. Kejadian ini terus berlangsung dan bergantian antara satu manusia dengan manusia yang lain.
Dari makna ini, saya terinspirasi mengkaji sebuah pohon. Dalam masyarakat Gayo ada dua pohon yang digunakan atau memakai kata-kata Gayo. Yang pertama adalah Tajuk Gayo dan yang kedua adalah Kelèlè Gayo, atau sering disebut dengan Asam Kelèlè Gayo.
Tajuk Gayo adalah sebuah tanaman liar yang tumbuh di pinggiran-pinggiran jalan atau juga di pinggiran sawah-sawah para petani. Di antara tanaman-tanaman liar yang biasa tumbuh bersamaan dengan Tajuk Gayo itu adalah tanaman liar berupa atau bernama kelulut dan juga tajuk kayu itu sendiri.
Tajuk Gayo mempunyai postur tinggi sekitar satu meter dan paling tinggi sekitar satu setengah meter. Cabang dari Tajuk Gayo tersebut tidak mengembang, tetapi menjulur ke atas.
Kemudian mempunyai daun yang agak rimbun di bagian atas dan setiap cabangnya memiliki bunga serta tidak memiliki buah. Sehingga kata tajuk untuk tanaman liar tersebut bisa dimaknai sebagai sebuah pohon liar yang tidak memiliki buah, namun hanya memiliki bunga.
Berbeda dengan tanaman-tanaman yang lain seperti yang dikatakan di atas. Ada suatu tanaman yang juga liar, di mana tanaman tersebut memiliki cabang yang mengembang dan memiliki daun serta buah. Sedangkan pelulut adalah suatu tanaman yang juga liar, di mana batangnya lurus memanjang dan mempunyai kulit.
Kulit dari batangnya dapat dijadikan sebagai tali. Pelulut juga mempunyai bunga dan kemudian menjadi buah.
Jadi, Tajuk Gayo berbeda dengan tanaman-tanaman liar seperti yang disebutkan di atas. Perlu ada sebuah penekanan untuk mengenal ciri dari batang Tajuk Gayo tadi.
Tajuk Gayo adalah sebuah batang yang berdiri, kemudian pada postur tertentu cabangnya mengarah ke atas. Di setiap ujungnya ada bunga. Bunganya tidak mengembang, tetapi memanjang dan runcing, dan bunga tersebut menunjuk ke atas.
Kemudian, Kelèlè Gayo. Kelèlè Gayo merupakan salah satu dari jenis jeruk di antara jeruk-jeruk yang ada di Gayo. Jeruk-jeruk yang lain yang dikenal di Gayo adalah asam kelèlè, asam delima manis, asam pepohok Hasan, dan lain-lain. Termasuk di dalamnya salah satu jenis adalah Kelèlè Gayo atau juga sering disebut dengan Asam Kelèlè Gayo.
Postur atau bentuk dari Asam Kelèlè Gayo ini mempunyai pohon yang tinggi. Kemudian cabang-cabang dari pohon jeruk ini juga mengarah ke atas, kemudian daun yang rindang atau daun yang lebat menutup di bagian atas dari cabang-cabang pohon jeruk tersebut.
Batangnya mempunyai kekuatan melebihi dari jeruk-jeruk yang lain. Sehingga kendati cabangnya panjang dan tinggi, biasanya ketika orang memanjat jeruk atau Kelèlè Gayo ini, mereka tidak takut jatuh karena buah dari Kelèlè Gayo ini berada di ujung dari cabang-cabang jeruk tersebut.
Jeruk ini mempunyai rasa yang berbeda juga dengan jeruk-jeruk yang lain, di mana Kelèlè Gayo mempunyai rasa lebih manis dibandingkan dengan jeruk-jeruk yang lain. Bentuk jeruk atau buah Kelèlè Gayo sekarang lebih dikenal dengan nama jeruk keprok.
Namun, ketika kita bedakan, jeruk keprok mempunyai buah yang lebih besar, sedangkan Kelèlè Gayo mempunyai buah yang tidak begitu besar, tetapi manis dan bahkan lebih manis dari jeruk keprok itu sendiri.
Memperhatikan kedua batang dari Tajuk Gayo dan Kelèlè Gayo, kendati berbeda ukuran, di mana Tajuk Gayo berupa tanaman liar dan kecil, sedangkan jeruk adalah tanaman yang memiliki pohon yang besar sehingga bisa dipanjat, tetapi dari struktur atau bentuk dari kedua batang pohon ini mempunyai kesamaan.
Yang paling bawah adalah batang, kemudian agak tinggi muncul cabang dan cabang-cabangnya mengarah ke atas, tidak mengembang. Tajuk Gayo juga mempunyai postur yang sama.
Di sini penulis merasa penasaran ketika kedua tanaman tersebut dinamakan dengan mencantumkan kata-kata Gayo, yaitu jeruk Gayo atau Kelèlè Gayo serta Tajuk Gayo.
Kenapa kedua pohon tersebut dinamakan dengan pohon yang disematkan kata-kata Gayo? Mungkin ini menjadi misteri bagi saya sendiri dan mungkin juga untuk masyarakat Gayo yang selama ini mungkin tidak memperhatikan apa makna dari pelabelan kata-kata Gayo kepada kedua tanaman tersebut.
Saya mencoba melihat sebagaimana yang saya sebutkan tentang postur dari pohon tersebut, bahwa cabang-cabang dari kedua pohon tersebut mengarah memanjang ke atas, daun-daun merindang di atas, lalu Tajuk Gayo bunganya menunjuk ke atas dan buah dari Kelèlè Gayo terdapat di bagian atas dari pohon tersebut.
Secara teologis, saya mencoba untuk mengatakan bahwa prinsip dari kedua pohon tersebut adalah mencari atau ingin menggapai ketinggian, mencari tingginya Sang Khalik, mencari atau menggantungkan cita-cita yang tinggi tanpa ada batasan.
Sehingga orang dahulu sering menyebut sebuah ungkapan, “Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit.”
Bahwa seharusnyalah orang Gayo selalu berupaya menanamkan ketinggian dan mencari ketinggian Allah, untuk selalu beribadah dan menanamkan dalam diri bahwa Allah-lah Yang Mahatinggi dan terus disembah setiap saatnya tanpa mengenal kata lelah.
Dari sisi lain, berbuatlah dan berusahalah dengan sungguh-sungguh sampai kepada cita-cita yang paling tinggi, bahkan setinggi bintang di langit. Ini adalah sebuah ungkapan dari makna Tajuk Gayo dan Kelèlè Gayo yang terinspirasi dari kata sejarah yang berasal dari kata bahasa Arab, yakni sajaratun atau syajarah yang berarti pohon.
Sangat luar biasa para tokoh, para ahli, dan masyarakat Gayo di masa awal ketika memilih pohon yang dilabeli dengan kata-kata Gayo. Karena jutaan pohon, jutaan tanaman liar, dan jutaan rerumputan yang tidak terhitung jumlahnya, tetapi mengapa kata Gayo hanya dilabelkan pada dua jenis tanaman, yakni Tajuk Gayo dan jeruk atau Asam Kelèlè Gayo?
Mudah-mudahan inspirasi ini membuat sebuah pemahaman atau sebuah analisis kajian yang mungkin bagi kita masing-masing sebagai pemikir dan sebagai perenung untuk mengkaji kembali apa makna atau falsafah yang diberikan oleh masyarakat Gayo awal kepada kedua pohon tersebut. []





