Perpaduan Antara Kurikulum Merdeka dan Muatan Lokal Keislaman di SMA Negeri 15 Takengon

oleh

Oleh : Very Irawan Ramadhan (Mahasiswa Jurusan PAI IAIN Takengon)

Dalam upaya menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya dan spiritual, SMA Negeri 15 Takengon Binaan Nenggeri Antara terus berinovasi.

Sebagai satu-satunya SMA Binaan di Kabupaten Aceh Tengah yang memiliki fokus pada pembentukan karakter intelektual muslim, sekolah ini berhasil memadukan fleksibilitas Kurikulum Merdeka dengan kekhasan Muatan Lokal (Mulok) Keislaman.

Perpaduan ini menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh secara spiritual.

Kurikulum Merdeka: Fleksibilitas dan Proyek Profil Pelajar Pancasila

Penerapan Kurikulum Merdeka di SMA N 15 Binaan Nenggeri Antara memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi guru dan siswa. Fokus pada materi esensial memungkinkan pembelajaran berlangsung lebih mendalam, bermakna, dan tidak terburu-buru.

Dalam konteks ini, Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dirancang untuk menanamkan nilai-nilai kebhinekaan, gotong royong, dan kemandirian.

Uniknya, P5 di sekolah ini diintegrasikan dengan nilai-nilai Islami, seperti proyek pengolahan sampah berbasis lingkungan yang dikaitkan dengan konsep Khalifah fil Ardh (manusia sebagai pengelola bumi).

Muatan Lokal Keislaman: Akar Karakter Islami

Muatan Lokal Keislaman di SMA N 15 Takengon bukan hanya sekadar mata pelajaran tambahan, melainkan pondasi pembentukan “Berakhlakul Karimah”.

Kurikulum muatan lokal ini disusun untuk mencerminkan kultur Aceh yang kental dengan nilai-nilai Islam, di antaranya:

• Tahfidz Quran & Studi Kitab: Program intensif yang bertujuan mencetak generasi penghafal Al-Quran.
• Bahasa Arab & Fikih Ibadah: Penguatan kemampuan bahasa asing dan pemahaman fikih sehari-hari.
• Adab dan Akhlak: Pembiasaan adab terhadap guru dan sesama, yang diintegrasikan dalam kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) sekolah.

Sinergi dalam Ekosistem Sekolah
Integrasi kedua komponen ini terwujud dalam keseharian sekolah. Pembelajaran kurikulum merdeka yang berbasis proyek (project-based learning) digunakan untuk mengaplikasikan ilmu agama.

Sebagai contoh, siswa diminta membuat proyek digital tentang sejarah perkembangan Islam di Gayo, yang memadukan keterampilan teknologi (abad ke-21) dengan muatan lokal religi.

Selain itu, program boarding school yang dikembangkan sekolah memaksimalkan perpaduan ini. Di luar jam akademik, siswa mengikuti pembiasaan ibadah, seperti salat berjamaah tepat waktu, kultum, dan pengajian malam.

Perpaduan ini terbukti membuahkan hasil yang positif. SMAN 15 Binaan Nenggeri Antara berhasil membuktikan bahwa sekolah dengan fokus keislaman mampu bersaing secara akademik.

Data tahun 2025 menunjukkan, siswa sekolah ini mampu menguasai nilai tertinggi dalam berbagai try-out akademis di Aceh, membuktikan bahwa pendekatan integratif mampu menghasilkan intelektual muslim yang unggul.

SMA N 15 Binaan Nenggeri Antara berhasil menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka dan Muatan Lokal Keislaman bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi. Dengan perpaduan ini, sekolah mampu mencetak generasi yang intelek. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.