Mobil Pertama di Celala Aceh Tengah

oleh

Catatan : Khaironi, M.Pd*

Transportasi tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di era sekarang ini. Beda halnya di masa kakek moyang dulu. Mereka menggunakan hewan peliharaan (kuda) sebagai transportasi untuk mengangkut barang. Pun demikian pada masa dulu hanya ada beberapa orang yang memiliki hewan peliharaan tersebut.

Secara analogika transportasi sangat mempengaruhi perkembangan dan majunya suatu daerah. Anwar (1995), menyatakan bahwa kemajuan kehidupan masyarakat dapat berkorelasi sangat signifikan dengan perubahan teknologi baru yang bertambah baik dalam transportasi dan angkutan umum. HubunganHubungan signifikan ini bisa dapat ditinjau dari sisi manfaat sosial ekonomi maupun biaya sosial yang diakibatkan oleh adanya jasa transportasi.

Secara sosial, transportasi sangat membantu dalam menyediakan berbagai kemudahan, antara lain, (a) pelayanan untuk individu maupun kelompok, (b) pertukaran atau penyampaian informasi, (c) perjalanan untuk bersantai, (d) perluasan jangka perjalanan sosial, (e) pemendekan jarak antar rumah dan tempat kerja, (f) bantuan dalam memperluas kota atau melancarkan penduduk menjadi kelompok yang lebih kecil (Nasution, 1999; M. Siregar, 1983).

Pada kesempatan ini mari mengulik sedikit sejarah mobil pertama di Kecamatan Celala, Kabupaten Aceh Tengah. Tahun 1965 (kurang lebih) kondisi infrastruktur masih belum memungkinkan untuk di lalui sebuah kenderaan bermesin, namun pertumbuhan perekonomian masyarakat mulai meningkat.

Masyarakat pada masa itu kebanyakan mengelola lahan sebagai areal pertanian. Sedangkan hasilnya digunakan untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari, serta dijadikan jasa untuk buruh kasar.

Kala itu masyarakat Celala umumnya berbelanja serta menjual hasil buminya ke sebuah Kampung berkembang bernama Angkup di Kecamatan Silih Nara, pada saat itu Celala bagian dari Kecamatan Silihnara, sebelum dimekarkan.

Setelah sholat subuh biasanya masyarakat Celala bersiap-siap untuk menuju Angkup guna membawa hasil bumi yang di perdagangan.

Pada masanya masyarakat berangkat secara berkelompok hal ini dikarenakan medan yang lumayan buruk, dan masih banyak hewan liar seperti harimau yang seakan-akan menjadi ancaman.

Pun Demikian masyarakat sangat antusias untuk menuju Angkup. Sebagian besar masyarakat membawa hasil buminya dengan cara mengendong (ijangkat : dalam bahasa Gayo) dan ada juga menggunakan kuda.

Angkup memiliki sejarah Bagi masyarakat yang berada di Dapil 3 ini. Karena bagi masyarakat, Angkup merupakan terminalnya manusia untuk berdagang dan berbelanja kala itu.

Pada tahun 1970 seorang saudagar bernama Reje Mude atau yang banyak diketahui masyarakat Celala Aman Nyak Arif asli putra daerah keturunan dari Abu Bin Kramu (Pang Bedel), memiliki sebuah usaha Kilang Padi (mesin penumbuk padi) mulai berpikir untuk membeli sebuah mobil.

Dimana mobil ini yang digunakan untuk usahanya dan terkadang dimanfaatkan sebagai transfortasi umum untuk menuju Angkup. Keberadaan mobil tersebut menjadi tontonan bagi anak-anak pada masanya.

Seiring dengan berjalanya waktu, dengan adanya mobil tersebut infrastruktur perlahan mulai dibenahi, pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi di Celala mulai meningkat. Sama halnya dengan transfortasi umum mulai membaik dan bertambah, meskipun angkutan umum Celala-Angkup perlahan hilang lantaran kebanyakan masyarakat sekarang memiliki transfortasi pribadi.

Pembelajaran yang dapat di ambil. sebuah sebuah desa bisa berkembang dan maju apabila infrastrukturnya baik.

*Warga Berawang Gading, Celala

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.