Sosok Syahrial, Pemimpin di Tengah Kabut Ketidakpastian

oleh

Oleh : Kurnianda (Mahasiswa USK Asal Singah Mulo)

Ketika duka bencana hidrometeorologi kian meluas dan ketidakpastian jalur alternatif mulai melelahkan batin warga desa, masyarakat pedalaman Pintu Rime Gayo membutuhkan lebih dari sekadar janji pemulihan.

Mereka membutuhkan sebuah kepemimpinan nyata yang hadir langsung di atas tanah berlumpur Enang-Enang.

Di titik nadi itulah, sebuah harapan baru mulai berembus dari keteguhan hati seorang tokoh masyarakat, Syahrial Sebagai seorang mantan Mukim—lembaga adat yang posisinya sangat dihormati dan dekat di hati masyarakat Aceh.

Pak Syahrial bukan sekadar nama di atas kertas birokrasi. Beliau adalah sosok orang tua bagi warga di pelosok-pelosok desa.

Kesehariannya yang bersahaja membuat beliau sangat memahami denyut nadi kehidupan petani kopi dan pedagang kecil di daerahnya.

Ketika jembatan nasional terputus dan perekonomian warga mulai lumpuh, Bapak Syahrial tidak memilih diam di dalam rumah.

Beliau turun ke jalan, berdiri di antara antrean kendaraan, mendengarkan keluh kesah para sopir truk, dan merasakan langsung kecemasan yang dirasakan oleh setiap kepala keluarga.

Kharisma Pak Syahrial tidak lahir dari retorika di ruang-ruang rapat yang nyaman, melainkan dari keberaniannya untuk mengambil tanggung jawab di saat krisis.

Saat sebagian besar orang mulai putus asa melihat jalur alternatif yang sempit dan rusak parah, beliau melihat potensi tersembunyi yang ada pada diri masyarakat Gayo: yaitu tradisi gotong royong yang selama ini menjadi jiwa dari Tanoh Gayo.

Beliau meyakini bahwa jembatan yang patah boleh saja menghentikan laju kendaraan, namun tidak boleh mematahkan harga diri dan kemandirian warga desa.

Kehadiran Pak Syahrial di tengah situasi pilu ini menjadi pemantik awal yang sangat krusial. Kepercayaan (trust) mendalam yang telah beliau pupuk selama bertahun-tahun di tengah masyarakat membuat setiap ucapannya didengar dengan penuh hormat.

Beliau hadir bukan untuk menyalahkan keadaan, melainkan untuk mengetuk pintu hati setiap warga, aparatur kampung, hingga para donatur guna menyatukan barisan.

Melalui langkah awal inilah, kabut keputusasaan yang sempat menyelimuti Tajuk Enang-Enang perlahan mulai tersibak, bersiap menyambut sebuah gerakan swadaya terbesar yang akan tercatat dalam sejarah persatuan masyarakat pedalaman Gayo. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.