Oleh: Kurnianda, SH
Ada sebuah kegelisahan yang belakangan ini sering mengemuka di ruang-ruang diskusi kebudayaan kita: apakah nilai-nilai leluhur warisan masa lalu akan ikut terkubur oleh waktu?
Di era modern yang bergerak serba cepat, kita sering kali dilanda kecemasan bahwa kompas moral tertua milik Tanoh Gayo, “alang tulung, beret bebantu,” perlahan telah bertransformasi menjadi sekadar untaian kalimat usang di dalam buku sejarah yang berdebu.
Kita kerap bertanya, apakah ikatan suci itu masih hidup di dalam dada generasi hari ini, atau ia sudah menguap menjadi sekadar slogan masa lalu yang tak lagi bertuan?
Untuk menjawabnya, saya mengambil contoh dengan Enang-enang yang sedang viral pada saat ini kita harus membuka dan mengulas kembali lembaran sejarah kelam pada awal abad ke-20, sekitar tahun 1903.
Kala itu, di bawah ancaman laras senapan kolonial Belanda, para Indatu (nenek moyang) kita dipaksa membelah tebing batu dan menembus jurang maut Tajuk Enang-Enang melalui sistem kerja paksa (rodi).
Tanpa peralatan modern, hanya bermodalkan linggis dan cangkul, setiap meter jalan yang terbuka dibayar mahal oleh cucuran keringat, genangan darah, bahkan taruhan nyawa para pendahulu kita.
Namun, di balik kekejaman kolonialisme itu, ada satu hal yang membuat mereka bertahan hidup dan berhasil menyelesaikan jalur mustahil tersebut: yaitu persatuan batin yang kokoh. Mereka saling menopang di tebing-tebing curam karena tahu, tanpa kebersamaan, mereka semua akan binasa.
Nilai heroisme yang sarat akan pengorbanan nyawa itu, nyatanya berhasil kita temukan kembali dalam wujud yang berbeda pada gerakan swadaya masyarakat baru-baru ini.
Ketika jalur lintas nasional tersebut lumpuh akibat bencana hidrometeorologi, ruh perjuangan masa lalu itu seolah bangkit dari tidur panjangnya. Dipelopori oleh inisiatif tulus tokoh masyarakat dan digerakan juga oleh beberapa elemen maka dalam swadaya pembangunan enang-enang saat ini kita menyaksikan sebuah panggung klimaks persatuan yang sangat kolosal.
Gelombang donasi dan empati mengalir deras tanpa sekat dari segala penjuru daerah.Warga biasa dan petani kecil di pedalaman menyisihkan modal harian mereka; anak-anak di sekolah dari TK sampai tingkat SMA mengikhlaskan uang jajannya; sementara para guru bergerak bersama kepala sekolah menyisihkan sisa gajinya, jajaran Dinas Pendidikan bersama rekan Cabang Dinas Pendidikan menyalurkan dukungan moral dan fisik materiil yang nyata, dari Kumpulan para Ulama mengajak, menghimbau serta mengirimkan Doa-doa terbaiknya.
Kebersamaan kian mengental saat para pengusaha daerah turun tangan menyumbangkan logistik, didampingi kehadiran Danramil beserta jajarannya yang mengawal ketertiban fisik dengan penuh dedikasi di lapangan. Tak ketinggalan, para wartawan dan insan pers setia berdiri di tengah debu dan lumpur, menggunakan pena mereka untuk mengabarkan suara perjuangan ini hingga viral.
Generasi muda yang kerap dicap individualis oleh zaman justru melebur di barisan depan, mengubah gawai mereka menjadi penyambung informasi digital, sementara sebagian lainnya melompat langsung mengayunkan cangkul bersama para orang tua untuk saling bahu membahu.
Kolaborasi lintas elemen ini menjadi bukti sahih bahwa alang tulung, beret bebantu bukan sekadar falsafah atau dongeng masa lalu yang telah hilang. Nilai itu terbukti masih ada, hidup, dan berdenyut subur di dalam darah generasi penerus kita.
Namun, setelah jembatan darurat itu berhasil dibuka oleh kekuatan swadaya, sebuah pertanyaan kritis dan mendalam kini musti kita layangkan ke dalam sanubari masing-masing: Akankah gerakan persatuan yang seindah ini hanya bergerak dan berhenti di Tajuk Enang-Enang saja?atau masih ada juga yang belum tersentuh ditempat-tempat lainnya?
Tujuan sejati dari falsafah alang tulung, beret bebantu bukanlah sebuah gerakan musiman yang hanya muncul di satu titik jembatan yang rusak. Nilai luhur ini dirumuskan leluhur agar menjadi pola hidup yang abadi. Kita tidak boleh membiarkan semangat kerakyatan yang luar biasa ini meredup seiring dengan selesainya perbaikan jalan. Persatuan saling membantu ini harus mampu kita replikasi, kita bawa, dan kita hidupkan kembali dalam kondisi yang berbeda, di tempat-tempat yang berbeda, dan di mana saja kaki kita berpijak.
Pascabencana alam yang melanda, banyak sendi kehidupan masyarakat di pelosok desa yang masih tertatih-tatih untuk bangkit. Sektor pertanian, usaha kecil mikro, hingga pendidikan anak-anak di pedalaman membutuhkan sentuhan gotong royong yang sama.
Jika semangat persatuan kolosal antara petani, pengusaha, guru, aparat keamanan, wartawan, dan generasi muda di Enang-Enang kemarin mampu kita pertahankan untuk membangun sektor-sektor kehidupan lainnya, maka kemakmuran dan pemulihan ekonomi pascabencana bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan secara merata.
Kini, tugas kita sebagai generasi hari ini adalah memastikan bahwa nyala api alang tulung, beret bebantu tidak kembali tertidur di balik kabut Pintu Rime. Mari kita bawa semerbak kebaikan ini keluar dari lekukan Enang-Enang, menjadikannya nafas perjuangan di setiap sudut kampung dan daerah, demi membuktikan bahwa kebersamaan adalah modal terbesar bangsa ini untuk bangkit dan tegak berdiri menantang zaman.





