Puasa dan Pembinaan Mental

oleh

Ali Abubakar*

ALI-Abu-bAKARDALAM filsafat Yunani kuno, sudah dikenal konsep kejadian manusia. Salah satunya adalah filsafat emanasi (nadzariyyat al-faidh) Plotinus yang menyatakan bahwa wujud alam semesta ini (termasuk manusia) memancar dari Tuhan Yang Maha Esa. Ruh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tetapi dengan masuknya ke alam materi, ruh menjadi kotor dan untuk dapat kembali ke asalnya, ruh harus dibersihkan terlebih dahulu. Pensucian ruh adalah dengan meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan sedekat mungkin. Ini juga diungkapkan oleh filsafat mistik Phytagoras. Konsep bahwa substansi manusia adalah suci karena berasal dari Tuhan dan akan mendapat kebahagiaan tertinggi dengan kembali ke asalnya juga dikenal dalam banyak ajaran peradaban  dan agama; Konghucu; Kristen; Hindu dan Budha. Dalam Islam, filsafat ini juga cukup dikenal; didasarkan kepada Al Hijr 29: Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya (manusia), dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

Di antara cara mencapai kesucian ruh yang populer dalam berbagai filsafat dan agama adalah melaksanakan puasa. Jadi puasa sebetulnya adalah ajaran yang sangat universal. Puasa sudah dikenal sejak Mesir Kuno lalu meluas ke Yunani dan Romawi. Hindu dan Budha juga mengenal puasa. Dalam Taurat disebutkan puasa dan pujian atas orang yang melakukannya, namun tidak disebutkan wajibnya puasa. Dalam Injil disebutkan bahwa puasa adalah salah satu jenis ibadah dan pujian terhadap ibadah ini. Puasa yang dikenal sejak awal dalam agama Nasrani adalah puasa sebelum Hari Raya Paskah. Sampai sekarang Dewan Gereja menetapkan beberapa puasa, tapi berbeda menurut sektenya. Karena keuniversalan puasa itulah Allah menyatakan bahwa puasa pernah diwajibkan kepada umat-umat sebelum Islam.

Dalam bahasa agama Islam, pentingnya pensucian jiwa untuk pertemuan dengan Tuhan  melalui puasa dinyatakan Nabi dalam beberapa hadis, misalnya Nabi mengatakan bahwa salah satu kegembiraan yang akan didapat oleh orang yang berpuasa adalah ketika ia bertemu dengan Tuhannya. Dalam hadis lain dinyatakan bahwa tiap-tiap sesuatu ada zakat (pembersih)nya dan zakat badan adalah berpuasa). Termasuk potongan hadis, tiap-tiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa; puasa itu untukKu. Semua contoh hadis ini menyatakan bahwa puasa adalah salah satu sarana mencapai kesucian jiwa untuk mencapai Yang Maha Suci.

Dalam bentuk yang lebih teknis, Nabi menyebutkan beberapa hikmah puasa, antara lain untuk mengendalikan diri. Ini adalah hikmah terpenting puasa Ramadhan; pengendalian diri dari berbagai bentuk sikap atau ungkapan negatif yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, misalnya nafsu birahi yang “salah tempat”, marah, mengumpat dll. Dalam bahasa Al Ghazali, puasa adalah mengendalikan semua indera, termasuk hati.

Psikologi modern mengenal ada tiga potensi dasar pada manusia, yaitu potensi intelektual, emosional dan spiritual. Karena itu, setiap manusia memiliki ukuran potensi tersebut yang diistilahkan dengan IQ (Intelelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient). Dominasi salah satu dari ketiga potensi ini akan membentuk “warna” kepribadian seseorang. Umumnya, IQ terbentuk melalui pendidikan formal  dengan target nilai prestasi akademik tinggi, EQ melalui proses interaksi (antar individu, keluarga, kolegial, organisasi) dan SQ melalui pengalaman keagamaan. Melihat beberapa hikmah puasa, kelihatannya puasa adalah salah satu wadah pembentukan EQ dan SQ yang tepat karena puasa mengajarkan kesabaran, toleransi dll yang tidak didapatkan melalui pendidikan formal. Puasa adalah madrasah yang mengajarkan delayed gratification (kenikmatan tertunda) untuk kenikmatan yang tertinggi.

Ramadhan selama sebulan penuh adalah wadah latihan mengembalikan mental ke kondisi fitrahnya yaitu kesucian. Hasilnya diharapkan dapat diterapkan dalam 11 bulan berikutnya. Keberhasilan latihan ini dapat dilihat dalam kehidupan keseharian di luar Ramadhan.[]

*Ali Abubakar (Aman Nabila) adalah dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.