Bahasa Gayo Kecil dan Tidak Berwibawa

oleh

[Tinjauan Buku]

Oleh : Salman Yoga S

Cover-Buku-KamusJudul buku    : Hanya 850 Kata Gayo-Indonesia-Inggris
Penulis            : Drs. Abdussalam, M.Pd, CTESOL
Penerbit          : Prodi Linguistik Pascasarjana USU
Tahun             : 2012
ISBN               : 978-979-18672-0-7

MEDIA interaksi dan komunikasi kodrati setiap makhluk hidup adalah bahasa. Bahasa dalam segala bentuk baik berupa simbol, gerak, benda, tulisan, ekspresi, isyarat, warna, suara maupun bentuk-bentuk verbalitas lainnya yang beragam. Fungsi dasarnya adalah sebagai sarana interaksi komunikasi antara komunikator dan komunikan.

Sebagai koloni besar dengan sistem aturan tertentu, fungsi yang diutarakan oleh para ahli menyatakan bahwa bahasa bagi sebuah negara adalah merupakan kebanggaan, alat pemersatu, ciri dan identitas. Demikian pula kedudukan bahasa daerah pada masing-masing suku yang ada di seluruh dunia, tak terkecuali bahasa Gayo. Sebagai bagian terpenting dari eksistensi dan keberagaman dalam berbangsa dan bernegara, bahasa daerah mempunyai dasar hukum yang kuat dalam sistem perundang-undangan di Indonesia. Bunyi pasal 32 dan 36 UUD 1945 disebutkan bahwa bahwa;

“Budaya bangsa adalah buah budinya seluruh rakyat Indonesia, bahasa-bahasa daerah yang terdapat di seluruh Indonesia termasuk budaya bangsa, unsur budaya bangsa tetap dihormati  dan dipelihara oleh negara”.

Tekstual pasal ini sangat meyakinkan seluruh warga negara bahwa kekayaan bahasa daerah yang berjumlah ratusan di seluruh nusantara akan terlindungi dan terpelihara dari kepunahan. Sama halnya dengan keyakinan kita terhadap pasal lain dalam UUD yang berbunyi bahwa; “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”, atau indahnya tekstualitas sila ke-lima dari Pancasila yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Inilah paradoks-paradoks yang kerap kita temui di tengah-tengah masyarakat. Suatu kondisi sekaligus realitas yang kerap menjadi fenomena antagonis dalam bidang-bidang tertentu.

Dalam sebuah kajian singkat yang termuat dalam Jurnal Majalah Ilmiah Bahasa dan Sastra tahun 2007, seorang putra Gayo Dr. Rajab Bahry menuliskan bahwa Bahasa Gayo itu “kecil dan tidak berbiwawa”. Ada enam faktor penyebab hal tersebut tulis Dr. Rajab Bahry yang beberapa minggu lalu sempat berkomunikasi dengan penulis via handpond perihal terbitnya buku kumpulan cerpen terpilih yang ditulis dengan menggunakan dua bahasa Gayo-Indonesia (Perempuan Berjangkat Utem, TGI, 2015). Di antara penyebab Bahasa Gayo itu kecil dan tidak berbiwawa adalah karena “sumbangannya terhadap Bahasa Indonesia kecil, tidak mempunyai kedudukan yang strategis, jumlah penutur yang minim, persentase penutur Bahasa Gayo yang semakin kurang, dan tidak berwibawa atau kualitas bahasa penutur rendah serta perhatian pemerintah yang kurang”, tulisnya.

Mempunyai landasan hukum yang jelas dan pasti, negara wajib menjalankan amanah Undang-Undang tersebut melalui lembaga dan kementerian yang ada (Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, Lembaga Bahasa, Taman Budaya, Perguruan Tinggi, Perpustakaan Nasional). Merancang program khusus, terencana, berkelanjutan dan terukur terhadap kekayaan bahasa yang ada barangkali adalah salah satu langkah yang patut dipertimbangkan. Demikian pula dengan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota, dengan Lembaga dan Dinas-dinasnya yang berapliasi sekaligus mempunyai linierisasi dengan Perpuswil/Perpusda dan Unit Pelaksana Teknis lainnya. Undang-Undang telah mengakomodir, tinggal bagaimana menjalankan dan tidak mengimplementasikannya dengan setengah hati.

Merujuk kepada sejumlah penelitian dan karya-karya Michael E. Krauss (profesor bahasa Amerika dan pendiri Alaska Native Language Center /ANLC, serta spesialis bahasa Eyak, bahasa yang punah pada Januari 2008 ) yang banyak merekomendasikan teknik dan langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam melestarikan bahasa pribumi. Di antaranya adalah dengan menuliskannya dalam berbagai bentuk dan jenis tulisan, mulai yang bersifat akademis berupa penelitian dan kajian-kajian terarah serta pendokumentasian. Menjadikannya bagian yang integral dalam pendidikkan, penggalakkan penggunaan verbalitas, juga penulisan yang dekat dengan semua kalangan masyarakat seperti karya-karya sastra, termasuk di dalamnya adalah penulisan bahasa singkat dalam bentuk kamus.

Kehadiran buku “Hanya 850 Kata Gayo-Indonesia-Inggris Untuk Komunikasi Sehari-hari” karya Drs. Abdussalam, M.Pd, CTESOL mempunyai andil besar dalam membahasa Gayo-kan Gayo dan menjadikan Bahasa Gayo sebagai bagian dari dunia pendidikkan. Dari buku setebal 120 halaman ini kita juga mendapat informasi bahwa calling/summon (panggilan) “Sir” dalam stratafikasi sosial di negara Inggris sama halnya dengan sebutan/panggilan “Aman/Peraman” dalam budaya Bahasa Gayo. Rumus tersebut dapat disimak pada halaman 25 yang tertulis: Sir (Inggris), Ya Sayidi (Arab), Tuan (Melayu) dan Aman (Gayo).

Sebagaimana judul buku yang mencantumkan objek penggunaan bahasa “Untuk Komunikasi Sehari-hari”, buku yang dipengantari oleh Prof. T. Silvana Sinar, MA,Ph.D ini memuat 850 kata penggunaan Bahasa Gayo sehari-hari, penggunaan bahasa populer dalam interaksi komunikasi kekinian. Halaman 88 misalnya dituliskan kata “bendera” sama dengan kata “flag” dalam Bahasa Inggris dan dalam Bahasa Indonesia yang bermakna “bendera”, meski untuk kata “bendera” dalam Bahasa Gayo yang lebih tepat adalah kata “elem”.

Dengan cetakan (lem panas) yang kurang bagus, isi dan misi terbitnya buku ini sangat membantu eksistensi Bahasa Gayo, terlebih juga memuat penggunaan simbol beberapa huruf vokal dengan tanda tertentu, bunyi tertentu dan makna yang berbeda seperti: é, e, ĕ, ė, ö.

Terakhir selain dari pentingnya kehadiran buku ini, Bahasa Gayo dengan kondisi saat ini dan merujuk pada buku Michael E. Krauss yang berjudulThe World’s Languages in Crisis Language” Bahasa Gayo dapat kita kategorikan sebagai bahasa yang berada dalam terancam (Endangered Languages), karena jumlah penutur.

Beruntung kita masih punya seni sastra tradisional yang masih tetap eksis dan digemari/digunakan masyarakat seperti halnya kekayaan ekpresi Didong Gayo dan Meléngkan. Termasuk di dalamnya hitungan jari buku-buku yang berbahasa Gayo serta sejumlah kamus lainnya, selain kamus “Hanya 850 Kata Gayo-Indonesia-Inggris” ini tentu.

Lalu cukupkah sampai disitu? Emmm…, inilah yang membuat Bahasa Gayo “Kecil dan Tidak Berwibawa” ditambah dengan “pemerintahnya yang (seolah) mengingkari Undang-Undang Negara”, maka Bahasa Ibu kita akan semakin jauh dari Safe Languges, justru sebaliknya akan semakin dekat di pintu Moribund Languages.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.