Novel karya Syukri Muhammad Syukri
Dalam tradisi suku Bun, pekerjaan menenun dan menganyam sangat erat kaitannya dengan perempuan. Menenun adalah keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun kepada perempuan.
Menenun bukan sekadar pekerjaan, tetapi bagian dari identitas dan status sosial. Perempuan yang tidak bisa menenun, dianggap belum dewasa secara budaya, artinya belum layak menikah.
Sering pula menenun dikaitkan dengan siklus hidup, kesuburan, dan peran perempuan sebagai penjaga tradisi. Kain hasil tenunan bisa menjadi bagian dari ritual pernikahan, persembahan, atau penanda status dalam masyarakat.
Meski dominan dilakukan oleh perempuan, tidak berarti laki-laki di bukit Mendale sama sekali tidak terlibat. Mereka berperan dalam pembuatan alat tenun, pengumpulan bahan baku seperti serat tanaman agave sisalana dan kreteng.
Suku Bun, suku asal Utux dan Miyax, merupakan bagian dari kelompok etnis asli Formosa. Memiliki tradisi tekstil yang unik, meskipun tidak sepopuler suku-suku lain di Formosa. Namun, tekstil buatan suku Bun memiliki beberapa ciri khas.
Seperti kain kijo yang dibikin Miyax, cenderung menggunakan warna gelap seperti hitam dan coklat. Sering kali dipadukan dengan garis-garis putih atau merah. Warna-warna ini memiliki makna simbolik, seperti kekuatan, kesuburan, dan perlindungan.
Garis itu sebagai pola hias, ada berbentuk horizontal atau vertikal. Ditenun bersamaan ketika menenun kain kijo. Bagi Miyax dan penghuni bukit Mendale, garis itu perlambang keteraturan dan hubungan sosial di tanah tinggi, Mendale.
Beberapa pola hias seperti segi tiga, sering disulam diatas kain kijo. Pola hias semacam itu merepresentasikan lanskap pegunungan, tempat mereka tinggal.
Miyax dan komunitasnya menggunakan kain kijo sewaktu melakukan ritual, menyembah hanifu, roh leluhur dalam ceruk Mendale. Kerap pula digunakan dalam upacara adat, pakaian pernikahan, dan sebagai penanda status sosial. Dan, keterampilan menenun kain kijo diwariskan kepada anak dan cucu.
Hari-hari selanjutnya, Miyax dan perempuan disana mulai mengajar gadis kecil mereka. Dimulai dengan memperkenalkan alat tenun tradisional gedogan (tipe backstrap loom).
Alat tenun itu memungkinkan penenun perempuan bekerja sambil duduk di lantai. Bagian belakang tubuh sebagai penahan tegangan benang.
Kemudian, gadis-gadis kecil itu mulai praktik menenun. Dimulai dengan menyusun benang-benang panjang (lungsi) sebagai dasar tenunan. Benang itu menentukan ukuran dan arah kain.
Benang lungsi dipasang pada alat tenun, lalu dimasukkan ke dalam mata gun dan sisir, untuk mengatur posisi dan ketegangan.
Benang dikencangkan dan diikat agar stabil saat proses menenun. Benang pakan (melintang) dimasukkan satu per satu menggunakan alat shuttle, membentuk motif dan tekstur. Setelah itu, hasilnya selembar kain kijo.
Lembaran kain dilepas dari alat tenun. Selanjutnya gadis-gadis kecil itu dilatih untuk merapikan, mengajar sentuhan akhir, seperti pewarnaan dan bordir.
Setelah mampu menenun kain kijo, mereka diajar membuat rompi tenun. Rompi itu diberi garis putih dan merah, dikenakan saat berburu atau pada upacara adat dan ritual.
Mereka pun diajar menenun rok panjang dengan motif garis. Dilanjutkan menenun ikat pinggang, biasanya sebagai perlambang status pernikahan. Dan, terakhir latihan menenun selendang upacara. Selendang itu biasanya digunakan dalam ritual panen dan pemanggilan roh leluhur.
Sementara lelaki di bukit Mendale, mengajar anak-anak mereka membuat peralatan dari batu. Utux misalnya, mengajak Dale untuk memilih batu dari kerakal sungai. Batu kali yang keras dan homogen, seperti andesit, basalt, atau obsidian.
Utux mengajar Dale cara mengamati tekstur, warna, dan resonansi saat dipukul ringan. Kemudian, Utux menyuruh Dale memukul batu inti dengan batu lain, sehingga menghasilkan serpihan tajam. Dipukul dengan sudut tertentu agar serpihan terlepas secara terkontrol.
Setelah serpihan terbentuk, Utux menyuruh Dale mengasah serpihan itu secara bertahap. Sampai membentuk kapak, mata panah, atau pisau. Prosesnya butuh waktu berhari-hari.
Putranya diajar Utux cara mengasah peralatan dengan menggunakan batu pasir atau batu yang lebih lunak. Diatas batu asah itu, dibubuhkan air sebagai pelicin.
Untuk kapak lonjong atau persegi, permukaannya diasah Dale hingga licin dan simetris. Alat seperti itu jika dibikin dengan sempurna akan memberi status sosial bagi pemegangnya.
Sepurnama lebih sudah Dale mengasah batu-batu itu, hasilnya memuaskan. Kini masuk tahap pembuatan tangkai. Utux menyuruh Dale mencari kayu keras, atau rotan, atau bambu. Dale memilih rotan besar (radang), selain kuat juga lentur, tidak mudah patah.
Utux mengajar Dale mengikat peralatan batu tersebut ke tangkainya, menggunakan rotan kecil yang sudah dibelah. Pengikatan menggunakan teknik simpul, sebelumnya ditambah perekat alami dari getah pinus.
Pengajaran tahap akhir. Utux meminta Dale menguji kapak dengan memotong kayu, menguliti hewan, dan berburu. Hasilnya, kapak sangat tajam dan sesuai harapan.
“Ama, berhasil. Kapaknya tajam!” pekik Dale mengangkat kapak berlari menemui ibunya.
“Bagus!” kata Utux bangga karena berhasil mengalihkan keterampilan kepada anaknya.
“Ina, kapaknya tajam,” pamer Dale kepada ibunya.
“Bagus. Jaga baik-baik,” pinta Miyax bangga.
Sangking bangganya, Dale berlari ke rumah Taki’na, menunjukkan kapak buatannya kepada gadis tinggi semampai itu. Dia memperlihatkan ketajaman kapak buatannya dengan memotong pohon kecil disana.
“Coba kulihat,” minta Lalake, bapaknya Taki’na yang keluar dari gubuk.
“Ini kapak bagus. Tajam dan rapi,” puji Lalake.
Sejak itu, Dale makin rajin membuat peralatan batu. Bukan hanya kapak genggam, dia juga membuat kapak lonjong, beliung, pisau, mata panah dan mata tombak.
Peralatan paling lama dibuat Dale adalah pisau. Hampir beberapa purnama diasahnya, sampai pisau itu benar-benar tajam. Pisau itu kemudian dihadiahkan untuk ibunya.
“Ini pisau pemotong kain. Saya hadiahkan untuk ina,” Dale menyerahkan pisau batu warna hitam ke tangan ibunya.
“Pisau bagus,” pekik Miyak mencoba memotong kain yang baru ditenunnya. Benar-benar tajam. Sekali gores, kain pun langsung terpotong.
Bukan hanya Dale, remaja laki-laki di permukiman itu rata-rata memiliki peralatan batu buatan sendiri. Kemana pun mereka pergi, kapak dan pisau buatan sendiri terselip di pinggang, dan tombak tergenggam ditelapak tangan.
Mereka dilatih berburu menggunakan peralatan buatan sendiri. Saat itu, mereka bukan lagi sebagai pengikut, tetapi sebagai pawang atau pemimpin perburuan. Masih muda memang, tetapi keterampilan mereka tidak kalah dengan orang tuanya.
Setiap pergi berburu, Dale tidak pernah kembali dengan tangan kosong. Membuktikan bahwa dia dan remaja lelaki disana sudah mandiri. Sudah mampu bertahan hidup ditengah kerasnya persaingan di alam liar.
Bersambung…





