Ketika Lembaga Keumatan Begerak : Bersama Menjaga Arah Pendidikan di Tanoh Gayo

oleh

Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd (Pemerhati sosial kemasyarakatan dan generasi muda, ASN Kemenag)

Persoalan kekerasan, bullying, senioritas, dan berbagai penyimpangan perilaku peserta didik tidak cukup diselesaikan hanya oleh sekolah. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Terlebih di Aceh, khususnya Aceh Tengah dan Bener Meriah, kita memiliki kekhasan tersendiri dalam pembinaan umat dan masyarakat.

Aceh bukan sekadar daerah yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya. Aceh memiliki keistimewaan dan kekhususan yang melahirkan berbagai lembaga keumatan dan kelembagaan daerah yang dapat menjadi mitra pemerintah dalam membangun masyarakat.

Di Aceh Tengah dan Bener Meriah, bahkan lebih luas di Aceh, terdapat lembaga-lembaga strategis seperti Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Majelis Pendidikan Daerah (MPD), dan Majelis Adat Gayo (MAG). Lembaga-lembaga ini memiliki ruang dan potensi besar untuk ikut memperkuat pendidikan, pembinaan moral, kehidupan keagamaan, serta pelestarian nilai-nilai adat dan budaya.

Pertanyaannya kemudian: sudahkah potensi besar tersebut benar-benar diberdayakan secara maksimal?

𝐌𝐏𝐔: 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐮𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐀𝐫𝐚𝐡 𝐌𝐨𝐫𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐚𝐠𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧

MPU memiliki posisi penting dalam kehidupan keumatan. Para ulama tidak hanya dibutuhkan ketika ada persoalan hukum agama atau kegiatan seremonial keagamaan. Kehadiran ulama sangat dibutuhkan dalam membimbing masyarakat menghadapi perubahan zaman.

Anak-anak dan remaja hari ini menghadapi tantangan yang berbeda. Mereka hidup dalam dunia digital, media sosial, budaya populer, dan lingkungan pergaulan yang sangat terbuka.

Karena itu, pembinaan keagamaan juga harus mampu masuk ke dunia mereka.

MPU bersama para ulama, tengku, dai, penyuluh agama, dan tokoh masyarakat dapat mengambil peran lebih aktif dalam membangun gerakan pembinaan remaja. Masjid, meunasah, pesantren, pengajian dan ruang-ruang keumatan harus menjadi tempat anak-anak menemukan keteladanan, bukan sekadar tempat mendengar ceramah.

Anak-anak perlu diajak memahami bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang akhlak, menjaga lisan, menghormati orang lain, menahan amarah, menyayangi yang lebih muda, menghormati yang lebih tua, dan tidak menzalimi sesama.

𝐌𝐏𝐃: 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐞𝐦𝐛𝐚𝐭𝐚𝐧𝐢 𝐊𝐞𝐛𝐢𝐣𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐢𝐝𝐢𝐤𝐚𝐧

Majelis Pendidikan Daerah juga memiliki posisi strategis.

Pendidikan tidak boleh hanya dilihat dari angka kelulusan, prestasi akademik, sarana prasarana, atau capaian administratif. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar: karakter anak, keamanan sekolah, hubungan guru dan peserta didik, keterlibatan orang tua, serta lingkungan sosial tempat anak tumbuh.

MPD dapat menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pemerintah daerah, satuan pendidikan, tokoh masyarakat, orang tua, dan berbagai pemangku kepentingan.

Jika ditemukan persoalan kekerasan di sekolah, jangan berhenti pada reaksi sesaat. Perlu ada evaluasi bersama: apa yang kurang dari sistem pendidikan kita? Bagaimana pembinaan peserta didik dilakukan? Bagaimana hubungan sekolah dengan orang tua? Bagaimana pendidikan karakter diterapkan?

MPD dapat mendorong lahirnya rekomendasi, program, dan gerakan pendidikan yang benar-benar menjawab persoalan masyarakat.

𝐌𝐀𝐆: 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐀𝐝𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐝𝐚𝐛

Begitu pula Majelis Adat Gayo.

Gayo memiliki kekayaan nilai dan filosofi kehidupan yang sangat dalam. Ada mukemel, genap mupakat, alang tulung, bersikekemelen dan berbagai nilai lainnya yang mengajarkan kehormatan, musyawarah, tolong-menolong, kepedulian, dan kehidupan bersama.

Nilai-nilai tersebut jangan sampai hanya tersimpan dalam buku, menjadi materi seminar, atau disebut dalam acara adat. Nilai adat harus hadir dalam perilaku.

Anak-anak perlu memahami bahwa menjadi orang Gayo bukan hanya persoalan identitas dan asal-usul, tetapi juga bagaimana membawa diri, menghormati orang lain, menjaga kehormatan, membantu sesama, dan hidup dalam tatanan sosial yang beradab.

Dalam konteks inilah MAG dapat menjadi mitra sekolah dan keluarga.

Sekolah dapat menghidupkan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Orang tua dapat memperkuatnya di rumah. Tokoh adat dapat memberikan keteladanan dan pendampingan kepada generasi muda.

𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐋𝐞𝐦𝐛𝐚𝐠𝐚 𝐅𝐨𝐫𝐦𝐚𝐥 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐆𝐞𝐫𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚

Kita tidak kekurangan lembaga. Kita juga tidak kekurangan orang-orang pintar, ulama, tokoh pendidikan, tokoh adat, akademisi, guru, dan tokoh masyarakat.

Yang perlu diperkuat adalah sinergi dan kebermanfaatannya. Jangan sampai masing-masing lembaga berjalan sendiri-sendiri.

MPU berbicara tentang keumatan. MPD berbicara tentang pendidikan. MAG berbicara tentang adat. Sekolah mendidik peserta didik. KUA dan penyuluh agama melakukan pembinaan keagamaan dan keluarga. Pemerintah daerah membuat kebijakan. Orang tua mendidik anak di rumah.

Semua sebenarnya memiliki titik temu: membangun manusia. Karena itu, diperlukan satu arah gerakan.

Jika ada persoalan kekerasan di sekolah, misalnya, tidak harus selalu menunggu kasus menjadi viral. Lembaga-lembaga tersebut dapat duduk bersama, membaca persoalan, menyusun langkah pencegahan, kemudian turun ke masyarakat dan sekolah.

Bukan sekadar seminar. Bukan sekadar seremoni. Tetapi gerakan yang nyata, terukur, berkelanjutan, dan menyentuh anak serta keluarga.

𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐮𝐚 𝐉𝐮𝐠𝐚 𝐇𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐃𝐢𝐚𝐫𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧

Pendidikan anak tidak akan berhasil jika hanya sekolah yang bergerak. Orang tua perlu terus dibina.

Masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwa pendidikan karakter dimulai dari rumah. Anak perlu dibiasakan menghormati orang tua, guru, teman, tetangga, dan masyarakat.

Orang tua juga harus memahami dunia anaknya. Jangan hanya bertanya, “Sudah makan?” atau “Sudah belajar?”

Tanyakan juga: dengan siapa ia berteman? Apa yang ia lihat di media sosial? Apa yang sedang ia rasakan? Apakah ada masalah di sekolah? Apakah ia pernah melihat atau mengalami bullying?

Di sinilah lembaga-lembaga keumatan dapat membantu mengarahkan masyarakat.

MPU dapat menguatkan nilai agama. MPD dapat menguatkan kesadaran pendidikan. MAG dapat menghidupkan nilai adat dan adab. Sekolah memberikan pendidikan formal. Orang tua menjadi benteng pertama di rumah.

Jika semua bergerak bersama, insyaAllah akan lahir ekosistem pendidikan yang lebih sehat.

𝐏𝐚𝐫𝐚 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐮𝐫𝐮𝐬 𝐌𝐚𝐣𝐞𝐥𝐢𝐬 𝐇𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐁𝐞𝐫𝐝𝐚𝐲𝐚 𝐌𝐚𝐧𝐟𝐚𝐚𝐭

Pada akhirnya, yang menentukan bukan hanya nama lembaga, tetapi orang-orang yang berada di dalamnya.

MPU akan sangat berarti jika para ulama mampu hadir menjawab persoalan umat.

MPD akan sangat berarti jika para anggotanya mampu memberikan gagasan dan solusi bagi dunia pendidikan.

MAG akan sangat berarti jika para tokoh adat mampu menghidupkan nilai-nilai adat dalam kehidupan generasi muda.

Jabatan dan keanggotaan dalam sebuah majelis bukan sekadar kehormatan. Ia adalah amanah.

Masyarakat membutuhkan orang-orang yang mau berpikir, turun ke lapangan, berdialog, mendengar, memberi solusi, dan menjadi teladan.

Kita tidak membutuhkan terlalu banyak seremoni. Kita membutuhkan lebih banyak kebermanfaatan.

𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐀𝐧𝐚𝐤, 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐃𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐃𝐚𝐞𝐫𝐚𝐡

Anak-anak yang hari ini duduk di bangku SMP, MTs, SMA, MA dan SMK adalah calon pemimpin Aceh Tengah, Bener Meriah dan Indonesia pada masa depan.

Mereka akan menjadi guru, ulama, birokrat, pengusaha, petani, politisi, aparat, tokoh masyarakat dan pemimpin keluarga.

Kalau hari ini mereka dibiasakan dengan kekerasan, senioritas, penghinaan dan budaya saling menindas, kita sedang menanam persoalan untuk masa depan.

Sebaliknya, jika mereka dibesarkan dengan iman, ilmu, akhlak, adat, adab, empati, tanggung jawab dan penghormatan terhadap sesama, kita sedang menyiapkan generasi yang akan menjaga daerah ini.

Karena itu, mari kita manfaatkan kekhususan Aceh dengan sebaik-baiknya.

Jadikan MPU, MPD, MAG, sekolah, KUA, penyuluh agama, keluarga, pemerintah daerah dan masyarakat sebagai bagian dari satu ekosistem pembinaan umat dan generasi.
Tidak perlu berjalan sendiri-sendiri.

Satu arah dalam mendidik.
Satu tujuan dalam membina.
Satu komitmen dalam menjaga anak-anak kita.

Sebab anak-anak kita bukan hanya tanggung jawab sekolah.

Mereka adalah amanah keluarga, amanah masyarakat, amanah agama, sekaligus masa depan daerah.

Dan ketika seluruh kekuatan keumatan, pendidikan, adat, keluarga dan pemerintah benar-benar bergerak bersama, insyaAllah Tanoh Gayo tidak hanya melahirkan generasi yang cerdas, tetapi generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, beradat, beradab dan bermanfaat bagi sesama.

Inilah saatnya lembaga-lembaga keumatan tidak hanya hadir sebagai nama, tetapi hadir sebagai kekuatan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh umat dan masyarakat.[]

Tanoh Gayo, 25 Agustus 2026

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.