Masjid yang Memeluk Umat: Ketika Rumah Allah Mengetuk Pintu-Pintu Sunyi

oleh

Oleh: Wien Khakleri Khaidir, M.Pd*

Pernahkah kita sejenak berdiri di pelataran masjid, menatap kubah dan dindingnya yang berbalut motif kerawang Gayo bernuansa krim saat fajar menembus kabut Takengon? Masjid Agung Ruhama bukan sekadar rumah ibadah; ia adalah ikon Kota Takengon, magnet wisata religius, sekaligus kebanggaan masyarakat Gayo.

Namun, sejak zaman Rasulullah SAW di Madinah, masjid tak pernah dirancang sekadar sebagai monumen megah yang lengang, atau ruang sunyi tempat menelungkupkan dahi lima waktu.

Lebih dari itu, masjid adalah rumah pertama tempat setiap lelah digantungkan, tempat akal dituntun melalui ilmu, tempat dua insan mengikat janji suci, setiap duka menemukan penawar, dan setiap rintihan jiwa dijemput dengan kepedulian nyata.

Kita tentu kerap terenyuh menyaksikan jejak dakwah kemanusiaan dari tokoh seperti Ustadz Salim A. Fillah. Kehadiran beliau yang turun langsung mengetuk bumi Aceh saat bencana menerjang—membawa amanah donasi para muhsinin melalui Masjid Jogokariyan Yogyakarta, bahkan hadir menyapa langsung warga di Aceh Tengah yang terdampak—memberi kita cermin bening tentang wajah Islam yang teduh.

Masjid Jogokariyan yang menjadi percontohan nasional lewat manajemen inovatif dan prinsip keberanian “Saldo Infak Nol Rupiah” membuktikan satu hal: dakwah terindah bukanlah kata-kata yang membubung tinggi di atas mimbar, melainkan jemari yang terulur merengkuh saudara-saudara yang hampir patah harapan.

Getar kemanusiaan yang sama kini hidup, berdenyut, dan mekar di Masjid Agung Ruhama Takengon. Di bawah naungan Badan Kemakmuran Masjid (BKM) yang dipimpin oleh Tgk. Drs. H. Hamdan, MA, kebanggaan masyarakat Gayo ini tidak berdiri berjarak dengan warganya.

Pengalaman matang beliau yang pernah mengabdi sebagai Kepala Kantor Kemenag Aceh Tengah dan Bener Meriah, Kabid Urais Binsyar Kanwil Kemenag Aceh, serta kini menjabat Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Aceh Tengah dan Ketua Senat IAIN Takengon, menjadi fondasi kokoh dalam merajut sinergi.

Melalui rekam jejak kepemimpinan akademis dan keumatan yang terbiasa berkolaborasi dengan pemerintah daerah serta instansi lintas sektor, Masjid Agung Ruhama bertransformasi.

Ia tak hanya menjadi pusat peradaban dan wadah belajar melalui program pengajian berjenjang—seperti Tahsin Belangi, kajian Tafsir Al-Qur’an, pembacaan Surah Al-Kahfi  dan yasin bersama setiap malam Jumat, Tausyiah Subuh hingga kehadiran Majelis Ta’lim yang hidup di sesi pagi maupun sore—tetapi juga menjadi jembatan hangat yang menyambungkan pemerintah daerah dengan denyut keluh kesah warga.

Semangat memeluk umat ini diwujudkan BKM secara menyeluruh. Berada di jantung Kota Takengon, Masjid Agung Ruhama menjadi tempat bersandar utama bagi para musafir dari berbagai daerah. Di bawah komitmen kepemimpinan Tgk. Drs. H. Hamdan, MA, pembenahan terus digalakkan agar seluruh kebutuhan jamaah dan musafir terfasilitasi dengan paripurna.

Tak sekadar tempat ibadah harian, masjid ini memegang peran strategis sebagai pusat pelepasan dan fasilitasi keberangkatan jamaah haji maupun umrah, mengantarkan langkah-langkah suci warga Gayo menuju Tanah Haram.

Di samping itu, ruang-ruang utama masjid senantiasa terbuka menjadi tempat sakral bagi pelaksanaan akad nikah, menyatukan dua hati di bawah naungan rumah Allah.

Pembenahan fisik pun diwujudkan secara konkret: optimalisasi sound system demi kekhusyukan ibadah dan akad nikah, menjaga kebersihan MCK, penampungan MCK, hingga menjamin kelancaran air bersih. Lingkungan masjid pun dipercantik lewat penataan taman yang asri, penyediaan bebalen (saung santai tradisional Gayo) sebagai tempat rehat, hingga penataan UMKM lokal di kawasan masjid yang ke depannya akan terus mengalami perubahan dan pengembangan ke arah yang lebih baik demi kemandirian warga.

Kehadiran lapak usaha warga—seperti penjualan peci, sarung, busana muslim, perlengkapan ibadah, hingga kuliner khas Gayo—tak hanya memudahkan musafir, tetapi juga menghidupkan geliat ekonomi keumatan di pelataran rumah Allah.

Kedewasaan sebuah masjid tidak diuji saat suasana tenang, melainkan ketika musibah datang. Ketika musibah kebakaran menghancurkan tempat tinggal warga sekitar, pengurus dan jamaah Masjid Agung Ruhama bergerak cepat.

Di saat asap masih membumbung dan fajar baru pecah, mereka hadir paling depan membawa kehangatan nasi bungkus untuk para korban. Kehadiran itu menyampaikan bisikan lembut yang menguatkan: kalian tidak sendirian, ada rumah Allah yang memeluk kalian.

Jejak kepedulian itu kian mendalam tatkala bencana banjir melanda Aceh. Melalui sinergi bersama DMI Kabupaten Aceh Tengah dan dukungan DMI Provinsi Aceh, pengurus turun langsung ke lokasi terdampak.

Tak sekadar menyalurkan logistik, mereka memboyong perlengkapan kebersihan—seperti pembersih lantai, karbol, dan sikat—lalu bergotong royong menyapu lumpur. Mereka memastikan rumah-rumah Allah kembali bersih dan suci, agar warga menemukan kembali ketenangan jiwa yang sempat terguncang.

Bahkan dalam denyut swadaya warga di kawasan Tajuk Enang-Enang, Masjid Agung Ruhama hadir menaungi—secara konsisten menjembatani donasi, sedekah jamaah, dan uluran tangan para muhsinin.

Kasih sayang masjid ini tidak hanya hadir saat bencana besar. Ia dirawat saban hari. Lewat tradisi “Ahad Subuh Berkah”, usai pengajian dan zikir fajar, sajian sarapan, bantuan pangan, serta santunan untuk kaum fakir miskin disalurkan hangat.

Langkah kepedulian itu bahkan melangkah lebih jauh, mengetuk pintu rumah warga yang terasing dalam keterbatasan. Bersama pemerintah daerah dan instansi lintas sektor, BKM menyusuri lorong-lorong pemukiman membawa paket sembako—beras, minyak goreng, telur, gula, hingga mi instan—sebagai penambal lelah warga.

Namun di balik kantong sembako itu, ada fungsi strategis yang terbangun: menghubungkan saluran aspirasi.

Masjid menjadi jembatan penjelas yang mendengarkan rintihan, lalu menyampaikannya secara presisi kepada pemangku kebijakan. Di bilik-bilik rumah yang sempit itulah, dinding formalitas luruh menjadi genangan air mata.

Rombongan menyaksikan langsung penderitaan para penyandang disabilitas permanen, lansia sebatang kara, hingga ibu tunggal (single parent) yang berjuang keras demi biaya sekolah anak-anak mereka. Tetesan air mata di hari itu menjadi saksi bisu bahwa masjid dan pemerintah hadir bersama, tidak menutup mata atas kepedihan warganya.

Duka-duka itu kemudian dibalut senyuman anak-anak yatim setiap awal bulan pada hari Jumat. Selain santunan tunai, masjid juga membagikan paket santunan khusus berisi susu, cokelat, dan nutrisi gizi. Bagi pengurus BKM, prinsip utamanya sangat jelas: tidak boleh ada sepeser pun hak atau uang fakir miskin dan anak yatim yang tertahan di kas masjid, seluruhnya harus tersalurkan tuntas.

Di mata anak-anak yang telah kehilangan orang tua, sebatang cokelat dan sekotak susu dari masjid adalah pesan kasih sayang yang dalam: kalian adalah buah hati kami.

Ketua BKM Tgk. Drs. H. Hamdan, MA menegaskan bahwa seluruh program santunan ini merupakan wujud nyata kepedulian sosial untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah. Seluruh dana bantuan bersumber dari aliran infak dan sedekah jamaah Masjid Agung Ruhama Takengon yang dikelola secara transparan dan amanah.

Sebagaimana dipungkaskan oleh Tgk. Drs. H. Hamdan, MA, seluruh kerja keras BKM beserta kolaborasi lintas instansi ini bermuara pada satu niat suci:

“Kami terus melakukan berbagai upaya demi menghadirkan kenyamanan dan kepedulian yang seutuhnya bagi jamaah dan masyarakat.”

Kepemimpinan Tgk. H. Drs. Hamdan, MA bersama segenap jajaran BKM Masjid Agung Ruhama Takengon telah memberi kita gambaran indah tentang bagaimana rumah Allah bertransformasi menjadi jantung kehidupan:

Merawat Kenyamanan Musafir & Kemandirian Ekonomi: Menjaga kekhusyukan suara, kebersihan MCK, kecukupan air wudhu, asrinya taman, indahnya bebalen tempat istirahat musafir, hingga penataan UMKM lokal di kawasan masjid yang ke depannya akan terus mengalami perubahan dan pengembangan ke arah yang lebih baik demi kemandirian warga.

Menyemaikan Ilmu: Membimbing jamaah melalui program berjenjang—mulai dari Tahsin Belangi, pengajian Tafsir Al-Qur’an, pembacaan Surah Al-Kahfi setiap malam Jumat, hingga Majelis Ta’lim yang hidup di sesi pagi dan sore.

Mengayom Kehidupan: Menjadi tempat memutus keraguan warga lewat jembatan aspirasi dengan pemerintah, serta saksi momen suci pernikahan dan pelepasan jamaah haji serta umrah menuju Tanah Suci.

Hadir di Kala Musibah: Menjadi pertolongan pertama saat kebakaran dan bencana melanda, serta bergotong royong membersihkan lumpur di rumah-rumah Allah yang terdampak.

Memeluk yang Lemah: Mengukir senyum di wajah anak yatim dengan memastikan tidak ada sepeser pun hak atau uang mereka yang tertahan, serta menyapa perut lapar kaum dhuafa lewat tradisi Ahad Subuh Berkah dan blusukan sembako.

Pada akhirnya, tulisan ini mengajak kita merenung: kemakmuran masjid sebagaimana diamanatkan dalam Surah At-Taubah ayat 18 sesungguhnya tidak diukur dari megahnya bangunan, melainkan dari seberapa hidup aktivitas keilmuannya, seberapa baik fasilitas dan pelayanannya, serta seberapa nyata kepedulian sosialnya dalam merangkul seluruh lapisan masyarakat.

Semoga ikhtiar mulia yang terus ditumbuhkan di Masjid Agung Ruhama Takengon ini menjadi penyejuk hati, inspirasi yang menggerakkan, serta ladang pahala yang tak pernah terputus bagi siapa saja yang ikut memakmurkannya. Karena ketika masjid hidup, ramah bagi musafir, asri, dan peduli, masyarakat pun akan tumbuh dengan penuh kedamaian dan keberkahan.

Wallahu a’lam Bishawab

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.