Haili Yoga Belajarlah dari Awan Prado, Bagian 1: Politik Membesarkan Kawan

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Di Tanoh Gayo pernah hidup seorang tokoh yang populer dengan panggilan Awan Prado. Cerdik, berilmu, humoris dan sedikit nakal menyatu dalam kesehariannya.

“Kalau berdebat dengan Awan Prado, jangan hanya bawa suara keras. Bawa juga akal. Kalau tidak, pulang-pulang cuma membawa malu” kata orang tua di kampung.

Suatu hari, seorang pemuda yang haus pengetahuan bertanya kepadanya.

“Awan, apa ilmu politik yang paling hebat?”

Awan Prado tersenyum sambil menyeruput kopi Gayo.

“Politik itu seperti menanam kopi.”

“Lho, bukankah politik itu soal kekuasaan?”

“Itulah salah pahammu. Orang yang hanya mengejar kekuasaan akan sibuk menebang pohon orang lain supaya kebunnya kelihatan luas. Orang yang mengerti politik justru menanam bibit di kebun tetangganya. Kalau panen tiba, seluruh kampung ikut harum.”

Pemuda itu mengangguk, meski wajahnya masih bingung.

Awan Prado tertawa.

“Makanya Sultan Iskandar Muda mengutus Panglima Nyak Dum ke Turki. Yang dikirim bukan karena paling kaya atau paling terkenal, tetapi karena paling layak dipercaya. Sultan membesarkan orang biasa, lalu orang biasa itu membesarkan nama Aceh.”

“Kalau sekarang bagaimana, Awan?”

“Kalau sekarang…”

Awan Prado menghela napas panjang.

“Kadang baru seseorang dipanggil rapat sekali saja, sudah ada yang demam tiga hari. Baru diberi tugas sedikit, sudah muncul tim pencari kesalahan.”

Semua orang di warung kopi tertawa.

Awan Prado kembali menyeruput kopi.

“Ingat, Nak. Membesarkan kawan tidak akan membuatmu mengecil. Sama seperti menyalakan pelita di rumah tetangga tidak akan memadamkan lampu di rumahmu.”

Warung kopi mendadak sunyi. Mereka sadar, yang baru saja terdengar bukan sekadar lelucon, melainkan pelajaran kepemimpinan.

(Mendale, Juli 10, 2026)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.