Menjembatani Sastra dan Masa Depan: Catatan Gelar Wicara PPN XIV Aceh di Bur Telege

oleh

Oleh : Ansar Salihin*

Di puncak Bur Telege Kabupaten Aceh Tengah menjadi salah satu lokasi pelaksanaan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh, Rabu 24 Juni 2026. Salah satu agenda inti di tempat tersebut adalah Gelar Acara: Peran Sastra Kreatif Nusantara yang dimoderatori oleh Kepala Balai Provinsi Aceh Muhammad Irsan, S.S., M.Hum.

Forum tersebut menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang yang berbeda namun saling melengkapi, yakni Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si. (Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikdasmen) Salman Yoga. S (Penyair Gayo & Direktur TGI) Serta penyair Malaysia Muhammad Saleh (Penyair Malaysia).

Ketiganya berbicara tentang sastra dari sudut pandang yang berbeda: sastra sebagai praktik budaya lokal, sastra sebagai bagian dari kebijakan kebudayaan nasional, dan sastra sebagai jembatan peradaban masyarakat serumpun.

Sastra Gayo Tradisi dan Modern

Dari keseluruhan diskusi yang berlangsung, tampak satu benang merah yang kuat: sastra tidak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh bersama masyarakat, hidup dengan tradisi, bergerak mengikuti perkembangan zaman, dan terus mencari cara untuk tetap relevan bagi generasi masa kini.

Dalam paparan Salman Yoga mengajak peserta memahami kekhasan sastra yang berkembang di Tanah Gayo. Menurutnya, masyarakat Gayo memiliki hubungan yang sangat erat antara sastra dan musik. Keduanya bukan dua dunia yang terpisah, melainkan dua unsur yang saling melengkapi dalam ekspresi budaya masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa di banyak daerah, pembacaan puisi biasanya diiringi alat musik modern seperti gitar akustik atau instrumen kontemporer lainnya. Namun di Gayo, tradisi yang berkembang justru berbeda. Puisi tidak dimusikalisasi, melainkan dibacakan dengan iringan musik tradisional seperti didong dan teganing. Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menunjukkan cara pandang masyarakat terhadap sastra.

Dalam musikalisasi puisi, puisi diubah menjadi lagu dan dinyanyikan. Sementara dalam sastra Gayo, puisi tetap dibacakan sebagai puisi. Musik hadir untuk mengiringi, memperkuat suasana, dan menambah daya emosional pembacaan. Tradisi ini telah berlangsung lama sehingga menjadi sesuatu yang sangat wajar dalam kehidupan masyarakat.

Bahkan, menurut Salman Yoga, masyarakat sering merasa ada yang kurang ketika menyaksikan pembacaan puisi tanpa iringan musik. Karena itu, berbagai komunitas sastra di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues hampir selalu menghadirkan perpaduan antara sastra dan musik dalam berbagai kegiatan budaya.

Hal menarik lainnya adalah keberadaan puisi-puisi berbahasa Gayo yang masih hidup dan berkembang hingga saat ini. Di tengah dominasi bahasa Indonesia dalam dunia sastra modern, bahasa ibu tetap mendapatkan ruang yang terhormat. Puisi-puisi berbahasa Gayo tidak hanya menjadi sarana ekspresi artistik, tetapi juga menjadi cara masyarakat menjaga identitas budaya mereka.

Perkembangan sastra di Gayo juga ditopang oleh tumbuhnya berbagai komunitas literasi. Salman Yoga menyebut keberadaan pustaka kampung, taman baca masyarakat, dan komunitas literasi yang berkembang di berbagai wilayah sebagai tanda bahwa minat masyarakat terhadap sastra masih sangat kuat.

Ruang-ruang literasi tersebut menjadi tempat lahirnya pembaca, penulis, dan pegiat budaya baru yang akan melanjutkan tradisi sastra di masa mendatang.

Apa yang terjadi di Gayo menunjukkan bahwa sastra akan tetap hidup ketika ia dekat dengan masyarakat. Sastra tidak hanya berada di ruang akademik atau buku-buku yang tersimpan di rak perpustakaan, tetapi hadir dalam pertunjukan, musik, tradisi lisan, dan kehidupan sehari-hari.

Lima Pilar Penguatan Sastra Indonesia

Jika Salman Yoga berbicara tentang praktik sastra di tingkat lokal, maka Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin membawa peserta melihat bagaimana negara berupaya membangun ekosistem sastra secara nasional.

Dalam paparannya, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tersebut memperkenalkan konsep “5 SI” sebagai strategi pengembangan sastra Indonesia. Kelima unsur itu adalah Fasilitasi, Edukasi, Kolaborasi, Apresiasi, dan Digitalisasi.

Menurut Hafidz Muksin, fasilitasi merupakan bentuk kehadiran negara dalam mendukung komunitas sastra dan para pelakunya. Dukungan tersebut diwujudkan melalui berbagai program bantuan, pendampingan, dan penyelenggaraan kegiatan yang memungkinkan ekosistem sastra tumbuh secara sehat.

Namun dukungan saja tidak cukup. Sastra juga harus masuk ke ruang pendidikan. Karena itu, aspek edukasi menjadi salah satu perhatian utama. Ia bahkan mengungkapkan adanya gagasan untuk memperkuat posisi sastra dalam dunia pendidikan melalui perubahan nomenklatur mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi Bahasa dan Sastra Indonesia.

Gagasan ini menunjukkan bahwa sastra tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan bagian penting dalam pembentukan karakter dan kreativitas peserta didik.

Pilar berikutnya adalah kolaborasi. Hafidz Muksin menilai bahwa sastra akan berkembang lebih baik ketika melibatkan berbagai pihak, mulai dari sastrawan, guru, komunitas, hingga lembaga pendidikan.

Ia mengingat kembali program Murid Bertanya, Sastrawan Menjawab yang pernah digagas Taufik Ismail sebagai contoh bagaimana sastra dapat hadir langsung di lingkungan sekolah.

Kolaborasi semacam itu penting karena sastra tidak hanya membutuhkan pembaca, tetapi juga membutuhkan ruang perjumpaan. Ketika sastrawan, guru, dan siswa bertemu dalam satu ruang kreatif, maka proses belajar tidak lagi berlangsung satu arah, melainkan menjadi dialog yang hidup.

Selanjutnya adalah apresiasi. Menurut Hafidz Muksin, karya sastra yang telah lahir harus memiliki ruang untuk ditampilkan dan dihargai. Tanpa apresiasi, proses kreatif akan kehilangan salah satu energi pentingnya.

Karena itu, Badan Bahasa menghadirkan berbagai ruang publikasi dan pertunjukan, termasuk melalui Majalah Liris, yang menjadi wadah bagi karya-karya guru, siswa, dan komunitas literasi.

Pilar terakhir adalah digitalisasi. Inilah bagian yang paling relevan dengan perkembangan zaman saat ini. Hafidz Muksin menjelaskan bahwa teknologi telah mengubah cara orang berkarya, membaca, dan mendistribusikan karya sastra.

Kini seorang penyair dapat menulis puisi melalui telepon genggam saat berada dalam perjalanan, lalu membagikannya kepada pembaca dalam hitungan detik.

Lebih jauh lagi, berbagai cerita rakyat dan karya sastra dapat dialihwahanakan menjadi komik digital, film animasi, maupun konten audio visual. Melalui platform seperti Limasi, sastra tidak lagi terbatas pada halaman-halaman buku, tetapi hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan generasi muda.

Sastra Melayu Melampaui Batas Negara

Sementara itu, Muhammad Saleh menghadirkan perspektif yang lebih luas tentang hubungan sastra di kawasan Nusantara. Ia mengajak peserta melihat sastra bukan dari batas-batas negara modern, melainkan dari akar budaya yang menyatukan masyarakat Melayu selama berabad-abad.

Menurutnya, ketika membicarakan sejarah sastra, tidak tepat jika langsung memisahkan antara sastra Indonesia dan sastra Malaysia. Sebelum lahirnya negara-negara modern, yang berkembang adalah satu ruang besar bernama sastra Melayu.

Karena itu, tokoh-tokoh seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin Al-Raniri, dan Raja Ali Haji merupakan bagian dari warisan bersama masyarakat serumpun. Hamzah Fansuri, misalnya, dianggap sebagai salah satu pelopor sastra modern Melayu karena keberanian dan kedalaman pemikirannya dalam mengolah tema-tema tasawuf.

Muhammad Saleh juga mengingatkan bahwa perkembangan sastra modern Melayu tidak dapat dilepaskan dari peran Singapura sebagai pusat kegiatan intelektual pada masa kolonial. Dari ruang itulah kemudian lahir berbagai gerakan sastra modern yang memengaruhi perkembangan sastra di Malaysia dan Indonesia.

Menariknya, ia mengakui bahwa para sastrawan Malaysia selama ini sangat akrab dengan karya-karya sastra Indonesia. Mereka membaca Chairil Anwar, mengenal Pujangga Baru, dan mengikuti perkembangan sastra Indonesia hingga hari ini. Hubungan intelektual tersebut terbangun melalui lalu lintas buku dan pertukaran gagasan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Namun ia juga mengingatkan bahwa hubungan tersebut harus terus dipelihara. Hambatan distribusi buku, terbatasnya akses terhadap karya sastra negara tetangga, dan berbagai persoalan administratif dapat menjadi penghalang bagi tumbuhnya ekosistem sastra Nusantara yang sehat.

Karena itu, menurutnya, pertemuan seperti PPN memiliki arti yang sangat penting. Forum semacam ini bukan hanya mempertemukan penyair, tetapi juga mempertemukan gagasan, pengalaman, dan perspektif yang berbeda. Sastra menjadi jembatan yang menghubungkan manusia melampaui batas-batas geografis dan politik.

Dari Takengon untuk Nusantara

Gelar Wicara Peran Sastra Kreatif Nusantara di Bur Telege memperlihatkan bahwa sastra masih memiliki energi yang besar untuk menyatukan masyarakat. Dari Salman Yoga, bagaimana sastra dapat tumbuh bersama musik tradisi. Dari Hafidz Muksin, memahami pentingnya membangun ekosistem sastra yang kuat melalui fasilitasi, edukasi, kolaborasi, apresiasi, dan digitalisasi. Sementara dari Muhammad Saleh, diajak melihat sastra sebagai warisan budaya bersama yang melampaui batas negara.

Di tengah derasnya arus teknologi dan perubahan sosial, sastra mungkin tidak lagi menjadi pusat perhatian seperti pada masa lalu. Namun pertemuan di Takengon membuktikan bahwa sastra tetap memiliki ruang yang penting. Ia hadir sebagai penjaga ingatan, perawat identitas budaya, sekaligus medium untuk membangun dialog antarmanusia.

Dari Bur Telege, di antara kabut pegunungan dan sejuknya udara Gayo, para penyair Nusantara kembali menegaskan bahwa sastra bukan sekadar kata-kata. Sastra adalah cara manusia memahami dirinya, memahami sesamanya, dan memahami dunia yang terus berubah. Melalui sastra, tradisi tetap hidup, kreativitas terus tumbuh, dan persaudaraan Nusantara menemukan maknanya yang paling dalam.

*Penulis Peneliti & Editor The Gayo Institute (TGI) dan Peserta PPN XIV 2026 Asal Aceh-Indonesia

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.