Puisi Jadi Perjalanan, Perjumpaan, dan Harapan: Catatan Penutupan PPN XIV Aceh

oleh

Oleh Ansar Salihin*

Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh ditutup di Kompleks Cagar Budaya Gunongan, Kota Banda Aceh, Minggu malam, 28 Juni 2026. Gunongan adalah monumen peninggalan Sultan Iskandar Muda yang dibangun pada abad ke-17.

Setelah berhari-hari peserta menempuh perjalanan dari Banda Aceh menuju Aceh Tengah, Bireuen, hingga Aceh Besar, para penyair akhirnya kembali ke titik awal. Masing-masing penyair membawa pengalaman, perjumpaan, dan cerita yang kelak akan menjelma menjadi puisi.

Malam penutupan dibuka dengan pertunjukan musik Hikayat Prang Sabi. Syair-syair hikayat yang selama ini hidup dalam tradisi masyarakat Aceh dilantunkan dalam balutan musik yang khidmat. Di tengah pertunjukan itu, seniman Aceh Djamal Syarif memasuki panggung dan membacakan puisi. Musik dan puisi saling mengisi, menghadirkan suasana yang menyatukan tradisi sastra lisan dengan ekspresi sastra modern. tercerabut dari akar budayanya.

Suasana berubah ketika monolog Hikayat Ringkih, karya Teuku Afifuddin, dipentaskan oleh Pocut, seorang siswi SMA dari Kota Jantho. Dengan seragam sekolah, sepasang sepatu berlumpur di tangan, dan sebuah kursi sebagai properti sederhana, ia membawa penonton menyelami kisah seorang pelajar yang menghadapi bencana banjir.

Ceritanya sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya terasa begitu dekat. Hujan turun tanpa henti. Air mulai menggenangi rumah, naik perlahan hingga memaksa seluruh keluarga bertahan di atas atap. Hari demi hari mereka menunggu bantuan yang tak kunjung datang. Ketika banjir akhirnya surut, rumah dan sekolah dipenuhi lumpur serta gelondongan kayu.

Bagian yang paling menggetarkan adalah ketika tokoh dalam monolog itu mengatakan bahwa ia mengenali kayu-kayu tersebut. Sebelum banjir datang, truk-truk pengangkut kayu dengan nama perusahaan besar sering melintas di depan sekolahnya. Kini kayu-kayu itu berserakan di mana-mana, tetapi tak seorang pun mengaku sebagai pemiliknya. Kalimat itu menjadi kritik yang tajam terhadap kerusakan lingkungan. Monolog tersebut mengingatkan bahwa bencana sering kali bukan hanya akibat alam, melainkan juga buah dari keputusan manusia yang mengabaikan keseimbangan hutan. Sastra, malam itu, tampil sebagai suara yang mengingatkan nurani.

Kepala Balai Bahasa Aceh, Muhammad Irsan, dalam sambutannya menegaskan bahwa PPN XIV telah membuktikan dirinya sebagai ruang yang efektif untuk mempertemukan penyair, komunitas, pemerintah, dan berbagai lembaga kebudayaan. Ia melihat kolaborasi itulah yang menjadi kekuatan utama PPN. Baginya, seluruh rekomendasi yang telah disusun tidak boleh berhenti sebagai dokumen, tetapi harus diwujudkan melalui karya-karya baru. Ia juga berharap peluncuran antologi puisi dapat menjadi tradisi dalam setiap penyelenggaraan PPN, disertai diskusi dan bedah karya agar kehidupan sastra terus bergerak.

Refleksi yang paling personal datang dari Ahmadun Yosi Herfanda, pemegang mandaria PPN XIV. Ia mengaku semula membayangkan perjalanan di Aceh akan sangat melelahkan. Namun setelah menjalaninya, ia justru merasa belum puas. Perjalanan panjang yang semula tampak berat berubah menjadi petualangan yang menyenangkan. Menurutnya, pengalaman langsung memberi kedalaman yang tidak dapat digantikan oleh imajinasi semata.

Ahmadun bahkan mengaku tersentuh hingga menitikkan air mata ketika menyaksikan pembacaan puisi Hikayat Ringkih. Pengalaman itu memperkuat keyakinannya bahwa puisi yang lahir dari pengalaman nyata akan memiliki daya sentuh yang lebih kuat. Saya memahami pernyataan itu bukan sekadar sebagai pujian terhadap sebuah puisi, melainkan sebagai penegasan bahwa penyair perlu hadir di tengah kehidupan, menyaksikan, merasakan, lalu menuliskannya dengan jujur.

Direktur PPN XIV Aceh, Novi, menyampaikan laporan penyelenggaraan. Ia menjelaskan bahwa PPN XIV mencatat partisipasi terbesar sepanjang sejarah penyelenggaraan PPN di Indonesia. Antologi Puisi Nurani Kemanusiaan menghimpun karya penyair dari empat belas negara, sementara jumlah puisi yang masuk mencapai lebih dari seribu naskah. Dari seluruh karya tersebut, hanya sebagian yang dapat diterbitkan setelah melalui proses kurasi.

Di sela-sela sambutan, Komunitas Musik Batas pimpinan Rahmad Sanjaya membawakan musikalisasi puisi Pantai Longka karya Taufiq Ismail. Pertunjukan itu menjadi jeda yang menyegarkan. Musik tidak hanya mengiringi puisi, tetapi juga memperkuat emosi yang dibangun setiap larik. Penampilan tersebut memperlihatkan bahwa puisi terus menemukan bentuk-bentuk baru untuk menjangkau masyarakat.

Menurut Novi, keberhasilan PPN XIV Aceh lahir dari kolaborasi banyak pihak, mulai dari kementerian, pemerintah daerah, Perpustakaan Nasional, hingga puluhan komunitas sastra yang bekerja bersama. Aceh menunjukkan bahwa sebuah daerah mampu menjadi tuan rumah perhelatan sastra internasional ketika semangat kebersamaan ditempatkan di atas kepentingan masing-masing.

Mewakili Kementerian Kebudayaan, Prof. Ismunandar Staf Ahli Antar Lembaga Kementerian Kebudayaan menempatkan PPN XIV Aceh sebagai bagian dari strategi memajukan kebudayaan Indonesia di tingkat dunia. Ia menjelaskan bahwa pemerintah tengah mengembangkan berbagai program, mulai dari pembinaan talenta sastra, konsorsium festival sastra, hingga laboratorium penerjemahan karya sastra. Melalui program-program tersebut, karya para penyair Indonesia diharapkan dapat menjangkau pembaca internasional. Harapan itu terasa penting karena sastra tidak cukup hanya tumbuh di ruang-ruang lokal, tetapi juga perlu menjadi bagian dari percakapan dunia.

Forum penutupan juga menghasilkan sejumlah rekomendasi. Mulai dari penyelenggaraan seminar sastra, pertunjukan puisi, penerbitan antologi ber-ISBN, penguatan kerja sama dengan berbagai kementerian, pemanfaatan situs-situs budaya sebagai ruang kegiatan sastra, hingga pengembangan media digital untuk publikasi karya para penyair. Di penghujung musyawarah, seluruh peserta menyepakati Brunei Darussalam sebagai tuan rumah PPN XV tahun 2027. Keputusan itu disambut tepuk tangan panjang, bukan hanya sebagai penentuan lokasi berikutnya, tetapi juga sebagai tanda bahwa estafet perjumpaan sastra Nusantara akan terus berlanjut.

Menjelang acara berakhir, panggung kembali menjadi milik para penyair. Parade puisi menghadirkan penyair dari berbagai provinsi di Indonesia, juga dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Hadir pula para maestro seperti Sutardji Calzoum Bachri, Jose Rizal Manua, dan Sosiawan Leak. Mereka membacakan puisi dengan karakter yang berbeda-beda. Ada yang lantang, ada yang lirih, ada yang teatrikal, dan ada yang memilih kesederhanaan. Tema yang diangkat pun beragam, mulai dari kemanusiaan, lingkungan, hingga refleksi terhadap kondisi bangsa. Keragaman bahasa, dialek, dan gaya pembacaan justru memperlihatkan bahwa sastra Nusantara hidup dari perbedaan yang saling memperkaya.

Makna paling penting dari PPN XIV Aceh, yang dibawa pulang para penyair bukan sekedar oleh-oleh atau dokumentasi, melainkan pengalaman yang akan terus hidup dalam ingatan. Pengalaman itu kelak akan berubah menjadi puisi, menjadi esai, atau mungkin hanya menjadi kenangan yang diam-diam memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan.

Malam di Gunongan pun berakhir dengan kesan yang sulit dilupakan. PPN XIV Aceh tidak hanya mempertemukan penyair dari berbagai daerah dan negara serumpun, tetapi juga memperlihatkan bahwa sastra tetap memiliki ruang penting di tengah kehidupan masyarakat. Selama sepekan, puisi hadir dalam diskusi, pertunjukan, perjalanan, hingga perjumpaan dengan alam dan sejarah Aceh. Penutupan di Gunongan menjadi penanda bahwa sebuah pertemuan memang telah usai, tetapi semangat berkarya, berkolaborasi, dan merawat kebudayaan akan terus berlanjut menuju Pertemuan Penyair Nusantara XV di Brunei Darussalam.

*Penulis adalah Peneliti/Editor The Gayo Institute dan Peserta PPN XIV 2026 asal Aceh-Indonesia

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.