Oleh : Wien Khakleri (Mahasiswa Doktoral UIN Ar-Raniry Banda Aceh/Dosen Praktisi IAIN Takengon)
Hari ini, kita hidup di era di mana akses terhadap informasi dan ilmu pengetahuan berada di ujung jari. Orang-orang dengan gelar akademis berderet dengan mudah kita temukan.
Namun, ada paradoks besar yang sedang terjadi di hadapan kita: ruang publik kita justru kian sesak oleh fenomena orang-orang yang berilmu tinggi, tetapi miskin etika. Banyak orang pintar, namun kian sedikit yang beradab.
Lihat saja bagaimana ruang digital kita hari ini bekerja. Di media sosial, kita kerap menyaksikan individu-individu dengan latar belakang pendidikan yang mapan, tanpa ragu melempar makian, melakukan pembunuhan karakter (cyber-bullying), hingga tidak tahu sopan santun dalam berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau guru mereka sendiri.
Fenomena murid mengirim pesan singkat (WhatsApp) ke gurunya dengan bahasa yang menuntut, tanpa salam, atau bahkan mem-viral-kan sang pendidik di TikTok demi sebuah simpati publik, adalah bukti nyata bahwa ada yang rapuh dalam sistem interaksi edukatif kita.
Padahal, menghidupkan kembali adab di era digital ini sebetulnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang konkret di sekitar kita.
Bagi kalangan siswa di sekolah, cyber-ta’dzim bisa diwujudkan dengan tidak lagi mengirim pesan WhatsApp ke guru menggunakan huruf “P” atau singkatan yang tidak sopan di luar jam kerja.
Alangkah indahnya jika siswa dibiasakan mengawali pesan dengan salam, menyebutkan identitas diri yang jelas, dan memohon maaf karena telah mengganggu waktu guru.
Di dalam kelas pun, adab berarti menolak sibuk bermain ponsel di bawah meja saat guru sedang berjuang menjelaskan materi di depan papan tulis.
Sementara bagi kalangan mahasiswa di perguruan tinggi, etika akademik harus kembali ditegakkan. Mahasiswa yang beradab tidak akan mencegat dosennya secara mendadak di area parkir mobil layaknya sedang menagih utang demi meminta tanda tangan.
Mereka akan membuat janji temu dengan santun, datang tepat waktu, dan ketika kuliah daring (Zoom) berlangsung, mereka dengan sadar menyalakan kamera (on-cam) serta berpakaian rapi sebagai bentuk penghormatan batin terhadap dosen yang sedang mengajar.
Di sisi lain, rekonstruksi adab ini tidak akan pernah berjalan searah. Bagi para guru dan dosen di era modern, perwujudan adab dalam interaksi edukatif adalah dengan menolak menempatkan diri sebagai “penyedia jasa” yang kaku atau penguasa yang anti-kritik.
Guru yang beradab akan menyambut pesan santun muridnya dengan balasan yang menyejukkan, bukan respons dingin yang acuh tak acuh.
Ketika ada murid atau mahasiswa yang melakukan kesalahan etika di ruang digital seperti mengirim chat yang kurang sopan seorang pendidik tidak akan langsung menghakimi atau mempermalukannya di depan umum.
Guru yang bijak akan memanggilnya secara personal, menegur dengan kelembutan seorang ayah atau ibu, lalu mengajarkan bagaimana cara berkomunikasi yang benar.
Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya karena dunia pendidikan modern kita terjebak dalam arus transaksional. Sekolah dan kampus kian diposisikan seperti pabrik, guru sebagai penyedia jasa, dan murid sebagai konsumen yang membayar.
Ketika pendidikan diukur semata-mata dari angka di atas kertas atau kecepatan menyerap data, maka yang lahir hanyalah “robot-robot pintar” yang mahir secara kognitif, namun mengalami kelumpuhan moral.
Padahal, seabad yang lalu, ulama besar Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari telah mengingatkan kita melalui kitab klasiknya, Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Bagi Hadratussyaikh, ilmu dan adab adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan secara sekuler.
Ilmu tanpa adab tidak akan pernah membawa keberkahan, melainkan justru melahirkan kesombongan. Adab adalah wadah, sedangkan ilmu adalah isinya. Bagaimana mungkin isi yang jernih bisa ditampung jika wadahnya bocor dan kotor?
Di era digital dan gempuran Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) saat ini, kepintaran bukan lagi barang langka. Mesin bisa jauh lebih pintar dan tahu banyak hal daripada manusia. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah dimiliki oleh algoritma teknologi, yaitu dimensi ruhaniyyah, empati, dan spiritualitas adab.
Menghormati guru (ta’dzim) di era modern bukan lagi sekadar formalitas mencium tangan di kelas, melainkan kesadaran digital (cyber-ta’dzim) untuk menjaga marwah dan etika komunikasi di ruang siber.
Kita perlu sadar, kepintaran tanpa moralitas hanya akan menghasilkan kejahatan yang lebih canggih. Sudah saatnya kita memutar kemudi arah pendidikan kita.
Orientasi belajar harus dikembalikan pada khittahnya: bukan sekadar untuk mencari validasi nilai, pujian, atau pekerjaan, melainkan untuk membentuk manusia yang utuh. Sepintar apa pun generasi masa depan kita, jika kehilangan adab, mereka hanya akan menjadi barisan orang berilmu yang gagal menjadi manusia. []





