Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd (Penghulu Ahli Madya / Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah)
Jum’at, 5 Juni 2026, menjadi satu momentum yang sarat makna bagi saya. Setelah menunaikan tugas administrasi dan sebagian tugas pokok serta fungsi di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Atu Lintang, saya mendapat kesempatan mengisi khutbah Jumat di Masjid Jami’ Baiturrohem Kampung Merah Pupuk.
Bagi seorang penghulu sekaligus Kepala KUA, mimbar Jumat bukan sekadar tempat menyampaikan nasihat keagamaan.
Mimbar merupakan ruang strategis untuk menjalankan fungsi KUA dalam bidang bimbingan, penyuluhan, dan penerangan agama Islam kepada masyarakat. Karena itu, kesempatan tersebut saya manfaatkan untuk mengajak jamaah merenungi berbagai pelajaran penting yang relevan dengan kehidupan mereka saat ini.
Suasana saat itu masih berada dalam bulan Zulhijjah 1447 Hijriah, menjelang datangnya Muharram 1448 Hijriah. Di sisi lain, bulan Juni juga identik sebagai Bulan Pancasila.
Dua momentum tersebut menghadirkan ruang refleksi yang sangat kaya: refleksi keagamaan melalui keteladanan Nabi Ibrahim AS dan refleksi kebangsaan melalui nilai-nilai Pancasila.
Nabi Ibrahim AS mengajarkan kepada umat manusia tentang keimanan yang kokoh, kepatuhan kepada Allah SWT, pengorbanan, serta keberanian memperjuangkan kebenaran.
Sementara itu, Pancasila mengajarkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Keduanya sesungguhnya tidak bertentangan, bahkan saling menguatkan dalam membentuk karakter masyarakat yang beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab sebagai warga negara.
Dari mimbar Jumat, saya mengajak jamaah untuk bangkit dan menyadari peran masing-masing. Orang tua perlu semakin serius mendidik anak-anaknya, bukan hanya agar cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam akhlak dan spiritualitas. Sebab, keberhasilan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, melainkan juga oleh kualitas manusianya.
Sebelum khutbah dimulai, saya menyimak berbagai pengumuman dari pengurus masjid. Salah satunya mengenai kondisi kas masjid dan rencana pengembangan bangunan, termasuk pembangunan teras serta fasilitas pendukung lainnya.
Saya melihat adanya pengelolaan yang cukup baik dan transparan. Selain itu, diumumkan pula perkembangan Baitul Mal kampung yang telah berhasil menghimpun dana zakat dalam jumlah yang cukup signifikan.
Hal ini menjadi pertanda positif bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memakmurkan masjid dan mengelola zakat semakin meningkat. Namun demikian, tantangan berikutnya adalah bagaimana dana tersebut dapat dikelola secara amanah, profesional, dan produktif.
Karena itu, dari atas mimbar saya menyampaikan apresiasi sekaligus masukan agar pengelolaan masjid dan Baitul Mal senantiasa meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW, yaitu siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (transparan dan komunikatif), serta fathanah (cerdas dan profesional).
Dana zakat tidak hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga perlu diarahkan pada pemberdayaan mustahik agar mampu bangkit, mandiri, dan produktif.
Di tengah kondisi masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor pertanian kopi, saya juga mengingatkan pentingnya perencanaan ekonomi keluarga.
Saat ini musim panen mulai berada di penghujungnya. Penghasilan yang diperoleh pada masa panen hendaknya tidak dihabiskan seluruhnya, melainkan disisihkan sebagai tabungan untuk menghadapi masa paceklik.
Dalam hal ini, umat Islam dapat belajar dari kisah Nabi Yusuf AS ketika menakwilkan mimpi Raja Mesir. Nabi Yusuf mengajarkan pentingnya menyimpan sebagian hasil panen pada masa subur untuk menghadapi tahun-tahun sulit di masa depan. Prinsip tersebut tetap relevan hingga hari ini, termasuk bagi para petani kopi di Aceh Tengah.
Petani perlu semakin cerdas dalam mengelola hasil panen, merawat kebun, menjaga kualitas produksi, dan mengatur keuangan keluarga. Ketahanan ekonomi rumah tangga merupakan bagian dari ikhtiar menjaga keberlangsungan hidup yang juga diajarkan agama.
Pada akhirnya, seluruh pesan khutbah bermuara pada satu tujuan, yaitu peningkatan kualitas iman dan takwa. Ibadah mahdhah seperti salat, puasa, zakat, dan membaca Al-Qur’an harus terus ditingkatkan.
Namun pada saat yang sama, ibadah ghairu mahdhah juga perlu diwujudkan dalam bentuk kejujuran, kerja keras, kepedulian sosial, pengelolaan ekonomi yang baik, serta kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat.
Masjid yang makmur, Baitul Mal yang produktif, keluarga yang kuat, dan masyarakat yang berdaya merupakan buah dari perpaduan nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai kebangsaan yang hidup dalam keseharian kita.
Ketika keteladanan Nabi Ibrahim AS dan semangat Pancasila sama-sama dihayati, maka akan lahir masyarakat yang tidak hanya taat beragama, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi sesama.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Inilah pesan yang patut terus kita hidupkan, baik dari mimbar masjid maupun dalam kehidupan sehari-hari.[]







