Oleh : Fauzan Azima*
Di dataran tinggi yang diselimuti kabut, ada satu nama yang sering disebut dengan nada pelan dan penuh kehati-hatian: Tajuk Enang-Enang.
Bagi sebagian orang, itu hanyalah tanjakan biasa yang menghubungkan kampung-kampung di pedalaman. Namun bagi mereka yang sering melintas pada malam hari, tempat itu menyimpan cerita yang tidak pernah benar-benar selesai diceritakan.
Konon, saat kabut turun lebih cepat dari biasanya, suara-suara aneh sering terdengar dari balik hutan. Kadang seperti orang memanggil nama seseorang. Kadang seperti suara langkah kaki yang mengikuti kendaraan dari belakang. Anehnya, ketika menoleh, tidak ada siapa-siapa.
Para sopir tua punya kebiasaan unik ketika melewati kawasan itu. Mereka memperlambat kendaraan, bukan karena takut pada hantu, melainkan karena menghormati alam. Mereka percaya ada hal-hal yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan logika.
Namun misteri terbesar Tajuk Enang-Enang sebenarnya bukan suara-suara gaib atau cerita makhluk tak kasat mata.
Misteri terbesar adalah mengapa hingga kini jalan dan jembatan yang menjadi urat nadi masyarakat itu masih sering rusak, longsor, dan sulit dilalui. Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah kapan jalan dan jembatan yang dibangun pada penjajahan Belanda itu diperbaiki?
Kabut memang menakutkan. Gelap juga menakutkan. Tetapi yang lebih menakutkan adalah ketika akses masyarakat menuju pendidikan, kesehatan, dan ekonomi terhambat bertahun-tahun. Sehingga masyarakat berinisiatif membangun secara swadaya untuk merehabilitasi jalan dan jembatan Tajuk Enang-Enang.
Masyarakat Kampung Menderek dan Sekitarnya tidak sedang melawan makhluk halus. Mereka sedang menghadapi kenyataan yang jauh lebih nyata: keterisolasian.
Di sinilah pengetahuan perlu diperluas. Karena kadang-kadang, yang tampak seperti kisah horor ternyata hanyalah cara masyarakat menyampaikan kegelisahan yang tidak kunjung didengar.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika jalan telah baik, jembatan telah kokoh, dan masyarakat dapat bepergian dengan aman, Misteri Tajuk Enang-Enang akan berakhir.
Bukan karena hantunya pergi. Tetapi karena ketakutan yang sebenarnya telah berhasil diatasi.
Sebab dalam banyak cerita, hantu hanya hidup dalam imajinasi. Sedangkan jalan rusak adalah kenyataan. Dan kenyataan selalu lebih menyeramkan daripada cerita.
Bersambung ke bagian 25…
(Mendale, Juni 5, 2026)
Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 23: Selesaikan Sengketa Lahan Gambut





