Oleh : Fauzan Azima*
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai seseorang yang melakukan kesalahan, namun ketika dikritik justru menampilkan diri sebagai korban. Ia tidak menjawab substansi persoalan, melainkan berusaha membangun rasa iba dari orang lain. Fenomena seperti ini juga sering terjadi dalam dunia politik.
Politik seharusnya menjadi arena gagasan, program, dan pertanggungjawaban. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit politisi yang lebih memilih memainkan peran sebagai pihak yang terzalimi ketika menghadapi kritik. Kritik dianggap sebagai serangan, pengawasan dianggap sebagai permusuhan, dan perbedaan pendapat dianggap sebagai kebencian.
Padahal, kritik adalah bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi. Seseorang yang memegang jabatan publik harus siap menerima penilaian masyarakat. Sebab kekuasaan bukanlah hak istimewa, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Politik pura-pura terzalimi biasanya muncul ketika seseorang tidak mampu menjawab persoalan yang sebenarnya. Daripada menjelaskan capaian, data, atau solusi, ia justru membangun narasi bahwa dirinya sedang diserang, dijatuhkan, atau tidak dihargai. Tujuannya sederhana, yaitu mengalihkan perhatian publik dari pokok masalah menuju perasaan simpati.
Cara ini mungkin efektif dalam jangka pendek. Sebagian orang akan merasa kasihan dan memberikan dukungan emosional. Namun dalam jangka panjang, politik semacam ini justru merusak kualitas demokrasi. Masyarakat menjadi terbiasa menilai pemimpin berdasarkan rasa iba, bukan berdasarkan kinerja dan integritas.
Dalam budaya Gayo, terdapat nilai keberanian untuk menerima kenyataan dan bertanggung jawab atas perbuatan sendiri. Orang yang berani tidak akan mencari-cari alasan untuk menutupi kelemahannya. Ia akan menghadapi kritik dengan kepala tegak, memperbaiki kesalahan, dan membuktikan dirinya melalui tindakan.
Pemimpin yang kuat bukanlah pemimpin yang selalu ingin dikasihani. Pemimpin yang kuat adalah mereka yang mampu mendengar kritik tanpa marah, menerima evaluasi tanpa merasa terancam, dan bekerja tanpa harus terus-menerus meminta pengakuan.
Masyarakat juga perlu semakin dewasa dalam melihat politik. Jangan mudah terbawa oleh narasi kesedihan yang sengaja dipertontonkan. Tanyakan selalu: apakah yang disampaikan adalah fakta atau sekadar drama? Apakah yang sedang diperjuangkan adalah kepentingan rakyat atau hanya citra pribadi?
Demokrasi yang sehat membutuhkan warga yang kritis, bukan warga yang mudah tersentuh oleh sandiwara politik. Sebab pada akhirnya, yang menentukan kualitas kepemimpinan bukan seberapa sering seseorang mengaku menjadi korban, melainkan seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada masyarakat.
Haili Yoga, perluas pengetahuanmu. Karena politik bukan panggung untuk mencari belas kasihan, melainkan ruang untuk menunjukkan tanggung jawab dan pengabdian.
Bersambung ke bagian 23…
(Mendale, Juni 3, 2026)
Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 21: Fikiran Mewujudkan Impian





