Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 23: Selesaikan Sengketa Lahan Gambut

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Kalau berbicara soal sengketa lahan gambut, pikiran kita biasanya langsung melayang ke urusan batas tanah, patok kebun, peta kawasan, dan rapat panjang yang membuat kopi tiga gelas pun terasa kurang.

Padahal, kaum ibu sudah sejak lama menemukan cara paling sederhana untuk menyelesaikan sengketa lahan gambut. Bahkan tanpa perlu menghadirkan ahli tata ruang, pengacara, atau tim mediasi.

Caranya adalah dengan menanam cabai.

Coba perhatikan. Sebidang tanah yang selama bertahun-tahun diperebutkan kadang tidak jelas siapa pemiliknya. Namun begitu seorang ibu menanam lima batang cabai dan dua batang serai di sana, tiba-tiba seluruh kampung tahu bahwa tanah itu “sudah ada yang punya”.

Tidak percaya?

Seekor ayam saja yang berani masuk ke area tersebut bisa langsung menjadi bahan rapat darurat keluarga.

“Siapa pemilik ayam itu? Cabai saya tinggal dua buah lagi!”

Dalam dunia kaum ibu, cabai memiliki kekuatan hukum yang bahkan kadang lebih kuat daripada patok beton.

Lahan gambut juga mengajarkan satu hal penting. Tanah yang terlihat tenang di permukaan sering menyimpan banyak hal di bawahnya. Mirip dengan hati seorang ibu.

Di depan terlihat tersenyum.

Ketika suami pulang terlambat:
“Tak apa-apa.”

Ketika melihat belanja bulanan belum dibayar:
“Tak masalah.”

Ketika mendengar anak menghilangkan sendok satu set:
“Sudahlah.”

Namun di bawah permukaan, semua catatan itu tersimpan rapi seperti lapisan gambut yang berusia puluhan tahun.

Karena itu, para suami jangan salah memahami ketenangan. Gambut yang kering bisa terbakar. Begitu pula kesabaran yang terlalu sering diuji.

Untungnya, kaum ibu juga memiliki kemampuan luar biasa dalam menyelesaikan sengketa.

Ketika dua anak berebut remote televisi, ibu hadir.

Ketika dua tetangga berdebat soal pagar, ibu memberi solusi.

Ketika suami dan dompet sedang tidak akur menjelang akhir bulan, ibu tetap bisa menciptakan menu makan malam yang rasanya seperti tanggal muda.

Inilah kemampuan mediasi tingkat tinggi yang belum tentu dimiliki semua pejabat.

Maka jika suatu hari ada seminar tentang penyelesaian sengketa lahan gambut, mungkin panitianya perlu mempertimbangkan menghadirkan kaum ibu sebagai narasumber utama.

Sebab mereka memahami bahwa setiap persoalan tidak selalu harus diselesaikan dengan suara keras.

Kadang cukup dengan secangkir kopi, sepiring gorengan, dan kalimat sakti:

“Sudahlah, jangan bertengkar. Duduk dulu, kita bicarakan baik-baik.”

Kalimat sederhana yang telah menyelamatkan lebih banyak konflik dibandingkan banyak rapat yang berlangsung sampai larut malam.

Jadi, pelajaran hari ini adalah: jika ingin belajar menyelesaikan sengketa lahan gambut, belajarlah dari kaum ibu.

Karena mereka tahu kapan harus menanam, kapan harus menjaga, kapan harus memaafkan, dan yang paling penting, kapan harus mengingatkan suami bahwa cabai di belakang rumah tidak boleh dipetik sembarangan.

Sebab bagi kaum ibu, perdamaian itu penting. Tetapi cabai yang mulai berbuah jauh lebih penting lagi.

Bersambung ke bagian 24…

(Mendale, Juni 3, 2026)

Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 22: Politik Pura-Pura Terzalimi untuk Meraih Kasih Sayang

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.