Idul Adha: Tentang Ego & Ketaatan Hamba

oleh

Oleh: Ita Safitri | Aktivis Dakwah

Hari Arafah selalu datang membawa pesan yang lebih dalam daripada sekadar pergantian musim ibadah. Di padang luas yang menjadi saksi berkumpulnya jutaan manusia tanpa sekat jabatan dan bangsa itu, umat Islam diajak kembali memahami hakikat penghambaan.

Tidak ada yang dibanggakan selain ketundukan kepada Allah semata. Di hadapan-Nya, manusia hanyalah hamba yang datang dengan pakaian sederhana, membawa dosa, harapan, dan ketaatan yang dipersembahkan sepenuh jiwa.

Arafah mengajarkan bahwa puncak kemuliaan seorang muslim bukan terletak pada kekayaan, keindahan paras, kedudukan, ataupun pujian manusia, melainkan pada totalitas ketaatan kepada Rabb-nya.

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam telah mencontohkan itu ketika perintah Allah datang menguji cintanya yang paling besar. Beliau tidak mendebat, tidak menawar, dan tidak menunda.

Ketika Allah memerintah, beliau tunduk dengan sempurna. Begitu pula Nabi Ismail ‘alaihis salam yang menerima ketetapan itu dengan hati penuh ridha. Dari sinilah Idul adha lahir sebagai madrasah ketaatan yang agung.

Karena itu, Idul adha sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban. Lebih dari itu, ia adalah momentum menyembelih ego, kesombongan, dan hawa nafsu yang selama ini menguasai diri manusia.

Betapa banyak manusia yang mudah tunduk pada keinginan diri, tetapi berat tunduk pada aturan Allah. Betapa banyak yang rela mengikuti arus dunia, tetapi enggan mengikuti syariat-Nya secara kaffah. Padahal, ruh Idul adha adalah keberanian mengalahkan “aku” demi memenangkan ridha Allah.

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin individualistis, Idul adha juga menghadirkan pesan persatuan umat Islam. Pada hari itu, jutaan kaum muslimin di berbagai penjuru dunia menghadap kiblat yang sama, melafalkan takbir yang sama, dan merayakan hari raya yang sama.

Tidak ada batas warna kulit, bahasa, ataupun sekat kebangsaan. Semua dipersatukan oleh akidah _Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah_ .

Inilah gambaran bahwa umat Islam pada hakikatnya adalah satu tubuh yang diikat oleh iman, bukan oleh sekat-sekat garis batas imajiner buatan manusia.

Namun persatuan umat tidak cukup hanya diwujudkan dalam seremoni ibadah tahunan. Persatuan hakiki membutuhkan institusi yang benar-benar menyatukan kaum muslimin dalam satu kepemimpinan Islam yang bersifat global.

Sebab umat yang besar tanpa kepemimpinan yang menaungi akan mudah tercerai-berai, lemah, dan menjadi sasaran dominasi musuh-musuhnya. Umat Islam tanpa persatuan dalam kepemimpinan Islam ibarat domba yang berkeliaran yang dengan mudah diterkam oleh mangsanya.

Hari ini kaum muslimin merasakan bagaimana luka demi luka menimpa saudara mereka di berbagai negeri, seperti yang terjadi di Palestina, Uyghur, Rohingya, sementara dunia Islam berjalan sendiri-sendiri dalam sekat nasionalisme.

Islam tidak hanya mengajarkan ibadah spiritual, tetapi juga mengatur kehidupan umat dalam bingkai kepemimpinan yang menjaga agama dan mengurus urusan manusia dengan syariat Allah.

Karena itu, keberadaan seorang khalifah bukan sekadar simbol politik, melainkan bagian penting dalam menjaga persatuan dan kemuliaan umat. Para ulama bahkan menyebut kepemimpinan Islam sebagai _tajul furudh_ atau mahkota kewajiban, karena dengannya akan banyak kewajiban syariat dapat ditegakkan secara sempurna diatasnya.

Maka semangat Idul adha seharusnya tidak berhenti pada gema takbir dan penyembelihan kurban semata. Idul adha harus melahirkan kesadaran baru bahwa umat ini membutuhkan ketaatan total kepada Allah, termasuk dalam memperjuangkan kehidupan yang diatur dengan syariat-Nya.

Sebagaimana Nabi Ibrahim rela mengorbankan apa yang dicintainya demi ketaatan, umat Islam hari ini pun dituntut berani mengorbankan ego, kepentingan kelompok, dan sekat-sekat sempit demi terwujudnya persatuan hakiki di bawah kepemimpinan Islam.

Di hari raya ini, takbir yang menggema seharusnya bukan hanya menjadi lantunan lisan, tetapi juga panggilan kebangkitan. Bahwa umat Islam adalah umat besar yang pernah memimpin dunia dengan cahaya Islam, menyatukan berbagai bangsa dalam keadilan, dan menebarkan rahmat ke seluruh penjuru alam.

Dan jalan menuju kemuliaan itu selalu bermula dari satu hal yang sama: ketaatan total kepada Allah semata baik oleh individu, masyarakat dan negara.

Wallahu a’lam bish shawab

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.