Oleh : Fauzan Azima*
Di tanah Gayo, perjuangan tidak pernah dimaknai sekadar keberanian mengangkat senjata. Para leluhur memahami bahwa perang tanpa ilmu hanya melahirkan amarah, sementara ilmu tanpa keberanian hanya melahirkan ketakutan yang rapi.
Karena itu, pejuang Aceh asal Gayo, Abdullah Pakeh yang populer dengan panggilan Tengku Tapa, meninggalkan ungkapan penting: “Seberat badan seimbal nyawa.”
Ungkapan itu bukan sekadar semboyan keberanian. Dalam pemahaman masyarakat Gayo, maknanya dekat dengan “kitab dan pedang” atau ilmu pengetahuan dan senjata. Sebuah keseimbangan antara kecerdasan dan keberanian. Antara pikiran dan tindakan. Antara moral dan kekuatan.
Di sinilah Haili Yoga perlu memperluas pengetahuannya.
Karena memimpin bukan hanya soal tampil meyakinkan di depan publik. Seorang pemimpin harus memiliki “kitab” untuk memahami rakyatnya, dan memiliki “pedang” untuk melindungi kepentingan rakyatnya.
Masalahnya hari ini, banyak pemimpin hanya memegang salah satunya.
Ada yang memiliki “pedang” kekuasaan, tetapi miskin pengetahuan. Akibatnya kebijakan lahir tanpa arah, pembangunan berjalan tanpa pemahaman budaya, dan keputusan dibuat sekadar mengikuti kepentingan sesaat.
Sebaliknya, ada pula yang terlihat penuh “kitab,” bicara data, konsep, dan teori, tetapi tidak memiliki keberanian mengambil sikap. Mereka pintar berbicara tentang perubahan, tetapi takut melawan ketidakadilan karena khawatir kehilangan kenyamanan politik.
Padahal Tengku Tapa mengajarkan keseimbangan.
Kitab tanpa pedang membuat ilmu menjadi lumpuh.
Pedang tanpa kitab membuat kekuasaan menjadi liar.
Dan Aceh telah berkali-kali menjadi korban dari pemimpin yang terlalu kuat tangannya, tetapi terlalu lemah pikirannya.
Tanoh Gayo sejak dahulu melahirkan pejuang yang memahami bahwa mempertahankan negeri bukan hanya dengan tenaga, tetapi juga dengan kecerdasan membaca zaman. Karena penjajahan tidak selalu datang dengan bedil. Kadang datang melalui kebijakan. Kadang melalui investasi yang menyingkirkan rakyat. Kadang melalui elite yang kehilangan keberanian berpihak.
Hari ini tantangan Aceh jauh lebih rumit dibanding masa perang dahulu. Musuhnya bukan hanya kemiskinan, tetapi juga kebodohan yang dipelihara. Bukan hanya ketertinggalan, tetapi juga mentalitas takut berpikir kritis.
Karena itu, seorang pemimpin tidak cukup hanya rajin hadir di acara seremonial. Ia harus memahami sejarah daerahnya, watak masyarakatnya, arah ekonomi global, ancaman lingkungan, hingga masa depan generasi mudanya.
Itulah “kitab”.
Namun pengetahuan saja juga tidak cukup jika tidak berani digunakan untuk membela rakyat ketika berhadapan dengan kepentingan besar.
Itulah “pedang”.
Haili Yoga perlu memahami bahwa masyarakat Gayo menghormati pemimpin yang berisi, bukan sekadar berbunyi. Orang Gayo sejak dahulu menilai seseorang dari keseimbangan antara ucapan dan keberanian bertindak.
Sebab dalam tradisi perjuangan Aceh, kehormatan seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa lama ia berkuasa, tetapi seberapa besar keberaniannya mempertahankan harga diri rakyatnya.
Tengku Tapa sudah memberi pelajaran itu sejak lama.
Bahwa tubuh boleh mati, tetapi ilmu dan keberanian tidak boleh hilang dari sebuah bangsa.
Dan ketika pemimpin kehilangan salah satunya, maka kekuasaan tinggal menjadi panggung kosong yang ramai tepuk tangan, tetapi sunyi makna.
(Mendale, Mei 22, 2026)
Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 18: Kesempatan Menciptakan Pencuri






