Oleh : Fauzan Azima*
Di tanah Gayo, orang tua dulu tidak terlalu banyak bicara tentang teori kepemimpinan. Mereka tidak mengenal seminar motivasi, konsultan politik, atau pelatihan pencitraan. Tapi mereka punya satu kalimat pendek yang lebih tajam dari pidato pejabat: “Awal janyi akhir janyi.”
Artinya sederhana: bagaimana janji di awal, begitu pula sampai akhirnya. Jangan berubah di tengah jalan. Jangan mengkhianati ucapan sendiri.
Karena bagi masyarakat kampung, janji bukan sekadar kalimat. Janji adalah harga diri.
Dulu, seseorang cukup dipercaya hanya karena mulutnya. Tidak perlu materai, tidak perlu kontrak tebal, tidak perlu pengacara. Sebab orang Gayo percaya, lidah yang berkhianat lebih hina daripada tangan yang mencuri. Pencuri mungkin mengambil barang, tapi pengkhianat mengambil kepercayaan.
Hari ini keadaan mulai terbalik.
Banyak orang mengucapkan janji seperti sedang menebar benih di musim hujan. Semua ditabur ke mana-mana. Saat butuh dukungan rakyat, bahasa menjadi manis seperti madu hutan.
Semua ingin membela rakyat, menjaga tanah adat, melindungi hutan, menolong petani, memperjuangkan anak muda, dan mengangkat martabat daerah.
Tapi setelah kursi didapat, kata-kata itu berubah menjadi asap.
Yang dulu lantang menolak, tiba-tiba menjadi pendukung. Yang dulu berdiri bersama rakyat, perlahan duduk bersama kepentingan. Yang dulu mengaku pelindung kampung, malah membuka pintu bagi ancaman terhadap kampung itu sendiri.
Mungkin inilah zaman ketika janji paling cepat mati justru setelah tepuk tangan selesai.
Padahal masyarakat tidak menuntut pemimpin menjadi malaikat. Rakyat hanya ingin satu hal sederhana: jangan berubah terlalu jauh dari ucapan awalmu.
Kalau sejak awal berkata akan menjaga hutan, maka jangan diam ketika hutan mulai dijual. Kalau sejak awal mengaku membela rakyat kecil, maka jangan tiba-tiba akrab hanya dengan pemodal besar. Kalau sejak awal berkata anti pengkhianatan, maka jangan menusuk kepercayaan masyarakat secara perlahan sambil tersenyum.
Sebab rakyat kampung mungkin tidak pandai bermain politik, tapi mereka sangat pandai mengingat sikap.
Orang tua di Gayo dulu sering berkata, “Kapal yang bocor biasanya bukan karena ombak besar, tapi karena lubang kecil yang dibiarkan.” Begitu juga pengkhianatan. Ia jarang datang sekaligus. Biasanya dimulai dari kompromi kecil yang terus dibenarkan.
Hari ini membiarkan satu janji dilanggar. Besok membiarkan dua. Lama-lama kebohongan menjadi kebiasaan, dan pengkhianatan dianggap strategi.
Yang paling menyedihkan bukan ketika pemimpin lupa kepada rakyat. Yang paling menyedihkan adalah ketika rakyat mulai terbiasa dikhianati.
Karena saat masyarakat sudah menganggap pengingkaran janji sebagai sesuatu yang normal, saat itulah moral sebuah daerah mulai runtuh pelan-pelan.
Awal janyi akhir janyi sebenarnya bukan hanya nasihat untuk pemimpin. Itu juga tamparan untuk masyarakat. Jangan mudah kagum pada kata-kata. Jangan terlalu cepat percaya pada pidato. Lihat apakah seseorang mampu menjaga ucapannya ketika kepentingan mulai datang menghampiri.
Sebab banyak orang terlihat gagah sebelum berkuasa, tapi berubah arah setelah mencium aroma kekuasaan.
Di kampung-kampung terpencil, masih ada orang tua yang memegang janji puluhan tahun tanpa tulisan apa pun. Mereka miskin harta, tapi kaya martabat. Sementara di kota, ada orang yang tiap hari bicara kehormatan, tapi bahkan tidak mampu menjaga kata-katanya sendiri.
Mungkin benar, krisis terbesar hari ini bukan krisis anggaran, bukan krisis pembangunan, melainkan krisis keteguhan hati.
Dan di tengah dunia yang semakin mudah berubah arah demi keuntungan, masyarakat Gayo masih menyimpan satu pengingat lama:
Awal janyi akhir janyi.
Kalau berjanji menjaga rakyat, jagalah sampai akhir. Kalau berjanji membela tanah sendiri, jangan menjualnya diam-diam. Kalau berjanji setia pada perjuangan, jangan menghilang ketika perjuangan mulai berat.
Karena pengkhianatan paling berbahaya bukan dilakukan musuh.
Tetapi dilakukan oleh orang yang dulu berdiri paling depan sambil berkata:
“Percayalah kepada saya.”
Bersambung ke bagian 17…
(Mendale, Mei 16, 2026)
Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 15: Beutong Pertahanan Terakhir Tambang Aceh





