Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd. (Pemerhati sosial kemasyarakatan dan generasi muda, ASN Kemenag)
Kasus kekerasan, bullying, dan penyimpangan perilaku peserta didik yang muncul di lingkungan pendidikan harus menjadi bahan evaluasi bersama. Jangan sampai setiap kali terjadi kekerasan kita hanya sibuk mencari siapa yang salah, mengecam pelaku, atau menunggu tindakan setelah korban jatuh dan terluka.
Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem pendidikan yang mampu mencegah kekerasan sebelum terjadi.
Pada jenjang pendidikan menengah pertama dan atasโSMP/MTs, SMA/MA, maupun SMKโpendidikan anak tidak mungkin hanya menjadi tanggung jawab satu atau dua orang guru. Kepala sekolah atau kepala madrasah, wakil kepala, guru mata pelajaran, wali kelas, guru BK, guru piket, tenaga kependidikan, pembina OSIS, pembina kegiatan siswa, bahkan seluruh warga sekolah harus berada dalam satu irama.
๐๐๐ฉ๐๐ฅ๐ ๐๐๐ค๐จ๐ฅ๐๐ก ๐๐๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐๐๐ฆ๐ฉ๐ฎ ๐๐๐ฆ๐๐ง๐๐ฃ
Kepala sekolah atau kepala madrasah memiliki posisi strategis. Ia bukan hanya administrator, tetapi pemimpin pendidikan.
Karena itu, kemampuan memenej menjadi sangat penting. Kepala sekolah harus mampu membagi tugas, membangun koordinasi, memastikan komunikasi berjalan, dan menciptakan budaya kerja yang membuat seluruh guru merasa memiliki tanggung jawab yang sama terhadap perkembangan peserta didik.
Jangan sampai terjadi keadaan ketika seorang guru berpikir, โItu bukan tanggung jawab saya.โ
Guru yang mengajar di kelas bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran dan perilaku peserta didik selama berada dalam pengawasannya. Guru piket memiliki tugas pengawasan sesuai kewenangannya. Wali kelas harus mengetahui kondisi anak didiknya. Guru BK harus hadir ketika ada persoalan perilaku dan psikologis. Wakil kepala sekolah harus diberdayakan sesuai bidang tugasnya. Semuanya harus saling berkoordinasi.
Jangan bekerja sendiri-sendiri. Jangan saling melempar tanggung jawab. Sekolah membutuhkan satu arah dalam mendidik, membina, membimbing, mengawasi, dan mengarahkan peserta didik.
๐๐๐ซ๐๐๐ ๐ข ๐๐ฎ๐ ๐๐ฌ ๐๐ข ๐๐๐ค๐จ๐ฅ๐๐ก
Di banyak sekolah terdapat wakil kepala sekolah dengan bidang masing-masing. Ada yang menangani kurikulum, kesiswaan, sarana prasarana, hubungan masyarakat, dan bidang lainnya sesuai kebutuhan satuan pendidikan. Semua itu harus benar-benar diberdayakan.
Wakasek kesiswaan, misalnya, tidak boleh baru sibuk ketika ada tawuran, bullying, pelanggaran disiplin atau kekerasan. Harus ada sistem pembinaan yang berjalan sejak awal.
Begitu pula wali kelas, guru BK, pembina OSIS dan guru piket. Mereka bukan sekadar pelengkap struktur organisasi, tetapi bagian dari sistem perlindungan dan pembinaan peserta didik.
Koordinasi harus menjadi budaya. Ada masalah kecil, segera dibicarakan. Jangan menunggu menjadi masalah besar.
๐๐ฎ๐ซ๐ฎ ๐๐๐ซ๐ข ๐๐ง๐ข ๐๐๐ง๐ ๐ก๐๐๐๐ฉ๐ข ๐๐๐ง๐ญ๐๐ง๐ ๐๐ง ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐ข๐๐๐ค ๐๐ข๐ง๐ ๐๐ง
Menjadi guru pada zaman sekarang tidak mudah. Di satu sisi, guru dituntut tegas dalam mendidik dan menegakkan disiplin. Namun di sisi lain, setiap tindakan guru juga harus memperhatikan hak-hak anak dan ketentuan hukum tentang perlindungan anak.
Kondisi ini terkadang membuat sebagian guru berada dalam posisi dilematis. Tetapi solusinya bukan kemudian guru menjadi takut mendidik.
Guru harus cerdas, inovatif, komunikatif, memahami aturan, menguasai pendekatan pendidikan, dan menjadi teladan.
Ketegasan tetap diperlukan. Tetapi ketegasan bukan kekerasan. Disiplin bukan intimidasi. Memberi konsekuensi atas pelanggaran bukan berarti merendahkan anak.
Guru harus mampu membedakan antara mendidik dengan kekerasan dan mendidik dengan ketegasan yang terukur, manusiawi, edukatif, dan sesuai aturan. Di sinilah profesionalisme guru diuji.
๐๐๐ง๐๐ข๐๐ข๐ค๐๐ง ๐๐๐ซ๐๐ค๐ญ๐๐ซ ๐๐ข๐๐๐ค ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ฉ ๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ซ๐๐ฆ๐๐ก
Kita sering berbicara tentang pendidikan karakter, akhlak mulia, adat dan adab.
Tetapi pendidikan karakter tidak akan berhasil jika hanya disampaikan melalui ceramah, poster, slogan dan upacara. Anak belajar terutama dari apa yang mereka lihat.
Jika guru mengajarkan disiplin tetapi dirinya tidak disiplin, pesan pendidikan menjadi lemah. Jika guru mengajarkan sopan santun tetapi warga sekolah terbiasa saling merendahkan, anak akan melihat kontradiksi.
Jika sekolah mengajarkan anti-kekerasan tetapi senioritas dibiarkan menjadi ruang intimidasi, maka pendidikan karakter kehilangan maknanya.
Keteladanan adalah kurikulum yang tidak tertulis, tetapi sangat kuat pengaruhnya.
โ๐ ๐๐๐ซ๐๐ก๐๐ง ๐๐ฎ ๐๐๐ง๐ ๐ค๐ฎ ๐๐ฎ๐ซ๐ฎโ ๐๐๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐๐ข๐ฆ๐๐ค๐ง๐๐ข ๐๐๐ฆ๐๐๐ฅ๐ข
Dalam kearifan masyarakat Gayo terdapat ungkapan โi serahen ku tengku guruโโanak diserahkan kepada guru untuk dididik dan dibimbing. Ungkapan ini mengandung kepercayaan yang sangat besar kepada guru.
Namun maknanya jangan dipahami sebagai penyerahan seluruh tanggung jawab anak kepada sekolah.
Justru sebaliknya, ia harus menjadi dasar kemitraan antara orang tua, guru, sekolah, agama, adat dan masyarakat.
Orang tua mempercayakan anak kepada guru. Guru menerima amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab. Sekolah membangun sistem pengawasan dan pembinaan. Masyarakat ikut menjaga lingkungan. Tokoh agama memberikan penguatan moral dan spiritual. Tokoh adat menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang mulai tergerus.
Anak akhirnya merasa bahwa dirinya bukan hanya diawasi, tetapi dijaga dan disayangi bersama.
๐๐๐ง๐๐๐ ๐๐ก๐๐ง ๐๐๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐๐๐๐ข๐ก ๐๐๐ก๐ฎ๐ฅ๐ฎ ๐๐๐ซ๐ข๐ฉ๐๐๐ ๐๐๐ง๐ข๐ง๐๐๐ค๐๐ง
Kekerasan di sekolah tidak boleh hanya ditangani setelah terjadi. Harus ada upaya preventif yang sistematis.
Sekolah perlu memetakan titik-titik rawan, memperkuat pengawasan, membuka ruang pengaduan yang aman, membangun komunikasi dengan siswa, mendeteksi perubahan perilaku, memperkuat peran guru BK, serta memberikan edukasi tentang bullying, kekerasan, perundungan digital dan konsekuensi hukum. Siswa juga harus diberi keberanian untuk melapor.
Jangan sampai seorang anak mengetahui temannya menjadi korban kekerasan tetapi memilih diam karena takut disebut pengkhianat atau takut mendapat tekanan senior. Budaya diam harus diganti dengan budaya peduli.
Senior harus diajarkan bahwa menjadi kakak kelas berarti menjadi pelindung dan teladan, bukan penguasa.
๐๐๐๐ซ๐ข๐๐๐ง ๐๐จ๐ค๐๐ฅ ๐๐๐ง ๐๐ข๐ฅ๐๐ข ๐๐ง๐ข๐ฏ๐๐ซ๐ฌ๐๐ฅ ๐๐๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐๐๐ซ๐ญ๐๐ฆ๐ฎ
Kita memiliki kearifan lokal yang kaya. Gayo memiliki nilai mukemel, genap mupakat, alang tulung, dan bersikekemelen, serta berbagai nilai sosial yang mengajarkan kehormatan, musyawarah, saling membantu dan menjaga hubungan antarsesama. Nilai-nilai tersebut harus dihidupkan dalam perilaku sehari-hari.
Namun pencegahan kekerasan juga harus dibangun di atas nilai universal: menghormati martabat manusia, kasih sayang, keadilan, kesetaraan, perlindungan terhadap anak, tanggung jawab, empati dan penghormatan terhadap hukum.
Dengan demikian, pendidikan karakter tidak menjadi eksklusif milik satu budaya atau satu kelompok. Ia menjadi nilai bersama untuk membangun manusia yang beradab.
๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐ข๐๐ซ๐ค๐๐ง ๐๐๐ค๐จ๐ฅ๐๐ก ๐๐๐ก๐ข๐ฅ๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐ซ๐๐ก
Sekolah yang baik bukan sekolah yang tidak pernah memiliki masalah. Sekolah yang baik adalah sekolah yang memiliki sistem untuk mendeteksi masalah, mencegahnya, menanganinya secara tepat, dan belajar dari setiap persoalan. Karena itu, setiap kepala sekolah dan kepala madrasah perlu bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah guru-guru saya sudah satu arah? Apakah pembagian tugas sudah jelas? Apakah wakasek benar-benar diberdayakan? Apakah wali kelas mengetahui kondisi anak didiknya? Apakah guru BK mudah dijangkau siswa? Apakah guru piket benar-benar melakukan pengawasan?
Apakah anak merasa aman untuk melapor? Apakah orang tua dilibatkan? Apakah sekolah memiliki mekanisme pencegahan kekerasan yang berjalan, bukan sekadar dokumen?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting sebelum kita berbicara lebih jauh tentang kualitas pendidikan. Sebab sekolah yang aman adalah prasyarat sekolah yang berkualitas.
๐๐ง๐๐ค ๐๐ฎ๐ค๐๐ง ๐๐๐ง๐ฒ๐ ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐๐ข๐๐ข๐๐ข๐ค, ๐ญ๐๐ญ๐๐ฉ๐ข ๐๐ข๐ฃ๐๐ ๐
Anak-anak kita adalah amanah. Mereka datang ke sekolah membawa harapan orang tua. Mereka bukan sekadar angka dalam daftar hadir, bukan sekadar peserta ujian, bukan sekadar target prestasi akademik.
Mereka adalah manusia yang sedang tumbuh. Mereka membutuhkan ilmu, tetapi juga membutuhkan perhatian. Mereka membutuhkan disiplin, tetapi juga membutuhkan kasih sayang.
Mereka membutuhkan aturan, tetapi juga membutuhkan keteladanan. Mereka membutuhkan guru yang tegas, tetapi sekaligus guru yang mampu memahami dunia mereka.
Karena itu, menghadapi berbagai tantangan pendidikan hari ini, jangan sampai kita kehilangan satu hal yang paling mendasar: semangat memanusiakan manusia.
Mari kita bangun sekolah dan madrasah yang seluruh warganya bergerak dalam satu arah: mendidik dengan ilmu, membina dengan kasih sayang, membimbing dengan keteladanan, menegakkan disiplin dengan bijaksana, dan mencegah kekerasan dengan sistem yang kuat.
Jangan menunggu anak menjadi korban untuk kemudian kita bergerak. Cegah sebelum terjadi. Peduli sebelum terlambat. Bertindak sebelum penyesalan datang.
Sebab pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya menghasilkan anak yang pintar, tetapi generasi yang tahu bagaimana menggunakan kepintarannya untuk menjadi manusia yang berakhlak, beradab, bertanggung jawab, dan menghormati sesama.
Sekolah harus menjadi tempat anak merasa aman untuk belajar, tumbuh, dan menjadi manusia.[]
Tanoh Gayo, 24 Agustus 2026





