Oleh : Fauzan Azima*
Ada satu kesalahan yang sering dilakukan para pejabat ketika melihat peta Aceh: mereka terlalu cepat melihat warna coklat sebagai tambang, tapi terlalu lambat melihat hijau sebagai kehidupan.
Beutong hari ini sedang berdiri di persimpangan itu.
Daerah yang selama ini dikenal tenang, dingin, kaya hutan dan sumber air, perlahan mulai dipandangi seperti etalase mineral. Gunung dibaca sebagai cadangan emas. Sungai dianggap jalur produksi. Hutan dipandang sebagai wilayah menunggu excavator.
Dan seperti biasa, bahasa yang dipakai selalu terdengar indah: investasi, pertumbuhan ekonomi, pembukaan lapangan kerja, hilirisasi, dan peningkatan PAD.
Kalau bahasa bisa menanam pohon, mungkin Aceh sudah menjadi Swiss.
Masalahnya, rakyat sudah terlalu sering mendengar pidato pembangunan yang ujungnya hanya meninggalkan lubang, jalan rusak, air keruh, dan elite yang mendadak kaya.
Karena itu Beutong menjadi penting. Ia bukan sekadar kecamatan di pedalaman. Ia mulai terlihat sebagai benteng terakhir sebelum seluruh dataran tinggi dan kawasan hulu Aceh diperlakukan seperti meja prasmanan investor.
Orang Aceh sering lupa satu hal: tambang tidak pernah datang sendirian.
Ia datang bersama konflik ruang. Datang bersama perebutan pengaruh. Datang bersama perubahan budaya. Datang bersama kerusakan yang kadang baru terasa ketika generasi berikutnya lahir.
Hari ini orang mungkin sibuk menghitung berapa gram emas di perut bumi Beutong. Tapi sangat sedikit yang menghitung berapa mata air yang akan hilang bila hutan dibuka.
Padahal air jauh lebih setia daripada emas.
Emas hanya menguntungkan segelintir orang dalam waktu tertentu. Air menjaga semua orang sepanjang zaman.
Yang lebih ironis, masyarakat sering dipaksa memilih antara miskin atau tambang. Seolah-olah Aceh tidak punya pilihan ekonomi lain selain menggali gunungnya sendiri.
Narasi itu berbahaya.
Aceh sejak dulu hidup dari pertanian, hutan, rempah, kopi, perdagangan, dan laut. Tetapi sekarang generasi muda mulai diajarkan bahwa masa depan hanya ada pada investasi besar yang datang dengan alat berat.
Padahal di banyak tempat, alat berat justru lebih cepat menghancurkan masa depan daripada membangunnya.
Beutong seharusnya dibaca bukan sebagai “cadangan tambang”, melainkan cadangan keselamatan ekologis Aceh.
Ia adalah pagar terakhir.
Kalau Beutong dibuka tanpa kehati-hatian, maka yang terancam bukan hanya satu kawasan, tetapi seluruh rantai kehidupan di bawahnya. Sungai-sungai yang mengalir ke pemukiman, sawah, kebun, dan kehidupan masyarakat akan ikut membawa akibatnya.
Kita terlalu sering belajar setelah bencana datang.
Ketika banjir tiba, baru bicara hutan.
Ketika longsor datang, baru bicara tata ruang. Ketika sungai rusak, baru bicara lingkungan.
Padahal alam selalu memberi tanda sebelum menghukum manusia.
Haili Yoga perlu memperluas pengetahuannya bahwa memimpin daerah tidak cukup hanya pandai mengundang investor. Pemimpin juga harus mampu mengatakan “tidak” ketika tanah rakyat mulai diperlakukan seperti barang lelang.
Karena sejarah tidak selalu mengingat siapa yang membuka investasi.
Kadang sejarah justru lebih hormat kepada orang yang menjaga kampungnya tetap hidup.
Di Tanoh Gayo, orang tua dulu tidak mewariskan emas kepada anak-anaknya. Mereka mewariskan air, kebun, dan hutan.
Sebab mereka tahu:
emas bisa habis,
tetapi mata air yang dijaga akan membuat generasi tetap bertahan.
Dan mungkin Beutong sedang mencoba mengingatkan Aceh tentang hal itu.u
Bersambung ke bagian 16…
(Mendale, Mei 13, 2026)
Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 14: Mukune Nge Gayoni?





