Oleh : Fauzan Azima*
“Mukune nge Gayoni?” tanya orang tua di kampung terpencil di Tanoh Depet.
Pertanyaan itu sederhana, tapi bunyinya seperti tamparan yang memantul ke bukit-bukit. Dalam bahasa kita, itu bukan sekadar bertanya “di mana orang Gayo?” melainkan sebuah kegelisahan: ke mana hilangnya nurani yang dulu begitu ribut menjaga tanah ini?
Orang tua itu memandang jauh ke arah perbukitan. Matanya seperti sedang menghitung usia hutan yang sebentar lagi mungkin tinggal cerita. Ia mendengar kabar tanah-tanah ini akan dibuka, digadai, diserahkan kepada orang-orang asing yang datang membawa proposal, peta konsesi, dan janji kesejahteraan yang biasanya lebih licin dari jalan beraspal baru.
Ia heran, sebab tak ada gaduh.
Tak ada kemarahan.
Tak ada penolakan yang berarti.
Yang terdengar justru harmoni yang terlalu rapi dari para pejabat, seperti kelompok paduan suara yang sedang melafalkan partitur yang sama: investasi, kemajuan, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi.
Kalimat-kalimat itu diucapkan dengan khidmat, seolah-olah tambang emas adalah wahyu pembangunan yang turun dari langit.
Padahal kita tahu, cerita tentang penambang emas yang konon membawa banyak masalah di Kabupaten Pidie bukan dongeng pengantar tidur.
Itu cerita nyata yang jejaknya bisa dibaca oleh siapa saja yang masih mau membaca, bukan sekadar membaca angka investasi, tetapi membaca luka sosial, kerusakan lingkungan, konflik kepentingan, dan pertanyaan-pertanyaan yang selalu menguap sebelum sempat dijawab.
Aneh memang.
Ketika perut terlalu kenyang oleh fasilitas kekuasaan, pikiran sering kehilangan nafsu untuk curiga.
Orang jadi mudah percaya bahwa semua yang datang dari luar pasti membawa berkah. Bahwa setiap investor adalah malaikat ekonomi yang turun dengan koper penuh solusi.
Padahal sejarah daerah-daerah kaya sumber daya sudah berkali-kali mengajarkan satu pelajaran sederhana: yang pertama kali digali bukan emasnya, tapi kesadaran rakyatnya.
Mereka dibuat sibuk menghitung janji. Dibuat mabuk oleh presentasi. Dibuat percaya bahwa kemajuan selalu datang dengan suara mesin berat.
Sementara perlahan, tanah berubah nama di atas kertas. Hutan berubah fungsi. Sungai berubah warna. Dan anak cucu kelak hanya mewarisi cerita bahwa di sini dulu pernah ada kampung yang subur, sebelum semuanya dijual atas nama masa depan.
Mungkin benar, kadang-kadang perut kosong membuat pikiran lebih penuh.
Sebab orang yang lapar biasanya masih sempat berpikir: besok anak cucuku makan apa? minum dari mana? hidup di tanah siapa?
Sedangkan yang terlalu kenyang sering hanya sempat berpikir sampai masa jabatan berikutnya.
Orang tua di Tanoh Depet itu mungkin tak pernah kuliah ekonomi. Ia tak pandai membaca dokumen investasi. Ia tak fasih bicara soal hilirisasi atau akselerasi pertumbuhan.
Tapi ia punya sesuatu yang mulai langka di negeri ini: naluri menjaga tanah warisan.
Dan sering kali, naluri orang kampung jauh lebih jujur daripada pidato orang kota.
Jadi ketika ia bertanya, “Mukune nge Gayoni?”
Mungkin itu bukan pertanyaan.
Itu Alarm.
Bersambung ke bagian 15…
(Mendale, Mei 9, 2026)
Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 13: Matinya Aktivis Anti Tambang





