Oleh : Fauzan Azima*
Di kampung-kampung, orang tua dulu sering menyindir dengan perumpamaan binatang. Bukan karena mereka tidak sekolah, tapi karena mereka paham: kadang manusia lebih mudah terlihat wataknya ketika dibandingkan dengan hewan.
Ada lelaki yang hidupnya seperti bebek. Ada pula yang seperti angsa. Bebek itu ramai. Ke mana-mana bergerombol. Suaranya ribut. Jalannya tidak pernah lurus. Hari ini di sini, besok di sana. Dan dalam dunia hewan, bebek dikenal tidak terlalu setia pada satu pasangan. Mudah berpindah, mudah mencari genangan baru. Air keruh pun diselami.
Sementara angsa berbeda. Ia tenang, elegan, dan dikenal lebih setia. Jika sudah memilih pasangan, ia menjaga sampai akhir. Tidak banyak gaduh, tapi kuat dalam kesetiaan.
Nah, persoalannya sekarang: banyak lelaki ingin terlihat seperti angsa di depan publik, tapi diam-diam hidupnya seperti bebek di belakang rumah.
Di depan mimbar bicara moral. Di depan istri bicara cinta. Di depan anak bicara tanggung jawab. Tapi di belakang layar, hobinya menebar pakan ke kolam lain.
Lucunya lagi, sebagian merasa itu simbol kejantanannya. Padahal belum tentu. Karena kesetiaan itu lebih sulit daripada petualangan. Bertahan dengan satu pasangan membutuhkan kedewasaan mental. Perlu kemampuan menahan ego, menahan bosan, menahan godaan, dan menahan nafsu untuk selalu merasa kurang.
Poligami sering dibungkus dalil, padahal kadang hanya selera yang diberi jas agama.
Ini yang jarang dibicarakan. Sebab tidak semua orang yang beristri lebih dari satu itu salah. Tapi juga tidak semua yang mengaku mampu berlaku adil benar-benar paham arti adil.
Adil bukan sekadar membagi jadwal tidur atau uang belanja. Adil itu juga soal perhatian, rasa aman, ketenangan batin, dan luka yang tidak terlihat.
Masalahnya, banyak lelaki ingin haknya sebagai suami dihormati, tapi lupa kewajibannya sebagai manusia.
Ia ingin ditaati, tapi dirinya sendiri sulit menjaga komitmen. Ia ingin dianggap imam, tapi lebih sibuk menjadi turis perasaan. Dan masyarakat kita sering aneh.
Ketika ada lelaki berganti-ganti pasangan, sebagian malah tertawa bangga. Seolah itu prestasi sosial. Tapi ketika ada lelaki setia menjaga satu rumah tangga puluhan tahun, itu dianggap biasa saja.
Padahal membangun kesetiaan di zaman sekarang jauh lebih berat daripada mencari sensasi baru.
Media sosial membuat manusia seperti bebek digital. Sedikit-sedikit melirik kolam lain. Sedikit-sedikit membandingkan pasangan sendiri dengan kehidupan orang lain.
Akhirnya rumah tangga berubah menjadi arena perlombaan, bukan tempat pulang. Di sinilah pentingnya memilih: mau jadi bebek atau angsa?
Kalau jadi bebek, hidup mungkin ramai. Banyak genangan, banyak cerita, banyak drama. Tapi sering kehilangan arah.
Kalau jadi angsa, hidup mungkin lebih tenang. Tidak terlalu gaduh. Tapi ada kehormatan dalam kesetiaan.
Karena pada akhirnya, cinta bukan soal seberapa banyak pasangan yang bisa dikumpulkan.
Tapi seberapa kuat seseorang menjaga satu hati agar tidak hancur oleh dirinya sendiri.
Bersambung ke bagian 18…
(Mendale, Mei 18, 2026)
Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 16: Awal Janyi Akhir Janyi





