Oleh : Fauzan Azima*
Di banyak kampung di Tanoh Gayo, orang tua dulu sering meninggalkan cangkul di kebun, parang di pondok, bahkan kopi di para-para tanpa rasa takut berlebihan. Bukan karena tidak ada orang miskin, tetapi karena rasa malu masih lebih besar daripada kesempatan.
Hari ini situasinya mulai berubah.
Bukan semata-mata karena manusia berubah menjadi lebih jahat, tetapi karena terlalu banyak kesempatan yang sengaja dibiarkan terbuka. Dalam ilmu sosial, ada satu kenyataan pahit: kadang-kadang masyarakat tidak sedang menciptakan kesejahteraan, tetapi justru sedang menciptakan pencuri.
Kalimat ini memang keras. Tetapi mari berpikir jernih.
Ketika kesenjangan ekonomi dipertontonkan tanpa empati, ketika jabatan dipakai memamerkan kekayaan, ketika bantuan hanya berputar di kelompok tertentu, ketika rakyat kecil dipaksa melihat kemewahan yang tidak mungkin mereka raih, maka sebenarnya masyarakat sedang menumpuk bara dalam pikiran orang-orang yang putus harapan.
Orang lapar mungkin masih punya harga diri. Tetapi orang yang setiap hari dipermalukan oleh keadaan bisa kehilangan rasa takut.
Di sinilah letak masalahnya.
Kadang-kadang pencurian bukan lahir dari niat awal menjadi penjahat, melainkan dari lingkungan yang terus-menerus mengajarkan bahwa keadilan tidak pernah datang. Bahwa kerja keras tidak selalu cukup. Bahwa aturan hanya tajam kepada orang kecil.
Lalu lahirlah pembenaran-pembenaran:
“Semua orang juga ambil.”
“Pejabat saja mencuri.”
“Yang penting keluarga makan.”
Maka rusaklah satu generasi.
Haili Yoga dan kita semua harus memperluas pengetahuanmu bahwa keamanan tidak cukup dibangun dengan polisi, pagar tinggi, CCTV, atau razia malam. Keamanan paling kuat lahir dari rasa keadilan sosial.
Jika rakyat merasa dihargai, mereka menjaga kampungnya. Jika rakyat merasa dilibatkan, mereka menjaga negerinya.
Tetapi jika rakyat terus merasa ditinggalkan, maka sebagian akan kehilangan rasa memiliki.
Dan ketika rasa memiliki hilang, pencurian bukan lagi dianggap dosa besar, melainkan jalan bertahan hidup.
Inilah yang sering gagal dipahami para pemimpin.
Mereka sibuk membangun citra, tetapi lupa membangun keseimbangan sosial. Mereka sibuk pidato tentang moral, tetapi membiarkan ketimpangan tumbuh di depan mata. Padahal, kemiskinan yang dipelihara terlalu lama bisa berubah menjadi kemarahan sosial.
Masyarakat Gayo dulu memiliki satu kekuatan penting: rasa malu. Dalam bahasa kampung, “mukemel.” Malu mencuri. Malu menipu. Malu mengambil hak orang lain.
Namun rasa malu akan perlahan mati jika masyarakat terus melihat ketidakadilan dipertontonkan setiap hari.
Anak-anak melihat korupsi. Pemuda melihat nepotisme. Petani melihat hasilnya murah. Pengangguran melihat jabatan diperjualbelikan.
Lalu kita bertanya, mengapa kriminalitas meningkat?
Kadang jawabannya sederhana: Karena terlalu banyak kesempatan diciptakan oleh ketidakadilan itu sendiri.
Pemimpin yang baik bukan hanya pandai menghukum pencuri, tetapi mampu menciptakan keadaan agar rakyat tidak terdorong menjadi pencuri.
Sebab negara yang sehat bukan negara yang penjaranya penuh, melainkan negara yang berhasil menjaga martabat rakyatnya agar tetap utuh.
Bersambung ke bagian 19…
(Mendale, Mei 21, 2026)
Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 17: Para Suami, Jadi Bebek Jangan Mengaku Angsa





