Oleh : Fauzan Azima*
Pada bagian 10, kita diajak merenungi nama, hari ini kita masuk ke bagian yang sedikit berbahaya: jangan terlalu percaya dengan nama sendiri. Ini penting, karena banyak orang tersesat bukan karena tidak punya nama, tapi karena terlalu yakin dengan nama yang ia bawa.
Di kampung kita, ada yang namanya “Bijaksana”, tapi kalau rapat, justru dia yang paling cepat emosi. Ada pula yang namanya “Setia”, tapi sinyalnya lebih sering hilang daripada komitmennya. Dari sini kita belajar: nama itu bisa jadi doa, tapi belum tentu jadi kenyataan.
Masalahnya, manusia sering salah paham. Dikiranya begitu diberi nama bagus, otomatis hidupnya ikut bagus. Padahal nama itu seperti proposal, harus diperjuangkan, bukan cuma dipajang.
Kita ambil contoh sederhana. Nama “Hamzah Tun” terdengar seperti sudah selesai urusannya: gagah, terhormat, berwibawa. Tapi kalau yang punya nama malah suka parkir sembarangan dan motong antrean, ya “Tun”-nya jadi terasa seperti typo dalam hidupnya.
Orang barat mungkin benar ketika bilang nama itu tidak terlalu penting. Tapi mereka lupa, di sini nama bisa jadi bahan rapat keluarga, bahan gosip tetangga, bahkan bahan evaluasi hidup. Salah sedikit, nama bisa berubah fungsi: dari doa jadi sindiran.
Kaum sufi punya cara pandang yang lebih “nendang”. Mereka tidak berhenti di nama, tapi masuk ke makna. Karena mereka tahu, nama itu seperti cermin. Masalahnya, banyak orang lebih sibuk membersihkan wajah orang lain, tapi lupa bercermin.
Di sinilah lucunya hidup kita. Kita ingin dipanggil sesuai nama, tapi tidak selalu mau hidup sesuai makna. Maunya dipanggil “adil”, tapi keputusan sering berat sebelah. Maunya disebut “amanah”, tapi titipan saja kadang hilang arah.
Padahal, kalau jujur sedikit saja, kita akan sadar: nama itu bukan jaminan, tapi tantangan. Ia seperti undangan resmi dari Tuhan: “Ini loh versi terbaikmu, silakan dikejar kalau berani.”
Dan biasanya, yang paling sulit bukan memahami nama orang lain, tapi mengakui bahwa kita sendiri belum sampai pada arti nama kita. Ini seperti punya peta harta karun, tapi malas berjalan.
Jadi, daripada terlalu bangga dengan nama, lebih baik mulai berdamai dengan maknanya. Pelan-pelan saja. Tidak perlu langsung jadi “Tun” dalam sehari. Yang penting, jangan sampai nama kita lebih mulia daripada perilaku kita.
Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukan “siapa namamu?”, tapi “sudah sejauh mana kamu hidup sesuai namamu?”
Bersambung ke bagian 13…
(Mendale, Mei 7, 2026)





