Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, MA*
Dalam surat An-Nisa’ ayat 79 dikatakan bahwa berdasarkan kesaksian dari Allah SWT “Apa-apa yang sifatnya kebaikan itu datangnya dari Allah dan kejahatan serta kerusakan itu datangnya dari manusia”.
Makna ayat ini memberi pemahaman kepada kita bahwa Allah memberikan dan berkehendak terhadap kebaikan-kebaikan. Karena itu harapan Allah semua manusia itu tanpa kecuali melakukan kebaikan-kebaikan dalam bentuk apapun, baik kebaikan untuk diri sendiri, kebaikan untuk orang lain, serta kebaikan untuk alam sekitar.
Allah tidak menghendaki keburukan-keburukan atau kejahatan-kejahatan. Namun apabila manusia mengerjakan keburukan dan kejahatan maka Allah lepas tangan dari hal tersebut sehingga Dia mengatakan bahwa kejahatan itu sebenarnya berasal dari manusia itu sendiri.
Jadi bila ada yang mengatakan, kebaikan yang ada pada diri kita dan kejahatan yang ada pada diri kita merupakan takdir atau ketentuan yang datangnya dari Allah, maka hal ini masih memerlukan kajian yang sangat mendalam karena seperti yang disebutkan dalam ayat di atas tegas bahwa semua kebaikan datangnya dari Allah sedangkan semua kejahatan berasal dari manusia itu sendiri.
Di sisi lain kita bisa melihat bagaimana Allah SWT melimpahkan kewenangannya kepada malaikat Allah. Malaikat Allah yang wajib kita ketahui ada 10 yang mempunyai tugas yang berbeda-beda.
Di antara malaikat-malaikat tersebut malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu kepada Rasulullah. Sebagian lagi mengatakan bahwa tugas malaikat Jibril bukan hanya itu tetapi juga meniupkan ruh ke dalam tubuh manusia ketika berada dalam kandungan.
Malaikat Mikail bertugas membagi-bagikan rezeki kepada seluruh makhluk yang ada di alam ini, bukan hanya manusia tetapi semua makhluk yang hidup di alam ini sebagaimana difirmankan oleh Allah bahwa setiap yang melata di bumi ini maka rezekinya dari Allah SWT.
Tugas lain lagi dari malaikat Mikail adalah menurunkan hujan sehingga bisa kita katakan bahwa fungsi malaikat Mikail adalah sangat ditunggu-tunggu oleh manusia atau makhluk-makhluk yang lainnya.
Selanjutnya adalah malaikat Israfil yang diberi tugas oleh Allah adalah meniup terompet sangkakala sebagai pertanda datangnya hari kiamat yang merupakan hari akhir dari proses atau tempat beramalnya manusia, karena ketika telah datangnya hari akhir maka semua amalan manusia tidak lagi bermanfaat untuk diri manusia itu sendiri, untuk orang-orang lain, serta untuk alam sekitar.
Sedangkan malaikat Izrail bertugas mencabut nyawa dari semua makhluk yang hidup di bumi ini. Kemudian malaikat Munkar wa Nakir adalah dua malaikat yang bertugas menanyakan amal manusia atau mempertegas atau memperjelas catatan-catatan amal manusia ketika hidup di dunia.
Pertanyaan malaikat Munkar wa Nakir ini berdasarkan data atau catatan malaikat Raqib dan Atid, di mana mereka bertugas mencatat sedetail-detailnya amalan manusia baik itu amalan baik atau amalan jahat.
Terakhir adalah malaikat Malik dan Ridwan. Kedua malaikat ini bertugas menjaga surga dan neraka yang merupakan tempat akhir dari semua pertanggungjawaban amal manusia.
Mereka yang beramal baik di dunia maka ditempatkan di dalam surga dan mereka yang beramal jahat maka ditempatkan di dalam neraka.
Demikianlah tugas-tugas malaikat yang sudah kita pelajari baik melalui Alquran, hadis Nabi SAW, serta berdasarkan kajian-kajian dari para sahabat, tabi’in, dan para ilmuwan.
Dari tugas-tugas malaikat ini kita bisa memahami bahwasanya tidak ada satu tugas pun yang dilimpahkan oleh Allah kepada malaikat berupa tugas-tugas yang merusak alam yang berakibat pada kerugian manusia.
Karena itu dapat kita pahami bahwa Allah memberikan kebaikan-kebaikan kepada manusia, memberikan petunjuk-petunjuk untuk dilakukan selama kehidupan di dunia ini dapat kita temukan di dalam wahyu Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada rasul Muhammad SAW.
Kemudian Rasul mencontohkan dan mengajarkan kepada manusia supaya semua kita berbuat sesuai dengan petunjuk Allah dan berpedoman pada suri teladan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Turunnya hujan dari langit merupakan rahmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia untuk menumbuhkan biji-bijian, pohon-pohon, tanaman-tanaman yang semuanya bermanfaat untuk manusia.
Karena kalau tidak adanya hujan maka secara individu manusia akan sangat merasa kesusahan, demikian juga dengan semua makhluk lain yang ada di dunia.
Kalau tidak ada hujan maka mereka semua tidak dapat hidup dan tumbuh sebagaimana yang dikehendaki sehingga dapat dipastikan kebutuhan manusia tidak akan terpenuhi.
Yang menyebabkan turunnya hujan menjadi banjir, longsor, rusaknya fasilitas umum memberi arti bahwa apa yang mereka kerjakan bukanlah berdasarkan kehendak Allah, tetapi semua itu disebabkan karena perilaku manusia sehingga bisa dikatakan bahwa kerusakan-kerusakan yang ada di alam yang merugikan manusia itu berasal atau dikarenakan tindakan mereka sendiri.
Allah berfirman di dalam Alqur’an Surat Ar-Rum ayat 41 yang artinya adalah “Telah terjadi kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena ulah manusia”. Ini adalah sebuah pernyataan yang tegas dari Allah bahwa kerusakan yang ada di alam ini mutlak disebabkan oleh manusia.
Tapi masih banyak orang-orang yang beranggapan bahwa di samping kebaikan yang berasal dari Allah juga keburukan-keburukan datangnya dari Allah sehingga mereka tidak mau merubah tingkah laku mereka dan akhirnya kerusakan-kerusakan dan kejahatan-kejahatan tidak pernah berakhir dengan alasan semua yang dilakukan oleh manusia itu adalah didasarkan pada kehendak Allah.
Demikian juga dengan kejahatan-kejahatan yang sering terjadi di dalam masyarakat di mana Allah SWT telah menyebutkan di dalam Alqur’an bahwa banyak perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah, bahkan karena berbahayanya kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh manusia itu Allah menyebutkan hukuman yang tegas terhadap perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan oleh manusia.
Namun manusia tetap punya dalih bahwa kejahatan yang dilakukan disebabkan karena kebodohan dirinya, disebabkan karena khilaf, atau disebabkan karena alasan-alasan yang sebenarnya mereka sendiri secara logika tidak dapat mengatakan itu adalah sebuah kebenaran.
Karena itu kita harus meyakini bahwa apapun kerusakan, kejahatan, penyakit yang merugikan manusia itu semuanya berasal dari manusia itu sendiri, bukan berasal dari kehendak Allah.
Ini memerlukan renungan yang mendalam sehingga kita bisa merubah diri dari terbiasa berbuat jahat menjadi berbuat baik untuk diri sendiri, untuk orang lain, dan untuk alam sekitar kita. []





