Oleh : Fauzan Azima*
Di negeri yang gemar mengangkat manusia menjadi setengah dewa, kritik sering dianggap durhaka. Padahal, sejarah berkali-kali mengingatkan: pahlawan tetap manusia, dan manusia bisa salah—kadang tanpa sadar, kadang karena kuasa.
Masalahnya bukan pada kesalahan itu sendiri, melainkan pada sikap terhadapnya. Ketika seorang pahlawan mulai dikelilingi pujian tanpa jeda, ia perlahan kehilangan cermin. Yang tersisa hanyalah gema, bukan kebenaran.
Di ruang kekuasaan, kesalahan sering disamarkan menjadi kebijakan, dan kekeliruan dibungkus dengan narasi kepentingan rakyat. Para pengikut setia berdiri paling depan, bukan untuk mengingatkan, melainkan membenarkan.
Padahal, keberanian sejati bukan hanya berdiri di garis depan saat perang, tetapi juga berani mengakui saat langkah melenceng. Sebab sejarah tidak hanya mencatat kemenangan, tetapi juga bagaimana seseorang bertanggung jawab atas kekeliruannya.
Lebih berbahaya lagi adalah mereka yang menjadikan status “pahlawan” sebagai tameng. Kritik dianggap serangan, peringatan dianggap ancaman. Akibatnya, kesalahan kecil tumbuh menjadi bencana besar yang tak lagi bisa dikendalikan.
Wahai Haili Yoga, jika engkau ingin dikenang bukan hanya sebagai sosok yang pernah berjasa, tetapi juga bijaksana, maka jangan takut pada suara yang berbeda. Sebab di sanalah sering bersembunyi kebenaran yang menyelamatkan.
Ingatlah, pahlawan yang besar bukan yang tak pernah salah, tetapi yang tahu kapan harus berhenti, mendengar, dan memperbaiki. Karena pada akhirnya, manusia tidak diukur dari kesempurnaannya, melainkan dari kejujurannya menghadapi kesalahan.
Bersambung ke pasal 29…
(Mendale, April 8, 2026)
Terkait : Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 27: Tinggalkan Kebiasaan Lama, Sebelum Jadi Mesin Penghancur Dirimu







