Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 27: Tinggalkan Kebiasaan Lama, Sebelum Jadi Mesin Penghancur Dirimu

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Dalam pusaran kekuasaan, kebiasaan lama sering tampil sebagai sahabat setia. Ia memberi rasa aman, meski diam-diam menggerogoti kewarasan keputusan. Banyak pemimpin terjebak, mengulang pola usang yang tak lagi relevan dengan tantangan zaman hari ini

Kebiasaan lama bukan sekadar rutinitas, melainkan cara berpikir yang membeku. Ia membuat pemimpin enggan mendengar kritik, alergi terhadap perubahan, dan lebih nyaman dikelilingi pujian palsu daripada kebenaran yang menyakitkan namun menyelamatkan masa depan bersama

Ironisnya, kebiasaan itu sering dibungkus pengalaman. Seolah lama menjabat berarti selalu benar. Padahal, waktu tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Tanpa refleksi, pengalaman hanya menjadi tumpukan kesalahan yang diulang dengan cara lebih percaya diri setiap hari

Di ruang pendopo, kebiasaan lama menjelma sistem tak tertulis. Loyalitas diukur dari kepatuhan, bukan keberanian bersuara. Mereka yang kritis disingkirkan perlahan, sementara yang patuh tanpa pikir diberi ruang, meski kualitasnya kerap dipertanyakan secara terbuka

Situasi ini menciptakan lingkaran setan. Keputusan diambil tanpa perspektif beragam, hanya gema dari suara yang sama. Akibatnya, kebijakan kehilangan ketajaman, jauh dari realitas, dan sering gagal menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berubah dengan cepat

Lebih berbahaya lagi, kebiasaan lama melahirkan pembenaran kolektif. Kesalahan dianggap wajar karena sudah biasa terjadi. Standar menurun tanpa disadari, hingga akhirnya mediokritas diterima sebagai norma yang sulit digugat oleh siapa pun di lingkungan kekuasaan

Pemimpin yang enggan berubah sesungguhnya sedang menyiapkan kehancurannya sendiri. Bukan karena musuh di luar, melainkan karena ketidakmampuan membongkar kebiasaan internal yang rapuh. Mesin penghancur itu bekerja pelan, tetapi pasti dan sulit dihentikan kemudian hari

Maka, keberanian meninggalkan kebiasaan lama menjadi ujian kepemimpinan sejati. Ini bukan soal pencitraan, melainkan transformasi cara berpikir. Mendengar kritik, membuka ruang dialog, dan memberi tempat bagi gagasan segar adalah langkah mendesak saat ini

Perubahan memang menuntut risiko. Akan ada ketidaknyamanan, bahkan perlawanan dari lingkaran lama. Namun tanpa itu, stagnasi akan terus menggerus kepercayaan publik. Kepemimpinan bukan tentang mempertahankan kenyamanan, tetapi menghadirkan perbaikan nyata bagi masyarakat luas

Pada akhirnya, sejarah mencatat bukan siapa yang paling lama bertahan, tetapi siapa yang berani berubah. Tinggalkan kebiasaan lama sekarang, sebelum ia menjelma mesin penghancur. Jika tidak, waktu akan menggantikanmu tanpa kompromi dan tanpa rasa penyesalan sedikit pun.

Bersambung ke pasal 28…

(Mendale, April 8, 2026)

Terkait : Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 26: Pertobatan Dimulai dari Perempuan

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.