Oleh : Fauzan Azima*
Konon, dalam sejarah yang tak tertulis di kitab mana pun, pertobatan seorang lelaki jarang dimulai dari ceramah panjang, apalagi dari baliho nasihat di pinggir jalan.
Ia justru sering dimulai dari satu kalimat sederhana seorang perempuan: ”Abang berubah, atau saya yang berubah arah.” Di titik itu, iman mendadak terasa lebih dekat daripada biasanya.
Lelaki, sebagaimana kita tahu, adalah makhluk yang bisa menunda banyak hal: mandi, janji, bahkan tobat. Tapi ketika perempuan mulai diam, nah, itu bukan lagi penundaan, itu tanda bahaya.
Karena diamnya perempuan bukan kosong, melainkan penuh dengan evaluasi, kalkulasi, dan kadang… rencana evakuasi.
Di banyak kisah, lelaki baru rajin ke masjid bukan karena azan yang lebih merdu, tetapi karena tatapan yang mulai sayu di rumah.
Ia tiba-tiba hafal jadwal salat, bukan karena pencerahan ilahi semata, melainkan karena takut kehilangan yang selama ini dianggap pasti. Tobat pun jadi terasa lebih praktis daripada penyesalan.
Perempuan, dalam hal ini, bukan sekadar pasangan. Ia adalah cermin yang jujur, bahkan kadang terlalu jujur. Ia bisa menunjukkan wajah asli seorang lelaki tanpa perlu filter. Dan anehnya, lelaki lebih takut pada kejujuran itu daripada pada ceramah yang berapi-api.
Ada pula lelaki yang baru berhenti dari kebiasaan buruknya setelah mendengar satu kalimat pamungkas: ”Saya capek jadi alasan kamu tetap seperti ini.”
Kalimat itu tidak panjang, tidak puitis, tapi dampaknya bisa mengalahkan seribu khutbah Jumat. Di situlah pertobatan mulai menemukan pintunya.
Namun jangan salah, Ini bukan berarti perempuan selalu benar. Kadang mereka juga salah… tapi dengan cara yang lebih elegan. Setidaknya, ketika mereka menegur, mereka tidak membawa toa. Cukup satu tatapan, dan lelaki yang keras kepala bisa mendadak lembut seperti kerupuk kena kuah.
Dalam banyak rumah tangga, perempuan adalah alarm yang tidak pernah mati. Ia mengingatkan tanpa jadwal, menegur tanpa undangan, dan peduli tanpa pamrih.
Sementara lelaki seringkali baru sadar setelah semua itu hampir hilang. Maka tobat pun datang, bukan sebagai kesadaran awal, melainkan sebagai upaya penyelamatan terakhir.
Jadi, kalau hari ini ada lelaki yang tiba-tiba rajin, santun, dan penuh pertimbangan, jangan buru-buru memujinya sebagai manusia baru. Bisa jadi, di belakangnya ada seorang perempuan yang sudah lebih dulu lelah, lalu memilih berhenti berbicara. Dan di situlah, pertobatan benar-benar dimulai.
Karena pada akhirnya, yang paling ditakuti lelaki bukanlah hukuman, melainkan kehilangan. Dan seringkali, perempuanlah yang pertama kali mengajarkan arti kehilangan itu, dengan cara yang halus, tapi menghantam tepat ke dalam hati.
Wallahualam.
Bersambung ke pasal 27…
(Mendale, April 8, 2026)
Terkait : Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 25: Konspirasi Terbunuhnya Gempulo (Saudara Lahir Muyang Perupi)?






