Stop Siksa Orang Tua Dengan Kerinduan

oleh

Oleh : Sahri Ramadhan*

Kasih sayang orang tua sepanjang hayat bukanlah pribahasa semata melainkan nyata adanya, setiap anak dilahirkan lalu dibesarkan serta di didik supaya mandiri, dengan harapan ketika dia dewasa mampu meniti kehidupan dengan tidak bergantung kepada kehidupan orang lain.

Berbagai macam usaha dilakukan oleh orang tua untuk menjadikan anak supaya mandiri, diantaranya diberikan pendidikan keterampilan diajarkan cara berdagang, bertani dan lain sebagainya. Dengan tujuan supaya anak menjadi mandiri.

Setelah dewasa sudah menjadi kodrat manusia dia akan mencari pasangan hidup masing-masing untuk meneruskan keturunannya, dimasyarakat secara umum ketika anak hendak menikah, orang tua pasti bersedih dan merasa akan kehilangan anak yang dikasihinya.

Karena dimata orang tua seorang anak tetaplah anak kecil meskipun dia telah dewasa, itu salah satu kuasa Allah yang menjadikan kasih sayang orang tua kepada anak sepanjang hidupnya.

Seorang anak ketika telah menikah tentu akan merintis usaha untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga barunya dia akan banyak belajar sehingga menguras waktu, tenaga dan terpisah jarak.

Seperti pepatah dalam bahasa Gayo “nyanya mungenaken temas, sempit mungenaken lapang” maknanya setiap orang apabila ekonominya sulit menginginkan ekonomi mapan, apabila hidup sesorang sempit pasti menginginkan kelapangan/rizki yang cukup.

Caranya dengan Bedagang (Merantau untuk mencari nafkah atau merantau mencari ilmu). Kesibukan dalam mencari nafkan untuk keluarga bagi sorang suami dan mendampingi suami kemanapun bagi seorang istri terkadang menjadi alasan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk sekedar mengunjungi orang tua.

Kesibukan untuk mengharapkan kesejahteraan hidup dan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan menjadikan seseorang lupa akan tanggung jawab untuk mengunjungi serta berbakti kepada orang tua, tentu ini berseberangan dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Sebagaimana di riwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud. ra, beliau mengatakan: Aku bertanya pada Rasulullah SAW, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya’. Lalu aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.’ Lalu aku mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Berjihad di jalan Allah’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadist diatas menunjukkan betapa pentingnya menyenangkan hati orang tua, ketika seorang anak mampu menyenangkan hati orang tua terutama ibu merupakan bahagian dari berbakti kepada orang tua.

Kebanyakan orang tua di masa senjanya menginginkan kedekatan dengan anak dan cucu-cucunya, ketika jarak memisahkan antara anak dan orang tua membuat hati orang tua bersedih apalagi seorang anak tidak menyediakan waktu untuk menyambanginya dalam waktu luangnya, bahkan untuk sekedar menelpon saja tidak sempat, padahal saat ini sudah ada telpon pintar (smart phone) yang bisa mengobati rindu melalui panggilan video (video call).

Didalam sejarah, pentingnya menyenangkan hati orang tua terjadi pada zaman baginda Rasulullah, tertulis sebuah kisah seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni yang tidak terkenal, miskin, dan memiliki penyakit kulit.

Tidak ada orang yang mengenalnya bahkan namanyapun tidak pernah dikenal, ia merupakan pemuda yang pernah disebut oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang sangat dicintai oleh Allah serta terkenal di langit. Allah cinta kepadanya karena ia patuh dan menghormati ibunya yang sakit lumpuh.

Kemudian pada suatu kesempatan, sang ibu meminta Uwais untuk mengantarkannya pergi haji. Uwais tidak mau menolak walaupun mereka merupakan keluarga yang miskin, dengan sekuat tenaga ia menggendong ibunya yang lumpuh itu untuk berziarah ke Baitullah.

Meski belum pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW, beliu seperti sudah mengenal betul Uwais Al-Qarni. Ia memuji Uwais dengan mengatakan kepada para Sahabat pada waktu itu, Rasulullah bersabda “Suatu ketika, jika kalian bertemu dengan dia, mintalah dia agar berdoa dan beristigfar (meminta kepada dia agar memohon ampunan Allah bagi kalian). Dia adalah penghuni langit, bukan (sekadar) orang bumi.” (HR. Ahmad).

Karena bakti yang tulus dan ikhlas kepada ibundanya, membuat nama Uwais Al-Qarni terkenal di langit, meski di bumi ia bukan siapa-siapa.

Kasih sayang orang tua bisa dirasakan ketika kita memiliki anak, bagaimana rasa cinta dan sayang kita kepada anak begitulah sayangnya orang tua kepada anak. Bahkan ketika anak telah dewasa dan memiliki keluarga sendiri.

Orang tua memiliki kedudukan yang istimewa didalam kehidupan seseorang bahkan bisa dikatakan sebagai keramat hidup untuk anak sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. “Siapa yang suka untuk dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki, maka berbaktilah pada orang tua dan sambunglah tali silaturahmi (dengan kerabat).” (HR. Ahmad).

Pertanyaanya apakah kita saat ini menyiksa orang tua kita dengan kerinduan? Tentu saja jawabanya ada pada diri kita masing-masing, terlebih disaat pandemi covid-19 melanda setiap negara didunia saat ini, pemerintah mengeluarkan aturan pelarangan mudik atau perjalanan ke luar daerah tentu bukan tanpa alasan pemerintah ingin menekan penyebaran virus covid-19 tersebut supaya tidak menyebar ke setiap daerah.

Keinginan untuk bersilaturrahmi dengan orang tua sangat tinggi apalagi para perantau yang mungkin sudah bertahun-tahun tidak bisa mengunjungi orang tua di kampung halaman, namun harus diganti untuk sementara dengan menelpon atau melalui panggilan vidio (vidio call). Yang penting bisa sedikit mengobati kerinduan orang tua.

Sebagai seorang muslim dalam keadaan seperti ini tentu do’a orang tua selalu kita harapkan supaya meminta kepada Allah agar Pandemi Covid-19 ini segera berakhir, semoga Allah SWT mengabulkan doa orang tua kita, karena Rasulullah SAW pernah bersabda didalam hadist.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian (safar), dan doa baik orangtua kepada anaknya.” (HR. Ibnu Majah)

*Penghulu Muda Kecamatan Bukit

Comments

comments